Blusukan Berujung Pelaporan

Istilah blusukan dipopularkan oleh Jokowi pada awal kemunculannya diranah politik Solo dan DKI beberapa tahun yang lalu. Blusukan dinilai salah satu gaya kepemimpinan yang pro rakyat karena dianggap tidak ada jarak antara pemimpin dan masyarakatnya dalam berinteraksi. Blusukan juga dianggap sebagai upaya pemimpin untuk mengetahui yang sebenarnya kondisi dan keadaan masyarakat serta problem yang ada di dalam masyarakat. Lalu bagaimana jika kegiatan blusukan yang dilakukan ternyata hanya setingan yang telah direncanakan atau bahkan direkayasa sedemikian rupa? Tidakkah ini merupakan tindakan kebohongan besar dan termasuk kezoliman luar biasa?

Hal ini yang sedang menimpa Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Risma yang dikabarkan telah dilaporkan ke Kepolisian Daerah Metro Jaya karena diduga menyebarkan kebohongan melalui aksi blusukan terhadap gelandangan di Sudirman dan Thamrin (Jakarta Pusat). Oleh Wakil Ketua Umum Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah, yakni Tjetjep Muhammad Yasin atau biasa dipanggil Gus Yasin. Pada hari senin tanggal 11 Januari 2021. Risma dilaporkan dengan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Selain itu, Risma juga dijerat dengan Pasal 28 dan Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Tempo,12/01/2021).

Benar tidaknya kebohongan yang dilakukan oleh Risma tentu perlu penyelidikan lebih lanjut. Jika terbukti benar, maka akan timbul pertanyaan baru apa motif adanya drama rekayasa tersebut? Tentu masyarakat akan berspekulasi kuat bahwa kegiatan setingan blusukan terhadap gelandangan merupakan pencitraan belaka.

Bahkan hal ini akan menguatkan fakta bahwa kegiatan pencitraan pada sosok pemimpin dalam sistem pemerintahan sekuler-kapitalis-demokrasi telah menjadi ritual yang sudah biasa dilakukan. Sudah rahasia umum pada permainan politik demokrasi selalu ada upaya membangun citra baik pada sosok pemimpin yang minim prestasi.

Tokoh pemimpin seringkali  memanfaatkan kekuasaannya dengan menguasai dan memanfaatkan media, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membangun citra sebagai pemimpin ideal di mata rakyat padahal miskin kebijakan adil. Hal ini jika dibiarkan dan dianggap angin lalu tentu akan sangat berbahaya sebab akan menghasilkan dan melahirkan kepemimpinan penuh dusta. 

Dugaan kebohongan yang dilakukan Risma harus diusut secara tuntas dan adil dan tentu harus didukung penuh, sebab ini merupakan salah satu upaya kita dalam menghapus kezoliman. Seperti sabda Rasulullah yang mengajak kita untuk selalu melawan kebatilan dengan menjauhi dan menolak pemimpin-pemimpin dusta lagi zalim. 

Dari Ka’ab bin Ujrah rahiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ‘Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku’.” (HR Ahmad No: 17424).

Saat ini Indonesia sedang menghadapi berbagi problematika baik bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya yang tak kunjung usai, sosok pemimpin dengan citra yang baik memang harus dimiliki bangsa kita saat ini, namun bukan citra baik hasil “polesan” yang sengaja dibangun dengan kebohongan, melainkan citra baik yang diperoleh dari buah dari hasil kerja ikhlas dan tegas karena Allah semata. Kita membutuhkan sosok pemimpin sejati yang ikhlas menjalankan tanggung jawabnya, yang hanya akan menyelesaikan dan memutuskan perkara semata untuk mendapat kan ridha dari  Allah SWT. Sosok pemimpin yang ikhlas tidak akan pernah lahir dari sistem demokrasi liberal seperti saat ini, melainkan hanya akan hadir dan lahir pada sistem paripurna dari Sang Maha Kuasa.[]

Oleh: Khaiz Qarawiyyin
(Akademisi)

Posting Komentar

0 Komentar