Bisakah Kebiri Mengakhiri Pedofilia?


Kebiri kimia sedang hangat diberitakan di media massa setelah Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. PP itu tertuang dalam Nomor 70 Tahun 2020 yang ditetapkan Jokowi per 7 Desember 2020. (Viva, 3/01/21)

Dikutip dari JDIH laman Setneg, Minggu, 3 Januari 2021, PP tersebut memuat tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Tujuan aturan diteken karena menimbang untuk menekan dan mengatasi kekerasan seksual terhadap anak. Selain itu, juga sebagai efek jera terhadap predator seksual anak.

Penetapan undang-undang ini menuai kontroversi salah satunya dari para dokter yang akan melakukan tindakan ini. Karena melakukan pengebirian melanggar kode etik kedokteran. Selain itu banyak efek samping dari diberlakukannya pengebirian sebagaimana dikutip dari Tirto.id, (5/1/2021). 

Selanjutnya dalam jurnal Tirto.id itu dipaparkan tentang sebuah studi bahwa kebiri, baik kimia maupun fisik mampu mengurangi minat seksual, kinerja seksual, dan pelanggaran seksual. Hal ini karena obat kimia yang digunakan mengganggu produksi hormon testosteron pelaku. Testosteron adalah hormon utama yang terkait dengan libido dan fungsi seksual.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pelaku kekerasan seksual memiliki tingkat androgen yang lebih tinggi daripada kelompok pembanding. Selain itu kadar androgen berkorelasi positif dengan kekerasan sebelumnya dan tingkat keparahan agresi seksual.

Efek samping dari distraksi hormon tersebut dapat berpengaruh pada fisik dan psikis pelaku. Obat-obatan kimia seperti medroxyprogesterone acetate dan cyproterone acetate tidak hanya berpengaruh pada testosteron tetapi juga pada estrogen. Bahkan pada pria, estrogen memiliki peran fisiologis penting yakni berkaitan dengan pertumbuhan kerangka dan pematangan tulang, fungsi otak dan biologi kardiovaskular. Selain itu, pelaku juga dapat mengalami depresi, hot flashes, infertilitas dan anemia. Serangkaian efek samping akan terus memburuk seiring dengan pemberian obat kimia dalam jangka panjang.

Dengan demikian maka melakukan kebiri menurut dokter syaraf Roslan Yusni Hasan berarti telah merubah fisik manusia yang tadinya normal menjadi tidak normal. Dan ini akan memicu persoalan baru, karena ada efek samping yang lebih berbahaya yaitu kondisi yang menyebabkan orang yang dikebiri mengalami depresi panjang dan akan membuat orang yang dikebiri menjadi bertambah liar dan tak terkendali karena tidak tersalurkan naluri seksualnya.

Dengan efek samping yang sedemikian rupa, mampukah kebiri mengakhiri perilaku Pedofilia? Seperti kita ketahui bersama, perilaku pedofilia semakin marak akhir-akhir ini, dan membawa kepada masalah sosial yang meresahkan masyarakat dan ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap anak-anak di Indonesia.
 
Kita sepakati bersama bahwa pelaku pedofilia harus diberikan sanksi yang seberat-beratnya. Hanya saja untuk menyelesaikan masalah ini kita harus memahami bahwa solusi akan menjadi solutif apabila manusia mampu melihat masalah dari akar masalah utama, bukan dari hasil perbuatan saja agar permasalahan pedofilia ini bisa diselesaikan secara tuntas.

Akar Masalah Sesungguhnya

Penyebab terjadinya Pedofilia (penyuka seks anak) sesungguhnya berasal dari sistem yang terapkan hari ini yaitu sistem demokrasi sekularisme yang membuka peluang bagi manusia untuk berperilaku bebas tanpa aturan, layaknya binatang.
 
Perilaku Pedofilia ini tidak serta merta ada begitu saja tapi ada pemicunya. Kebebasan berekpresi dan bertingkahlaku yang dilindungi dalam sistem ini memberi peluang bagi para pencinta seks berkembang begitu pesat. Kelainan jiwa yang diidap para fedofilia ini juga dipicu dari banyaknya konten-konten porno yang beredar di media baik elektronik maupun cetak. Apalagi saat ini konten-konten porno begitu mudah diakses lewat handphone tanpa diminta.

