Ajarkan Anak Pakaian Takwa


Sesekali kita bisa menguji pemahaman Islam anak sendiri. Sejauh mana pendidikan berbasis akidah Islam yang dipahamkan ke anak. Saat hendak membuka gorden jendela, tiba-tiba Al-Fatih mengatakan, "Umi, jangan buka, nanti orang lihat umi dari luar."

"Ma syaa Allah, alhamdulillah Mas Fatih mengingatkan umi. Iya ya, bahaya, umi nanti dilihat orang dari luar ya," jawaban singkat penanda bahwa orang tua tidak anti nasihat anak dan melatih kepercayaan diri anak untuk amar ma'ruf nahyi munkar.

Orang tua Muslim wajib mendidik anak berbasis akidah Islam sejak dini. Seperti tentang malu, aurat dan menjaga ibunya. Wah, menjaga ibunya? Iya, khususnya yang memiliki anak laki-laki, didik mereka untuk menjaga kehormatan wanita. Agar aurat ibunya tidak dilihat orang lain. Dilihat saja tidak boleh, apalagi disentuh. Jika memiliki saudara perempuan atau kelak memiliki istri dan anak perempuan, anak laki-laki akan demikian pula seperti menjaga ibunya.

Pakaian takwa juga harus diajarkan kepada anak untuk menjaga aurat. Ini merupakan tuntutan akidah Islam seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Surah Al-A'raf ayat 26:

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.”

Pada lingkungan yang lebih luas, generasi baik laki-laki maupun perempuan yang dididik dengan Islam, mereka akan menjaga lingkungannya pula. Termasuk lingkungan kerja, masyarakat dan negara. Mereka akan melakukan amar ma'ruf nahyi munkar. Hal ini perlu disadari orang tua untuk mempersiapkan generasi cemerlang, terlebih pada anak laki-laki untuk menjadi qowwam (pemimpin).

Generasi muslim harus tegas dan tegar dalam menjaga lingkungannya. Bukankah pandangan akan terjaga jika tidak ada aurat yang bertebaran. Bukankah penjagaan tersebut merupakan penguat dalam membangun suasana keimanan masyarakat.

Namun, penjagaan tersebut akan menimbulkan kontroversi dalam masyarakat di negara sekuler. Misalnya seperti yang terjadi di SMK Negeri 2 Padang. Dilansir dari laman News.detik.com (23/1) bahwa Kepala SMK Negeri 2 Rusmadi, menyebut ada 46 siswi non Muslim di sekolah tersebut. Seluruh siswi non Muslim di SMK tersebut mengenakan hijab dalam aktivitas sehari-hari kecuali Jeni Cahyani Hia.

Masih dari sumber yang sama. Belakangan terungkap, Jeni Cahyani Hia merupakan salah satu murid non Muslim di sekolah tersebut yang menolak mengenakan hijab. Video adu argumen antara orang tua Jeni dan pihak sekolah tentang penggunaan kerudung atau jilbab pun viral di media sosial. Rusmadi lantas menegaskan pihak sekolah tak pernah melakukan paksaan apa pun terkait pakaian seragam bagi non Muslim. Dia mengklaim siswi non Muslim di SMK tersebut memakai hijab atas keinginan sendiri.

Namun sudah terlanjur viral. Reaksi menuntut pencabutan aturan seragam kerudung pun mencuat. Jelas bahwa dalam sistem sekuler saat ini, ajaran Islam dianggap intoleran, sumber lahirnya diskriminasi dan pelanggaran HAM. Padahal tidak demikian, ajaran Islam jika dipahami dengan benar, bahkan akan menjaga generasi.

Ramainya kontroversi masalah ini, Mantan Wali Kota Padang (2004-2014) Fauzi Bahar pun angkat bicara. Dilansir dari Ihram.co.id (24/1), ia berpendapat bahwa aturan memakai pakaian Muslimah atau berkerudung di sekolah di Kota Padang tidak perlu dicabut. Menurut Fauzi, aturan itu sudah bagus. Karena tujuannya untuk melindungi generasi muda Sumatera Barat. Aturan siswi harus memakai baju kurung dan pakai kerudung di sekolah sudah dibuat sejak dirinya menjabat Wako Padang yakni di tahun 2005 lalu.

Padahal, kasus serupa juga pernah terjadi. Ingat tahun 2014 di Bali? Saat siswa Muslimah di banyak sekolah secara resmi dilarang berpakaian Muslimah, tidak banyak yang membela. Dilansir dari laman Republika.co.id (26/2/2014) bahwa ada 40 sekolah hampir seluruh Bali melarang siswi Muslim berjilbab. Jadi, apakah Islam yang intoleran, diskriminasi dan melanggar HAM?

Bukalah pikiran, sesungguhnya Islam memiliki seperangkat aturan untuk menjaga kehidupan umat Muslim dan non Muslim di kehidupan umum. Islam memiliki aturan tentang pakaian bagi perempuan non Muslim. Dalam kitab Masyru’ ad-Dustur pasal 7 ayat 4 atau D, terjemahannya berbunyi: “Non Muslim diperlakukan dalam perkara makanan dan pakaian menurut agama mereka dalam cakupan apa yang diperbolehkan oleh hukum-hukum syariah”.

Syeikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah memberikan penjelasan tentang aturan tersebut dalam dua batasan untuk pakaian bagi perempuan non-muslim, yaitu:

Batasan pertama, menurut agama mereka. Jadi diperbolehkan non Muslim memakai pakaian sesuai agama mereka. Seperti pakaian agamawan dan agamawati mereka, yakni pakaian rahib, pendeta dan pakaian rahib wanita. Ini adalah pakaian yang disetujui dalam agama mereka. Maka laki-laki dan wanita non Muslim boleh mengenakan pakaian ini.

Batasan kedua, apa yang diperbolehkan oleh hukum-hukum syara’. Yaitu hukum-hukum kehidupan umum yang mencakup seluruh rakyat, baik Muslim maupun non Muslim, untuk laki-laki dan wanita.

Jadi pengecualian adalah untuk pakaian sesuai agama mereka. Adapun selain pakaian agama mereka maka diberlakukan atasnya hukum-hukum syara’ dalam kehidupan umum. Dan ini untuk laki-laki dan wanita.

Dalam kitab Nizham al-Ijtima’iy yang ditulis oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dijelaskan secara rinci tentang pakaian. Hal itu berlaku atas seluruh individu rakyat, Muslim dan non Muslim. Tidak dikecualikan untuk non Muslim kecuali pakaian sesuai agama mereka seperti yang telah disebutkan di atas. Sedangkan selain itu, maka wajib menutup aurat dan tidak bertabarruj, dan mengenakan jilbab dan kerudung. Karena celana panjang termasuk tabarruj, maka tidak boleh bagi wanita mengenakannya dalam kehidupan umum, walaupun itu menutup aurat.

Syeikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah juga mempertegas bahwa sepanjang sejarah masa Khilafah, para wanita Muslim dan non Muslim, mereka mengenakan jilbab dan mereka menutupi kepala mereka. Misalnya sebagian kampung di Palestina yang di situ ada wanita Muslimah dan non Muslimah, pakaian mereka tidak bisa dibedakan hingga setelah runtuhnya Khilafah.

Demikianlah Islam mengatur kehidupan. Aturan Islam beserta sirah peradaban Islam yang gemilang harus diajarkan pada generasi. Agar tangguh dan cerdas dalam mengarungi badai peradaban kapitalisme-sekulerisme yang sebentar lagi akan runtuh. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga generasi?. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Sri Wahyu Indawati, M.Pd
(Motivator Parenting & Founder Smart Islamic Parenting)

Posting Komentar

0 Komentar