Bangga dengan Ledakan Utang?


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, pada acara The 5th G20 Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting yang diselenggarakan secara daring pada Jumat, (20/11/2020), disepakati adanya perpanjangan masa cicilan utang (cnbcindonesia.com, 22/11/2020). Utang Indonesia bertambah lagi. Bahkan jumlahnya cukup besar dalam waktu yang relatif berdekatan atau tak sampai dua minggu (kompas.tv, 22/11/2020). 

Utang kok bangga! Inilah kalimat yang tepat disematkan kepada penguasa negeri ini yang dari tahun ke tahun utang negara selalu bertambah. Bahkan bangga dengan utang tersebut. Pembenaran atas utang sebagai sumber pembiayaan negara disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dirilis oleh medcom.id (30/11/2020) bahwa utang yang dilakukan digunakan untuk menutup kekurangan keuangan negara. Menurutnya utang bukan menjadi sebuah tanda bahwa negara itu miskin sehingga harus berutang. Hal yang sama juga dilakukan oleh negara-negara maju untuk menutup kebutuhan keuangan negaranya. 

Miris menyaksikan pejabat negeri ini dengan gampangnya menyatakan dan melakukan sesuatu yang membebani rakyat karena utang yang begitu besarnya akan ditanggung oleh setiap warga sampai anak cucu nantinya. Sosiolog yang juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar meminta agar bangsa Indonesia tidak berbangga diri pada utang yang terus bertambah. Sebab, nantinya utang tersebut akan menjadi tanggungan anak hingga cucu hingga masa-masa mendatang (m.akurat.co, 19/11/2020).

Kalau mengamati kebijakan pemerintah berkaitan dengan utang ini, apalagi kita mengetahui bahwa utang ini sebagai salah satu sumber pemasukan negara yang utama maka kita bisa menyimpulkan bahwa ada yang salah dengan paradigma berpikir mereka. Ditambah lagi kilah mereka bahwa sejak pandemi ini keuangan negara terkuras untuk penanggulangan pandemi. 

Sesungguhnya dengan melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki oleh negara kita tercinta ini jika dikelola dengan benar, cukup untuk membiayai pengeluaran negara yang jumlahnya triliun rupiah. Seperti tambang emas, batubara, minyak, besi, baja, nikel dan selainnya. Jadi negara tidak perlu berutang kepada negara lain. Tetapi karena kesalahan dalam pengelolaan SDA inilah mengakibatkan dana mengalir kepada korporasi.  

Bukti yang sangat jelas dari kesalahan kelola SDA yang melimpah yaitu rakyat tetap dalam kemiskinan. Memenuhi kebutuhan pokok berupa pangan, sandang dan papan masih sulit apalagi dalam masa pandemi ini. Kebutuhan kolektif masyarakat berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan juga sulit didapatkan. Lapangan pekerjaan tidak tersedia dengan baik. Pengelolaan SDA yang berbasis kapitalisme liberal menjadi biang kerok persoalan carut marut negeri ini. Korporasi bebas mengeruk SDA untuk mengisi pundi-pundi mereka, sementara pembiayaan negara bertumpu pada utang luar negeri. 

Beban utang negara ditanggung sepenuhnya oleh rakyat melalui mekanisme penghapusan berbagai subsidi barang kebutuhan rakyat, serta pemungutan pajak di setiap bidang. 
Dengan demikian sangat wajar terjadi ledakan utang. Apalagi utang dalam sistem kapitalisme bertumpu dari riba. Di samping kesengsaraan yang dirasakan oleh rakyat, juga akan mendatangkan murka dari Allah. Sengsara di dunia dan di akhirat. 

Sementara dalam Islam utang tidak menjadi pilihan untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi negara. Pengelolaan pemasukan negara ditata dengan baik yang berasal dari kepemilikan negara (milkiyyah ad-daulah) seperti ‘usyur, fa’i, ghanimah, kharaj, jizyah dan lain sebagainya. Selain itu dapat pula diperoleh dari pemasukan kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah) seperti pengelolaan hasil pertambangan, minyak bumi, gas alam, kehutanan dan lainnya. 

Dapat dipastikan ledakan utang tidak mungkin terjadi dalam sistem Islam. Karena negara bertanggung jawab atas optimalisasi dari harta kepemilikan umum dan negara tanpa adanya liberalisasi dalam lima aspek ekonomi, yaitu liberalisasi barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil. Dan juga diperoleh dari zakat maal (ternak, pertanian, perdagangan, emas dan perak). 
Harta baitulmal juga selalu mengalir karena tidak terjerat utang ribawi. Dengan demikian, kemandirian dan kedaulatan negara dapat terjaga dan potensi penutupan kebutuhan anggaran dari utang luar negeri dapat dihindari. 

Inilah indahnya gambaran sistem Islam yang memecahkan persoalan kehidupan umat manusia dari perkara yang kecil hingga menyangkut hajat hidup. Dan sudah pernah diterapkan selama kurang lebih tiga belas abad. Menjadi kewajiban seluruh kaum muslimin untuk mewujudkan kembali sistem yang mulia ini kembali ke pangkuan kita dengan terus mengopinikan ke tengah-tengah masyarakat. Mengganti sistem kufur yang menyengsarakan ke sistem shahih yang menyejahterakan. Insya Allah. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Haryati
(Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar