Banjir Kalimantan, Ajengan Yuana Nilai karena Hutan Dikuasai Konglomerat



TintaSiyasi.com-- Menanggapi musibah beruntun yang datang di Indonesia, terutama banjir bandang di Kalimantan, Mudir Ma'had Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna menilai, banjir kerusakan yang terjadi karena hutan dikuasai oleh konglomerat.

"Kemudian kalau kita lihat misalnya pada akhir-akhir ini, terjadi banjir di mana-mana, termasuk di Kalimantan Selatan. Kita evaluasi kenapa bisa terjadi banjir? Ternyata bagaimana (faktanya)? (Karena) hutan dikuasai konglomerat," tuturnya dalam acara Kabar Malam bertema Pesan Penting Di Balik Musibah & Wafatnya Ulama, Rabu (20/01/2021) di kanal YouTube Khilafah Channel

Ia menuturkan, secara sunnatullah ketika tidak ada daerah yang tidak memiliki resapan air, kemudian pohon-pohon sudah tidak ada karena digunduli oleh konglomerat. "Maka, ketika terjadi banjir itu bagian dari hukum alam, hukum alam dimana ketika curah hujan tinggi itu akan terjadi banjir. Di situ ada tangan manusia, di situ ada ulah tangan manusia dan itu adalah fasad, ini adalah kerusakan yang diperbuat oleh ulah tangan manusia," bebernya. 

"Dan musibah semacam itu yang terkategori dalam fasad, bahasa Al-Qur'an kan fasad (kerusakan). Jadi, ada dua perspektif ketika kita memandang musibah yang ada. Ada musibah karena ada ulah tangan manusia, ini disebut dengan fasad, kita perhatikan dalam surah An- Nisa :39. Apa saja nikmat yang kamu peroleh dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu maka itu dari dirimu sendiri, dan kesalahan sendiri," imbuhnya.

Menurut Ajengan, penataan dengan cara di luar Islam itu adalah maksiat. "Ekonomi ditata tidak dengan dengan Islam, pertanahan agraria tidak dengan Islam, perpolitikan tidak dengan Islam, pergaulan tidak dengan Islam, dan itu adalah kemaksiatan," paparnya.

Menurutnya, hal itu adalah yang menyebabkan kerusakan yang terjadi, kerusakan itu merata di darat dan di laut. Ia mengutip satu hadis Nabi Muhammad SAW dari ibunda Aisyah r.a berkaitan dengan poin-poin penting musibah yang terjadi, yakni agar kita kembali (pada aturan Allah).

"Pertama, siksa dan rahmat, ada kalanya musibah itu siksa dari Allah. Ini terkait dengan penyakit menular, beliau memberitahukan kepadaku bahwa merupakan siksaan Allah yang dikirimkan orang-orang yang Allah kehendaki, Allah menjadikan rahmat sebagian orang yang beriman," katanya.

Ia juga memaparkan, suatu penyakit yang menular sangat mematikan tha'un tadi, beliau memberitahukan kepada Aisyah r.a bahwa tha'un itu adalah azab yang diberikan Allah kepada orang yang dikehendaki, tapi pada saat yang sama rahmat bagi orang-orang yang beriman. "Tha'un itu kan musibah penyakit yang menular yang sangat luar biasa di dalamnya ada siksa dan juga ada aspek keutamaan," imbuhnya.

"Kedua, sebagai balasan, ada kalanya musibah itu sebagai balasan. Rasulullah SAW bersabda, musibah-musibah, penyakit-penyakit, kesusahan-kesusahan, di dunia merupakan balasan," katanya.

Ia mengutip sabda Nabi yang lain, tidaklah sepotong kayu melukai seseorang tergelincirnya telapak kaki dan terkilirnya urat kecuali tinggal sebab dosa. Terkilirnya urat saja itu disebabkan dosa, dan apa yang Allah maafkan itu lebih baik. "Jadi, kita sadar betul bahwa apa yang terjadi di dunia ini, apakah sepotong kayu yang melukai kita, tergelincirnya kaki kita, terkilirnya urat kita (kaki atau tangan kita), itu karena ada sesuatu sebagai balasan," bebernya.

"Ketiga, sebagai penebus dosa. Jadi musibah sebagai penebus dosa. Tinggal kita evaluasi, kira-kira musibah sekarang ini yang menimpa kita sebagai apa? Sebagai siksaan? Sebagai rahmat? Sebagai balasan? Atau sebagai penebus dosa?" pungkasnya.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar