Bangun RS Cina-Indonesia, Dr. Erwin Permana: Wajib Dibatalkan! Mengancam Eksistensi RS dalam Negeri



TintaSiyasi.com-- Menanggapi rencana pemerintah bekerja sama dengan negara Cina, membangun rumah sakit Internasional, pertukaran dokter dan tenaga kesehatan Cina di Indonesia, Pengamat Kebijakan Publik Dr. Erwin Permana menilai, kerja sama tersebut wajib dibatalkan, karena dianggap merugikan dokter, tenaga medis, dan mengancam eksistensi rumah sakit di negeri ini.

"Oleh karena itu, rencana kerja sama tersebut wajib dibatalkan karena beberapa alasan, kerjasama ini jelas akan sangat merugikan bagi para dokter, juga tenaga medis serta mengancam eksistensi rumah sakit milik WNI (warga negara Indonesia) di Indonesia," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Rabu (15/01/2020).

Dr. Erwin sapaan akrabnya mengungkap bahayanya jika pemerintah Indonesia melakukan kerja sama. Menurutnya, setiap kerjasama dengan negara imperialis (penjajah) adalah untuk melanggengkan eksistensi imperialisme mereka. 

Ia memaparkan, Cina merupakan negara imperialis Timur, kerja sama dengan Cina berarti melanggengkan eksistensi imperialisme Cina di negeri ini. Meski judulnya kerjasama tapi hakikatnya, menurutnya, adalah penjajahan. Apalagi, katanya, Indonesia punya modal yang luar biasa untuk menjadi negara adidaya, mulai dari kekayaan alam darat dan laut hingga letak strategis.

"Jika pemerintah serius mengurus rakyat maka kita tidak butuh negara lain cukup dengan modal yang ada saja. Justru negara lain butuh kita, bahkan bergantung pada kita. Kalau hanya sekadar membangun rumah sakit, untuk negara seperti Indonesia itu masalah kecil. SDM (sumber daya manusia) Indonesia sangat mumpuni untuk itu," imbuhnya.

Ia memaparkan, saat ini telah terjadi liberalisasi kesehatan yang semakin, jika rumah sakit swasta, apalagi asing semakin banyak, artinya liberalisasi sektor kesehatan akan semakin parah. Ia menjelaskan, hal itu artinya akan semakin menyulitkan masyarakat mendapatkan fasilitas kesehatan kecuali dengan harga mahal. Ia khawatir, bisnis kesehatan akan semakin pesat, padahal kesehatan yang merupakan kebutuhan dasar setiap negara harusnya disediakan secara gratis.

Menurutnya, kalau untuk sekadar membangun rumah sakit perlu kerjasama dengan negara Cina, hal itu menunjukkan betapa tidak berdayanya pemerintah mengurus hal yang sangat mendasar dalam kehidupan masyarakat. Ia menegaskan, kondisi miris ini terjadi karena tata kelola negara yang diatur dengan asas kapitalis, semua dipandang dari sudut pandang bisnis. 

"Cukup rumah sakit yang ada saja dibenahi kualitasnya dan fasilitasnya ditingkatkan, tidak masuk di akal membangun RS (rumah sakit) Cina di Indonesia," tegasnya.

Ia menjelaskan, saat ini rumah sakit yang ada di Indonesia saja banyak yang kondisinya memprihatinkan, kesulitan keuangan, bahkan sebagian akan dijual oleh pemiliknya karena terancam bangkrut. Menurutnya, sangat tidak urgen bangun RS Cina di Indonesia, dan melakukan pertukaran dokter maupun tenaga medis asing.

Menurutnya, lebih baik negara meningkatkan keahlian tenaga medis dalam negeri. "Buat apa kerjasama dokter dan tenaga medis dengan Cina? Jika kerjasama untuk meningkatkan skill dokter dan para medis, menurut saya di kita kurang dokter dan tenaga medis yang hebat?" tanyanya.

Ia mempertanyakan, jika alasan kerja sama karena tenaga medis Indonesia kurang. Padahal ia ungkap, negeri ini menghasilkan ribuan dokter dan tenaga medis tiap tahun dan sebagian besar mereka belum terserap lapangan kerja dan ketika terserap kesejahteraannya perlu terus diperhatikan.

"Rencana kerja sama dengan pemerintahan Cina untuk membangun rumah sakit Cina di Indonesia serta pertukaran dokter dan tenaga medis, tentu patut dikritisi dan saya berharap ini tidak jadi dilakukan," sanggahnya. 

Berbeda dengan sudut pandang Islam, menurutnya, eksistensi negara adalah untuk mengurus dan melayani masyarakat. "Semoga terbangun kesadaran yang sama untuk meninggalkan (sistem) kapitalis yang sudah membuat kita menderita beralih pada pengelolaan negara yang selaras dengan fitrah manusia yakni Islam," pungkasnya. [] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar