Banjir, Salahkah Hujan Turun?

Bencana banjir terjadi di Kalimantan Selatan pada Rabu, 13/01/2021. Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), sebanyak 13 kabupaten/kota terdampak. Akibatnya, 15 orang meninggal dan sekitar 112.709 orang mengungsi. Selain di Kalsel, banjir dan longsor terjadi di Manado, Sulawesi Utara (Sabtu, 16/01/21). Banjir juga terjadi di Kabupaten Lamongan dan Sidoarjo, Jawa Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, hingga Kota Cirebon, Jawa Barat. Banjir pun terjadi di kawasan Puncak Bogor pada Selasa, 19/01/2021. 

Berbagai bencana atau musibah tentu merupakan ketetapan atau qadha’ Allah SWT (QS. at-Taubah: 51). Aneka bencana yang terjadi menunjukkan betapa lemahnya manusia. Betapa manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT. Betapa tidak layak manusia bersikap membangkang terhadap ketentuan-Nya, bermaksiat serta berani mencampakkan petunjuk dan aturan-Nya. Allah SWT berfirman dalam QS al–Mulk ayat 16-17 yang artinya, “Apakah kalian merasa aman terhadap (hukuman) Allah yang (berkuasa) di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap (azab) Allah yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku”. 

Memang bencana itu datang karena kehendak Allah SWT. Tetapi kita perlu intropeksi dan berupaya untuk mengatasi banjir agar tidak terus terjadi. Sebenarnya banjir itu bukan fenomena alam yang tiba-tiba terjadi tetapi dampak dari debit air yang berasal dari air hujan, dan limpahan daerah hulu lebih besar daripada air yang meresap, menguap atau dibuang. Curah hujan hanya salah satu faktor penyebab banjir, namun faktor utama dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan. Degradasi lingkungan, di hulu dan hilir, juga di Daerah Aliran Sungai (DAS) berpengaruh besar atas terjadinya bencana banjir dan memperbesar skala dampaknya. Persoalan tutupan lahan hingga semakin berkurangnya efektivitas DAS juga menjadi faktor yang memperburuk musibah banjir. Akibatnya, ketika memasuki musim hujan, banjir tidak bisa dihindari.

Menurut analisis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tutupan lahan berupa hutan telah hilang di wilayah Kalimantan Selatan. Hal ini menyebabkan terjadinya banjir bandang akibat DAS Barito tidak mampu menampung air hujan, ketika hujan deras mengguyur wilayah Kalimantan Selatan selama 10 hari berturut-turut. Secara keseluruhan, jumlah lahan yang menyusut di wilayah tersebut mencapai 322.000 hektar. Disisi lain, perluasan area perkebunan terjadi cukup signifikan yaitu seluas 219.000 hektar (asiatoday.id, 18/1/2021). 

Sehingga dalam penanganan banjir perlu solusi tepat misal teknologi yang berguna mengendalikan peresapan dan pembuangan air. Teknologi penanganan banjir sangat banyak, contohnya peresapan dan pembuangan. Teknologi peresapan yang terbaik yaitu penghutanan dengan cara memperbanyak penanaman pohon-pohon di lahan kosong terutama di daerah hulu, bukan malah “Hutan Digunduli”. Kemudian pembuangan yaitu membuang kelebihan air yang terdapat di permukaan ke laut, jika debit air terlalu besar sehingga sungai tidak mampu menahan air, perlu teknologi yang mengatasi seperti pembuatan situ, kanalisasi, pompanisasi dan tanggul. 

Namun, solusi tersebut tidak akan berjalan apabila kebijakan pemerintah tidak tegas bahkan membiarkan para korporasi bertindak semena-mena tanpa berfikir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atas usaha yang didirikan di daerah resapan.
Kebijakan penguasa yang pro terhadap kapitalis tidak akan mungkin meninggalkan benefit yang akan diterima. Sehingga dapat disimpulkan meskipun para ahli dengan teknologi yang tepat sasaran tak mungkin dipakai jika materi yang menjadi tolok ukur. 

Oleh karena itu, sistem akan berjalan jika diatur dengan aturan yang Maha Kuasa. Aturan yang tidak akan menzalimi umat manusia. Menyejahterakan umat dan semesta alam. Sistem dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Pernah diterapkan selama 14 abad, bukti yang menakjubkan. Islam pun memiliki aturan dalam menangani irigasi dan teknologinya, semua terbukti selama abad kejayaan tersebut. Semoga Allah memberi kesempatan kemenangan Islam terwujud kembali. “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS Al Maidah ayat 49).[]

Oleh: Sahna Salfini Husyairoh, S.T
(Asisten Laboratorium Teknik Pengendalian dan Konservasi Lingkungan)

Posting Komentar

0 Komentar