Ajengan Yuana: Protokol Kesehatan dan Vaksinasi, Ikhtiar Agar Tidak Beri Mudharat Diri dan Orang Lain

TintaSiyasi.com-- Terkait protokol kesehatan dan kontroversi vaksinasi, Mudir Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna mengatakan, protokol kesehatan dan vaksinasi adalah bagian dari ikhtiar agar tidak membawa mudharat (bahaya) terhadap diri dan orang lain.

"Ketaatan kita kepada protokol kesehatan yang disampaikan oleh para ahli itu bagian dari ketaatan kita kepada syariat. Karena memang tidak boleh memberikan dharar dan dhirar kepada orang lain. Nah, vaksin itu bagian dari ikhtiar, ikhtiar agar tidak memberikan mudharat yaitu dharar (membahayakan diri) dan dhirar (membahayakan orang lain)pada diri maupun orang lain," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Sabtu (23/01/2021).

Menurutnya, protokol kesehatan dan vaksinasi adalah sesuatu yang di-sunnah-kan sebagaimana hukum pengobatan yang lain. Ia menambahkan, setiap individu dalam kondisi wabah dan situasi seperti hari ini dalam interaksi komunal.

Ajengan Yuana sapaan akrabnya mengatakan, vaksinasi merupakan bagian cara pengobatan yang pernah dilakukan di masa kekhilafahan Islam. Ia menerangkan, dulu vaksin ditemukan dalam di periode terakhir kekhilafahan Islam. "Artinya dalam beberapa abad sebelumnya itu tidak digunakan vaksin, karena belum ditemukan riset terkait dengan itu. Saat ditemukan riset terkait dengan itu maka digunakanlah di dunia Islam di kekhilafahan Utsmaniyah," jelasnya. 

“Dan riset ini bagian atas tajribah (eksperimen) dan tunduk pada ketentuan hadis antum a'lamu bi amri duniakum," ujarnya. Jadi menurutnya, Rasul memberikan otoritas kepada yang a'lam (paling tahu) bukan sekadar 'alim (tahu), yang artinya yang paling tahu di antara kalian. 

"Vaksinasi suatu yang islami, karena itu bagian dari pengobatan. Saya sendiri termasuk yang memilih untuk divaksin, karena ini bagian dari ikhtiar," imbuhnya.

Adapun yang lain yang tidak memilih divaksin, ia tidak mengatakan mereka salah. Karena menurutnya, yang penting mareka harus berikhtiar. Ia menambahkan, kalau mereka tidak berikhtiar dan membahayakan orang lain dengan alasan tidak percaya kepada pemerintah misalnya, dan tidak melakukan ikhtiar lain selain vaksin, maka mereka salah karena akan membahayakan orang lain. 

"Sudah jelas al-ashlu fi al-madhar al-tahrim hukum asal dari sesuatu yang membahayakan itu adalah haram,” imbuhnya.

Menurutnya, semua pihak memang harus berikhtiar secara maksimal untuk bisa keluar dari wabah ini. “Memang harus ikhtiar maksimal untuk keluar dari wabah ini, untuk menghentikan wabah ini. Minimal tidak memperpanjang masa wabah ini, dengan berbagai macam hal yang bisa dilakukan. Sesuatu yang telah teruji oleh ahli kesehatan, apakah ahli kesehatan modern, maupun ahli kesehatan tradisional ya terserah, yang penting secara klinis atau empirik betul-betul dapat dibuktikan,” pungkasnya.[] Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar