Bu Risma, Anda Itu Mensos Indonesia Bukan Petugas Dinas Sosial DKI Jakarta!



TintaSiyasi.com-- Sangat menarik adegan yang dipertontonkan oleh Mensos (Menteri Sosial) baru, Tri Rismaharini. Setelah beberapa hari dilantik menjadi menteri sang Mensos langsung tancap gas blusukan di Jakarta dengan gayanya sendiri. 

Blusukan yang seharusnya dilakukan di kawasan kumuh, gang-gang sempit padat penduduk, oleh Risma blusukan dilakukan di kawasan elit di jalan utama Jakarta Sudirman-Thamrin. 

Anehnya, seperti sudah mengetahui langkah Bu Risma, kawasan elit yang tadinya bersih dari tuna wisma mendadak ramai tuna wisma, yang entah dibawa oleh angin apa.

Dalam suatu wawancara dengan “tuna wisma” yang berhasil ditemui di Jalan Sudriman-Thamrin Jakarta, sang Walikota Surabaya menyatakan "Bapak saya carikan rumah ya, nanti ada tempat biar Bapak bisa tidur nyaman ndak kehujanan, biar bisa makan. Bapak jangan pergi ya, nanti ada yang jemput Bapak. Nanti Bapak bisa cari uang normal, saya bantu ya," amboi, sejuk tenan

Namun publik jadi bertanya-tanya, apakah Bu Risma serius dengan ucapannya? Pasalnya, masyarakat Surabaya yang dipimpin selama hampir 10 tahun masih banyak yang tinggal di kolong jembatan. Menurut catatan BPS jumlah miskin Surabaya mencapai 11,09% lebih tinggi dibanding penduduk miskin nasional yang berjumlah 9,78 persen. Sedangkan jumlah penduduk miskin DKI 2020 “hanya” sebesar 4,53%. Dari angka ini saja nampak bahwa kinerja Bu Risma tidaklah handal dalam menekan angka kemiskinan.

Maka mudah publik menilai bahwa blusukan di jalan Sudirman Thamrin tidak ada yang lain selain politik pencitraan.Target opini yang hendak dibangun jika di Jalan Utama saja banyak tina wismanya tentu lebih banyak lagi gang sempit padat penduduk. Maka Jakarta harus dibenahi, dan yang bisa membenahi adalah Risma. 

Terbukti upaya membangun opini itu gatot alias gagal total. Melalui medsos publik menjadikan blusukan Bu Risma sebagai ajang lucu-lucuan, berbagai reaksi negatif menerjang bu Risma. Kemampuan Risma sebagai pejabat Negara pun diragukan. Bagaimana mungkin seorang menteri bertindak layaknya petugas dinas sosial.

Ini adalah pelajaran untuk Bu Risma juga seluruh pejabat, pelajarilah dulu tupoksi masing-masing, sebelum bekerja. Jangan karena namanya kabinet kerja, jadi mengerjakan sesuatu yang di luar kewenangan, jadinya acak kadut, masalah tidak terselesaikan. Sangat jamak terjadi over lapping pekerjaan menteri-menteri dalam Kabinet Jokowi.

Kembali ke Bu Risma, ketahuilah sebagai Mensos banyak daerah lain yang mengalami kemiskinan parah semisalnya Papua, Papua Barat, NTT, Maluku atau Gorontalo yang merupakan 5 besar provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia. Tak perlu blusukan ke sana, karena tugas menteri bukan blusukan, tapi cukup arahkan kebijakan yang sampai ke mereka sehingga kehidupan mereka terangkat. 

Terakhir jika ucapan ke tunawisma di jalan Sudirman Thamrin itu serius, bu Risma bisa umumkan ditelevisi kalimat yang sama “Bapak saya carikan rumah ya, nanti ada tempat biar Bapak bisa tidur nyaman ndak kehujanan, biar bisa makan. Bapak jangan pergi ya, nanti ada yang jemput Bapak. Nanti Bapak bisa cari uang normal, saya bantu ya". Ingat, ini berlaku untuk seluruh masyarakat miskin Indonesia.

Nah, jangan lupa direalisasikan! Pastinya, masyarakat miskin seluruh Indonesia senang dengan Mensos baru setelah sebelumnya sangat terluka akibat Mensos mengkorupsi Bansos. Bravo!

Oleh: Dr. Erwin Permana

Posting Komentar

0 Komentar