Bencana Melanda, Ini Dosa Siapa?


Dosa siapa? Ini dosa siapa?
Salah siapa? Ini salah siapa?
Mestinya aku tak bertanya lagi

Dosa siapa? Ini dosa siapa?
Salah siapa? Ini salah siapa?
Jawabnya ada di relung hati ini

Meski tak nyambung lirik utuh lagu ini dengan apa yang terjadi dalam beberapa hari ini, kita layak merenung dan bertanya jujur dan jauh di lubuk hati. Bencana yang kita saksikan, begitu banyak dan datang silih berganti. Terdapat lima bencana besar yang terjadi di tanah air menjadi pembuka tahun 2021. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada 9 Januari 2020, disusul longsor Cimanggung, Sumedang yang hingga kini menelan puluhan korban jiwa. Tak lama kemudian, hanya berselang satu pekan kejadian gempa bumi berkekuatan M 6,2 juga menghantam Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, pada 15 Januari. BNPB merilis hingga Minggu, 17 Januari, 56 orang meninggal dunia.

Belum juga kering air mata, banjir bandang juga merendam Kalimantan Selatan. Berdasarkan info Basarnas dinyatakan 2.600 warga yang terdampak harus mengungsi. Teranyar, banjir dan longsor juga terjadi di Kota Manado, 6 orang meninggal dunia dan 500 lebih warga yang terdampak mengungsi (news.detik.com, 17/01/2021).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat sebanyak 136 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang 1-16 Januari 2021. Dari sekian banyak bencana alam itu, sudah merenggut 80 korban jiwa dan 858 orang luka-luka.

Bencana alam terbanyak yang terjadi adalah banjir sebanyak 95 kejadian, tanah longsor 25 kejadian, puting beliung 12 kejadian, gempa bumi 2 kejadian dan gelombang pasang 2 kejadian. Akibatnya, sebanyak 405.584 orang terdampak dan mengungsi. 

Kejadian bencana alam tersebut belum memasukkan data awan panas gunung Semeru yang belakangan terjadi. Sementara bencana alam besar yang baru-baru saja terjadi yakni gempa di Majene Sulawesi, dan banjir di Kalimantan Selatan (bisnis.tempo.co, 17/01/2021).

Belum lagi kalau kita tengok di beberapa daerah lainnya. Seperti duka yang menimpa di Purworejo sepekan ini.  Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Kabupaten Purworejo berada di urutan ke-18 dari 496 kabupaten/kota se-Indonesia dan nomor dua di Jateng setelah Cilacap yang memiliki kategori bencana alam risiko tinggi (purworejonews.com, 22/02/2020).

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sejak Senin malam, 11 Januari 2021, mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Bencana tersebut terjadi di sejumlah titik (news.detik.com, 15/01/2021). Menurut info Kepala Pelaksana Harian BPBD Purworejo, Sutrisno,  banjir terjadi di tiga titik, yakni Desa Bapangsari, Kecamatan Bagelen, Desa Jenar Wetan dan Desa Ketangi di Kecamatan Purwodadi (medcom.id, 12/01/2021). Berita lainnya seperti yang dilaporkan juga oleh Joe Hartoyo, terdapat dua rumah di Desa Tegalsari, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, roboh akibat tanah bergerak pada Jumat (15/1/2021). Sebuah bangunan mushala dan 11 rumah penduduk setempat juga terancam roboh (jateng.inews.id, 18/01/2021).

Kita berduka untuk semua bencana yang melanda. Kembali lagi kita patut bertanya. Apakah ini kebetulan hanya sebuah fenomena alam? Apakah ini berangkat dari sebuah kesalahan siapa yang kepadanya patut kita sematkan? 

Keduanya sangat memungkinkan. Tapi dalam kondisi seimbang, Allah telah mengatur segala yang di alam semesta ini dengan seimbang pula. Lebih sering justru kita lah yang mengganggu keseimbangan alam. Seperti budaya buang sampah sembarangan. Dan rendahnya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan hutan dan kurang perhatian terhadap tanah resapan. 

Entah itu pengrusakan lingkungan dengan penebangan lahan yang tidak segera diikuti dengan pohon yang ditanam. Ataukan faktor kerakusan terhadap kekayaan yang terkandung di alam, seperti proses penambangan. 

Simak saja tinjauan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) yang kemudian menegaskan bahwa banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya ekologi di tanah Borneo. 

Berdasarkan laporan tahun 2020 saja sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah. Dari total luas wilayah 3,7 juta hektar hampir 50 persen sudah dibebani izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit (suara.com, 15/01/2021).

Saat dikonfirmasi, Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, M. Jefri Raharja menegaskan banjir tahun ini lebih parah daripada tahun-tahun sebelumnya. Jefri mengatakan, curah hujan yang tinggi selama beberapa hari terakhir jelas berdampak dan menjadi penyebab banjir secara langsung. Kendati demikian, masifnya pembukaan lahan yang terjadi secara terus menerus juga turut andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan selama ini (kompas.com, 15/01/2021).

Bencana alam akibat kerusakan ekologis adalah buah busuk dari penerapan sistem paling buruk yang membuat setiap lini kehidupan terpuruk. Itulah buah dari pembangunan eksploitatif yang sekuler kapitalistik yang semakin hari semakin masif, semakin permisif bagi sebagian rakyat kelas eksekutif. 

Hal ini tidak boleh dibiarkan. Karena akibatnya akan semakin menambah kerusakan yang membahayakan kehidupan. Terkait hal ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman mengingatkan: 

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41)

Dan jalan yang benar itu hanyalah Islam. Sekaligus satu-satunya yang diridhoi Allah ya hanya Islam. Kita tahu bagaimana pandangan Islam dalam hal berinteraksi terhadap lingkungan. Dalam berinteraksi dan mengelola alam serta lingkungan hidup itu, manusia mengemban tiga amanat dari Allah. Pertama, al-intifa’. Allah mempersilahkan kepada umat manusia untuk mengambil manfaat dan mendayagunakan hasil alam dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kemaslahatan. Kedua, al-i’tibar. Manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan dan menggali rahasia di balik ciptaan Allah seraya dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan peristiwa alam. Ketiga, al-islah. Manusia diwajibkan untuk terus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan itu.

Selain itu, Islam juga membimbing kita dalam rangka mengelola sumber daya alam yang ada.  Bersamaan dengan menyerasikan pembangunan dengan karakter alam.  Sehingga pada saat kita mengambil manfaat dari alam, tidak terjadi hal yang membahayakan keseimbangan alam dan keberlangsungan kehidupan. 

Oleh karena itu, kemudian Islam menjadikan pengelolaan alam sepenuhnya dalam hal ini menjadi salah satu tanggungjawab negara untuk melakukan upaya preventif edukatif demi melindungi rakyat dari bencana. Negara seharusnya menerapkan regulasi yang tegas bagi orang yang telah menimbulkan kerusakan di tengah-tengah manusia. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَ رْضِ بَعْدَ اِصْلَا حِهَا

"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik." (QS. Al-A'raf: 56)

وَا للّٰهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

"Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Ma'idah: 64)

Terjawab sudah pertanyaanya, ini dosa siapa, adalah dosa-dosa kita. Ini salah salah siapa, adalah salah kita. Karena tidak mengindahkan peringatan dan arahan Islam dalam hal pengelolaan sumber daya alam. Maka, jangan salahkan hujan, karena hujan hanya menjalankan kehendak Rabb kita. WalLahu a’lam bi ash-shawwab.[]

Oleh: Qawlan Sadiidaan

Posting Komentar

0 Komentar