Bencana Berulang, Dimanakah Peran Negara?


"Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa."

Ini merupakan penggalan lagu berjudul "Ibu Pertiwi" ciptaan Kamsidi Samsudin. Lagu ini sering kita dengar di saat banyak terjadi bencana seperti saat ini. Lirik lagu di atas mewakili duka yang dialami ibu pertiwi saat ini. Silih berganti bencana datang menyapanya. Pandemi Covid-19 (bencana global) belum juga reda, bahkan semakin naik kasus positifnya tetapi kini harus berduka yang teramat sangat. 

Dilansir dari solopos.com (17/01/2021), tahun 2021 yang baru berjalan 17 hari. Telah banyak terjadi bencana yang menyisakan banyak dukungan. Berawal dari musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak yang jatuh pada 09/01/2021. Kemudian terjadi bencana silih berganti, tanah langsor yang terjadi di desa Cihanjuang kecamatan Cimanggung, Sumedang Jawa Barat (09/01/2021). Banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan (15/01/2021). Gempa Mamuju dan Majene Sulawesi Barat (14/01/2021). Gunung Semeru kabupaten Lumajang dan Malang Jawa Timur mengalami erupsi (16/01/2021). Gunung Merapi di Jawa Tengah (04/01/2021) memasuki fase erupsi. 

Bencana alam adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam. Sejak lama Indonesia dibayangi bencana alam setiap waktunya. Sehingga masyarakat pun seakan sudah akrab dengan bencana alam. Semua itu bukan tanpa sebab. Indonesia yang memiliki banyak keunggulan, letaknya yang berada di garis katulistiwa serta wilayahnya yang luas. Namun, di sisi lain Indonesia berada pada wilayah yang memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang rawan bencana dengan frekuensi cukup tinggi.

Bencana alam terjadi karena semata-mata kehendak Allah melalui fenomena alamnya. Bencana yang terjadi bisa jadi merupakan ujian atau teguran. Berupa ujian jika kita semua telah menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan serta menerapkan syariat Allah dalam segala aspek kehidupan. Sementara bisa berupa teguran Allah atas dicampakkannya syariat Allah. Digantikannya tatanan kehidupan Islam dengan tatanan kehidupan Kapitalisme. Kapitalisme yang menjadikan materi sebagai standar kehidupan serta kebebasan sebagai asasnya. Dengan asas kebebasan inilah, mereka para pemilik modal yang sejatinya penguasa melakukan eksploitasi tanpa batas serta pengalihan fungsi lahan. Sehingga menyebabkan perubahan tatanan kehidupan dan hukum alam. Di sisi lain penguasa abai akan hal ini. Sistem Kapitalisme telah mengakibatkan kesalahan pengelolaan dan pengolahan alam yang berpengaruh terjadinya bencana alam. Sebagaimana firman Allah dalam surat al Baqorah ayat 60 yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” 

Memang beberapa wilayah di Indonesia berada di wilayah rawan bencana. Bencana tidak bisa dielakkan dan dihindari. Bencana pun akan terjadi secara berulang setiap tahunnya. Setidaknya ada upaya penanggulangan sehingga ketika terjadi bencana siap dan sigap dalam menanganinya. Namun, pemerintah seakan abai dalam memegang amanah ini. Tidak serius melakukan penanggulangan bencana agar tidak terjadi di tahun berikutnya. Atau meminimalkan korban saat terjadi bencana. 

Hal ini berbeda jauh dengan negara Islam atau Daulah Khilafah Islamiyyah. Di dalam negara Islam mewajibkan setiap individu tertanam kuat aspek keyakinannya. Yakin bahwa setiap apa yang terjadi atas kehendak Allah. Disamping itu aspek penanganan bencana pun merupakan satu aspek yang harus diperhatikan. Islam telah menggariskan kebijakan komprehensif yang terhimpun dalam manajemen bencana. Manajemen bencana ini meliputi pra, ketika, dan sesudah terjadi bencana. Manajemen bencana berjalan berdasarkan akidah Islam dan pengaturannya berdasar syariat Islam dengan tujuan untuk kemaslahatan umat. 

Penanganan pra bencana ini adalah kegiatan yang ditujukan untuk mencegah dan menghindarkan penduduk dari bencana. Bisa berupa pembangunan sarana fisik untuk mencegah terjadinya bencana. Pembangunan mindset dan kepedulian masyarakat yang benar akan bencana dengan cara edukasi terus-menerus di daerah rawan bencana. Bahkan jika diperlukan mereka akan di relokasi. Disamping itu Khalifah membentuk tim SAR yang memiliki kemampuan teknis dan non teknis dalam menangani bencana. 

Adapun manajemen ketika terjadi bencana adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian material akibat bencana. Kegiatan ini antara lain evakuasi korban secepatnya. Pembukaan lokasi pengungsian, dapur umum, dan posko kesehatan. Membuka akses jalan dan komunikasi dengan para korban untuk memudahkan kerja para tim SAR. Keberhasilan manajemen ketika terjadi bencana ini sangatlah dipengaruhi dengan manajemen pra bencana. 

Sementara aspek yang ketiga adalah manajemen pasca bencana, yakni seluruh kegiatan yang ditujukan untuk; me-recovery korban bencana agar mendapatkan pelayanan yang baik selama berada dalam pengungsian dan memulihkan kondisi psikis; me-recovery lingkungan tempat tinggal mereka pasca bencana, agar bisa menjalankan kehidupan sehari-hari secara normal seperti sedia kala. Bahkan jika perlu adanya relokasi penduduk, maka dengan secepatnya dilakukan relokasi penduduk di tempat yang aman dengan menerjunkan tim ahli. 

Berbagai bencana datang silih berganti yang menimbulkan kerugian serta penderitaan bagi manusia. Sepantasnyalah kita menyakini bahwa semua itu atas kehendak Allah. Namun, masihkah negeri ini tidak peduli? Akankah tetap bertahan dengan egonya yang enggan mencampakkan kapitalisme sekularisme? Tidak sadarkah bahwa kebanyakan dari bencana yang datang adalah akibat dari kesalahan pengelolaan dan pengolahan alam ini yang didasarkan pada Kapitalisme? Dengan berbagai bencana yang datang ini, saatnya bagi kita instropeksi diri atas kelalaian akan penerapan hukum Allah. Kesalahan pengelolaan dan pengolahan alam  bermula dari tidak diterapkannya sistem manusiawi yang akan membawa rahmat bagi seluruh a'lam, yakni sistem Islam. Saatnya bencana yang silih berganti ini menjadi titik balik kita untuk menerapkan kembali syariat Islam di muka bumi ini. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Ninik Suhardani
(Aktivis Lereng Sindoro) 

Posting Komentar

0 Komentar