Hal ini diperparah dengan dibukanya pintu pariwisata sehingga membuka budaya asing masuk dengan bebas ke Indonesia hingga menimbulkan masalah sosial seperti pariwisata seks anak di Jakarta Barat, Garut, lombok dan Nias.

Dengan fakta seperti digambarkan diatas, apakah bisa berharap pada sistem Kapitalisme Demokrasi untuk menyelesaikan Pedofilia? Padahal paradigma sanksi dalam sistem ini, masyarakat tidak di-”setting” untuk melakukan pencegahan terhadap tindak kejahatan. Hukum hanya berposisi sebagai sanksi moral dan terlepas sama sekali dengan pertanggung jawaban di akhirat, hari penghisaban dengan sanksi yang jauh lebih pedih tatkala luput dari hukuman di dunia.

Paradigma hukum yang seperti ini tidak pernah ada dalam sistem kapitalisme demokrasi, karena sejatinya hukum ini tegak diatas landasan sekularisme, yaitu pemisahan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Paradigma Hukum di Dalam Sistem Islam

Dalam pandangan Islam, kejahatan atau kriminal tidak menempel secara fitri dalam diri manusia, bukan pula semacam penyakit yang menimpa manusia. Kejahatan merupakan sebuah pelanggaran terhadap hukum Allah Swt yang terangkum di dalam syari’at.

Demikian pula dengan kejahatan pedofilia ini, untuk menyelesaikan kasus ini Islam memilik seperangkat hukum yang tegas dan mengandung efek jera.

Kasus pemerkosaan yang terjadi pada anak sebenarnya bisa diambil dari hukum asalnya, yakni perzinaan atau homoseksual. Jika pedofilia masuk dalam kategori perzinaan, maka hukumannya cambuk 100 kali atau rajam (bunuh). Jika pelaku pedofilia tergolong liwat (homoseksual), ia dihukum mati. Jika sebatas pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai melakukan zina atau homoseksual, hukumannya takzir.

Seperti itulah Islam mengatasi pedofilia sehingga akan membuat jera para pelaku kejahatan, dan mencegah masyarakat untuk melakukan tindakan kriminal yang serupa. Allah Swt berfirman: “Dan dalam qishosh itu ada (jaminan keberlangsungan hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal supaya kalian bertaqwa." (Qs. Al Baqoroh 179)

Adapun hukuman kebiri dalam Islam diharamkan, hal ini berdasarkan hadis Ibnu Mas'ud RA yang mengatakan, "Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi SAW sedang kami tidak bersama istri-istri. Lalu, kami bertanya kepada Nabi SAW, 'Bolehkah kami melakukan pengebirian?'. Maka Nabi SAW melarangnya." (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Selain itu, hukuman kebiri tidak dikenal dalam literatur hukum Islam. Kebiri dengan suntikan kimiawi juga berdampak berubahnya hormon testosteron menjadi hormon estrogen. Akibatnya, laki-laki yang mendapatkan hukuman ini akan berubah dan memiliki ciri-ciri fisik seperti perempuan. Syariat Islam jelas mengharamkan laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya. 

Sebagaimana sabda Nabi SAW dari Ibnu Abbas RA, "Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki." (HR Bukhari)

Jika laki-laki yang menyerupai wanita diharamkan, maka wasilah yang menjadikan keharaman ini terlaksana juga diharamkan. Kaidah fikih mengatakan, "Al-Wasilah ila al-haram muharromah" (Segala perantaraan menuju yang haram, hukumnya haram juga).

Begitulah Islam menjelaskan tentang hukum yang seharusnya dijatuhkan pada pelaku pedofilia dan Islam mengharamkan pengebirian. Dan pihak yang berhaq dan sah dalam menjatuhkan sanksi ini, tidak lain adalah negara yang menerapkan Islam dalam institusi politik Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu’alam Bishowab.[]

Oleh: Emmy Emmalya
(Pegiat Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar