Wajah Umat Islam dalam Cengkeraman Nasionalisme


Rentetan peristiwa kekerasan terhadap muslim Rohingya masih terus terjadi. Menurut laporan Ontario International Development Agency (OIDA) sejak tahun 2017, hampir 24 ribu muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan negara Myanmar. Lebih dari 34 ribu orang dibakar, 114 ribu orang disiksa, 18 ribu perempuan diperkosa, 115 ribu rumah dibakar dan 113 lainnya dirusak (Republika.co.id, 5/10/2020). Pembantaian tersebut menyebabkan eksodus besar-besaran muslim Rohingya dari wilayah Myanmar mengungsi ke negara-negara terdekat seperti Bangladesh. Nasib mereka terlunta-lunta, menggantungkan harapan pada belas kasih negara tetangga. Tahun berlalu, ternyata kehidupan mereka tak kunjung membaik. Bangladesh yang merupakan salah satu tumpuan harapan mereka akhirnya memutuskan memindahkan tempat pengungsian dari Cox’s Bazar ke pulau tak berpenghuni bernama Bashan Char. Otoritas Bangladesh menyebut bahwa mereka hanya memindahkan pengungsi yang bersedia pergi dan pemindahan ini akan mengurai masalah kelebihan kapasitas di kamp yang dihuni oleh lebih dari satu juta warga Rohingya. Namun nyatanya tidak. Mereka yang tercantum dalam daftar pemindahan tidak secara sukarela menyatakan bersedia. Penolakan tersebut memang bukan tanpa sebab. Selain pulau tersebut sangat rentan diterjang banjir, menurut Amnesty International yang merilis laporan di awal tahun 2020 tentang kondisi yang dialami pengungsi yang sudah lebih dulu tinggal di Bashan Char tentang kondisi kehidupan yang tidak higienis dalam ruangan sempit, terbatasnya fasilitas makanan dan kesehatan, serta kasus pelecehan seksual oleh TNI AL dan pekerja lokal yang melakukan pemerasan. (Viva.co.id, 06/12/2020)

Kondisi memilukan yang tengah dihadapi muslim Rohingya adalah bukti sekat nasionalisme yang membagi negara-negara muslim menjadikan mereka tak berdaya menolong muslim Rohingya. Walaupun negara muslim maju sekalipun yang memiliki perangkat militer canggih sekelas negara Turki, misalnya. Tak mampu mengerahkan pasukannya untuk mengulurkan tangannya memberikan penghidupan yang layak bagi saudara muslim di negara yang lain. Mengapa? Karena nasionalisme mengakibatkan terputusnya persaudaraan atas dasar ikatan aqidah Islam dan menggantinya atas dasar batas wilayah semata. Penderitaan yang dialami oleh saudara semuslim di belahan dunia lain tidak boleh menjadi urusan umat Islam dunia. Nasionalisme adalah alat pemecah belah umat. Alhasil, ukhuwah Islamiyyah yang seharusnya hadir pun gagal tercapai karena sekat nasionalisme tersebut. PBB sebagai organisasi internasional yang memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dunia nyatanya gagal menekan kejahatan genosida yang telah dilakukan pemerintah Myanmar terhadap rakyatnya. Sedangkan UNHCR yang juga seharusnya berperan melindungi hak-hak pengungsi pun tidak mampu memberikan perlindungan tersebut. 

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S al Imron: 103)

Ayat di atas menjelaskan, Allah memerintahkan kita sebagai kaum muslimin wajib menjadikan Islam sebagai ideologi yang mampu menyatukan segala perbedaan dalam bingkai ukhuwah Islamiyyah. Tidak peduli suku, bangsa, dan ras. Ketika umat Islam bersatu, menghapus segala sekat nasionalisme yang menjadi biang masalah terinjaknya harga diri kaum muslimin di Suriah, Palestina, Rohingya, Uighur, Kashmir, dan di belahan dunia yang lain. Islam memiliki solusi mendasar dan menyeluruh mengeluarkan umat manusia dari cengkeraman nasionalisme dan kapitalisme. Sudah saatnya kita menjadikan Islam sebagai satu-satunya ikatan yang benar dan diridhoi Allah SWT. Ikatan ideologi yang mampu memancarkan aturan-aturan yang memuliakan umat manusia. Allahua’lam bishawwab.[]

Oleh: Lia Munggarani, S.Sos

Posting Komentar

0 Komentar