Bencana Datang Silih Berganti, Saatnya Muhasabah untuk Para Penguasa Negeri

Bencana demi bencana datang silih berganti. Bencana atau musibah yang terjadi di tengah-tengah kita akhir-akhir ini, terjadi dalam kejadian yang berbeda-beda dan di tempat yang berbeda. Mulai dari bencana wabah Covid-19 yang makin menyebar luas dan tak terkendali. Dan bentuk musibah yang lain, yakni kecelakaan yang berupa kecelakaan moda transportasi umum dari pesawat terbang komersial.

Ada pula musibah dalam bentuk musibah alam, baik itu lahar dingin dari gunung berapi, tanah longsor di sumedang baru baru ini, banjir di Kalimantan yang sedang terjadi saat ini dan gempa bumi yang baru saja terjadi di Sulawesi barat pada tgl 15 januari 2021 pukul 01:28:17 WIB (BMKG Indonesia). Dan bahkan dukacita yang mendalam juga baru saja dirasakan oleh sebagian besar kaum muslim atas berpulangnya seorang Ulama penjaga Alquran yaitu Syeikh Ali Jaber pada kamis, 14 januari 2021.

Dalam menghadapi musibah sikap yang perlu dilakukan oleh seorang muslim harusnya meliputi aspek keyakinan dan penanganan, yang meliputi ihtiar dan tawakal. Seorang mukmin di tuntut meyakini bahwasanya tidak satupun musibah yang menimpa umat manusia kecuali atas izin Allah. Tidak hanya itu saja seorang mukmin diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari musibah agar ia memperbaiki diri dan kembali taat kepada Allah SWT dengan cara bermuhasabah. 

Muhasabah semestinya sering di lakukan oleh para penguasa negri. Karena seringnya musibah terjadi menimpa umat di negeri ini. Sudah seharusnya kita berhitung apakah keadaan sekarang sudah sesuai dengan aturan Allah SWT? Ataukah justru merupakan akumulasi dari kemungkaran dan kemaksiatan diri dan umat? 

Pentingnya muhasabah, dimana Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk Hari Esok (Akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu atas apa yang kalian kerjakan." (QS. al-Hasyr: 18)

Keselamatan seorang Muslim di dunia dan akhirat salah satunya ditentukan seberapa sering dan mendalam muhasabah yang ia lakukan. Dengan muhasabah ia dapat mengukur apakah perbuatannya dilakukan ikhlas karena Allah SWT, ataukah karena mengharapkan apresiasi dan pujian dari manusia, atau agar ia mendapat dukungan dan keuntungan dan jabatan dari mereka. Seorang Mukmin yang mengharap surga-Nya akan berusaha sekuat tenaga meluruskan tujuan amalnya untuk merengkuh mardhatillah.

Melalui muhasabah, seorang penguasa juga dapat menilai apakah perbuatannya telah selaras dengan hukum-hukum Allah SWT, ataukah justru ia membuat hukum sendiri untuk menjustifikasi perbuatannya yang bakal mencelakakan dirinya kelak di akhirat. 

Ia menyangka telah bekerja keras di dunia untuk kebaikan, ternyata justru kesesatan yang selama ini ia kerjakan. Dengan bermuhasabah seorang muslim akan menyadari dosa-dosa diri sehingga memunculkan keinginan melakukan perbaikan dan bertobat kepada Allah SWT. Tanpa muhasabah, seorang hamba selalu merasa suci dan benar sehingga tak ada keinginan untuk bertobat. 

Dengan muhasabah akan memunculkan rasa takut kepada Allah SWT, sehingga mencegah diri dari sikap melalaikan hukum-hukum-Nya dan menelantarkan amanah. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. sering menangis pada malam hari karena memikirkan nasib rakyatnya dan takut akan hisab di hadapan Allah SWT kelak.

Kaum Muslim secara kolektif juga semestinya melakukan muhasabah total atas kondisi mereka. Setiap Muslim wajib melakukan introspeksi atas keadaan umat pada hari ini, yang telah mengabaikan hukum-hukum Allah SWT secara keseluruhan.

Semestinya hati pun merintih ketika sumber daya alam yang merupakan milik umat justru diserahkan kepada pihak asing. Jika kalbu merasa takut melalaikan shalat berjamaah, harusnya muncul ketakutan yang sama jika mendukung kezaliman, memusuhi syariah Islam dan memberangus orang-orang yang memperjuangkan Islam. 

Rasulullah saw. bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." (HR at-Tirmidzi). Wallahu'alam bi showab.[]

Oleh: Isty Ummu Aiman

Posting Komentar

0 Komentar