Viral Kasus Penembakan Anggota Ormas: Peringatan Hari HAM Sebuah Angan




Setiap tanggal 10 Desember, dunia memperingatinya sebagai hari Hak Asasi Manusia, yang mana hal ini telah dilakukan sejak tahun 1950 silam melalui lembaga PBB. Artinya sudah hampir 70 tahun berlalu. Namun, apakah selama kurun waktu tersebut, bisa meminimalisir tindak pelanggaran HAM jika tidak bisa dikatakan menihilkan sama sekali?

Baru-baru ini viral di sosial media tentang kasus tewasnya enam orang laskar FPI. Dilansir dari CNN Indonesia (8/12/20) kejadian tersebut berlangsung di Tol Cikampek pada senin (7/12) dini hari ketika rombongan tersebut tengah mengawal HRS untuk menghadiri sebuah acara. Banyak kejanggalan yang dirasakan oleh publik, mulai dari CCTV yang mati hingga tidak ditemukannya barang bukti apapun di lokasi kejadian. Publik pun kian bertanya-tanya, bahkan jika seandainya kasus ini tidak segera ditangani, tidak menutup kemungkinan akan memancing kemarahan publik.

Sebagaimana diketahui, selama ini HRS dan laskarnya sangat vokal dalam menentang kebijakan-kebijakan penguasa yang mendzolimi rakyatnya. Jelas ini merupakan batu ganjalan yang nyata bagi para kapital dan pemangku kebijakan dalam mewujudkan syahwat politiknya. Maka bukan demokrasi jika tidak memunculkan ambiguitas dan standart ganda. Tidak ada yang baku di dalam sistem ini. Apapun bisa dipelintir demi kepentingan pribadi dan golongan.

Demikian pula ide-ide HAM yang selama ini digaungkan oleh negara kampiun kapitalis-demokrasi yang kemudian latah diadopsi oleh negara-negara pengekornya, sejatinya hanyalah angan-angan manis yang membinasakan. Melalui HAM, secara tidak sadar kaum muslimin telah menempatkan aturan buatan manusia lebih sakral, lebih mulia dan lebih mati-matian dibela dibandingkan dengan syariat Allah. HAM hanyalah alat yang digunakan untuk melanggengkkan kekuasaan dan ide-ide kapitalis-demokrasi tetap dipegang teguh. 

Benarlah sabda Rasulullah yang mulia, “Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya.” Ada seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu?” Beliau menjawab, “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad: 21891 dan Abu Daud: 4297)

Saat ini kaum muslimin bak hidangan yang diperebutkan. Banyak jumlahnya namun seperti buih di lautan. Tidak memiliki kekuatan, kedaulatan, dan terseret hina kesana kemari. Seperti orang mabuk karena menenggak ide-ide kufur dan beracun buatan Barat. Maka apakah senang jika kesempitan ini terus menerus mendera hidup kita dan seluruh kaum muslimin dimanapun berada? 

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” (QS. Ath-Thaha: 124). Tidakkah semua fakta ini menyadarkan kita akan urgensitas kembali kepada syariat Allah?


Oleh: Naning Prasdawati

Posting Komentar

0 Komentar