Tanggapi Rendahnya Harga Batubara, Prof. Fahmi Amhar Ungkap Penjual dan Pembelinya adalah Satu Tangan



TintaSiyasi.com-- Menanggapi rendahnya harga batu bara yang dibeli China dari Indonesia dalam kerja sama Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dengan China Coal Transportation and Distribution (CCTDA), Prof. Dr. Ing. H. Fahmi Amhar, Pakar Energi dan Pertambangan mengungkapkan, antara penjual dan pembeli batu bara adalah tangan (baca: orang) yang sama.                                                                                                 
“Harga pasaran batu bara di dunia senilai 50 USD/ton bahkan bisa mencapai 70 USD/ton di future trading. Sedangkan harga yang ada di dalam perjanjian hanya sekitar 8 USD/ton. Hal ini terjadi kemungkinan karena antara penjual dan pembelinya satu tangan. Perusahaan yang mengekspor batu bara dari Indonesia juga memiliki perusahaan yang mengimpor batu bara di China,” tuturnya dalam acara Kabar Malam dan Kajian Online: Pemerintah dalam Islam, di kanal Khilafah Channel, Senin (30/11/2020).

Prof. Fahmi sapaan akrabnya menyampaikan, rendahnya harga jual memungkinkan adanya indikasi kecurangan dalam pembuatan perjanjian untuk menghindari pajak. Bahkan menurutnya, yang paling dirugikan adalah rakyat, karena batu bara termasuk barang tambang yang seharusnya dikuasai negara, bukan swasta.

“Secara jangka panjang, yang dirugikan tentulah rakyat. Karena negara ini menganut mazab liberalisme dan kapitalisme global," ujarnya.

Menurutnya, sejarah mencatat seperti ini terjadi di tahun 2002, di mana pada masa pemerintahan kala itu pernah menjual gas bumi dalam bentuk LNG (Gas Alam Cair) dengan usia kontrak kepada Tiongkok selama 25 tahun, dengan harga jual saat itu sebesar 2,4 USD per MMBTU (Million British Thermal Unit) atau maksimal 3,3 USD per MMBTU.

“Walaupun pada akhirnya perjanjian tersebut dikoreksi pada tahun 2006. Entah karena kepentingan politik pada saat itu atau bukan," imbuhnya. 

Ia menyampaikan peristiwa ini sebagai akibat penerapan liberalisme. “Selama mazabnya masih liberalisme dan kepemilikan (batu bara) tidak dikuasai negara, maka hal ini akan terus terjadi," pungkasnya.[] Reporter: Haryani Chotijah, Editor: Ika Mawar

Posting Komentar

1 Komentar