Tak Hanya Covid, Jabar Dikepung HIV/AIDS



Di tengah masih tingginya serangan virus Corona, Provinsi Jawa Barat juga dalam bayang-bayang tingginya jumlah pengidap HIV/AIDS. Jabar menempati peringkat tertinggi ke-4 dalam kasus kumulatif HIV/AIDS secara nasional. Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan RI tertanggal 29 Mei 2020 tentang Perkembangan HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Triwulan I Tahun 2020, jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS dari tahun 1987 sampai dengan Maret 2020 di wilayah Jawa Barat adalah 49.440 kasus yang terdiri atas 41.878 kasus HIV dan 7.562 kasus AIDS. Sedangkan kasus kumulatif HIV/AIDS nasional dari tahun 1987 sampai dengan Maret 2020 berjumlah 511.955 kasus yang terdiri atas 388.724 kasus HIV dan 123.231 kasus AIDS dengan 17.210 kematian (portal tagar.id, 14/6/2020). 

Dalam perayaan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2020 lalu, portal wowkeren.com mewartakan bahwa Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat melaporkan ada 11 orang pengidap HIV/AIDS (ODHA) terinfeksi virus Corona. 

Saat ini, jumlah ODHA yang on antiretroviral (ARV) sebanyak 15.474 orang yang tersebar di seluruh wilayah di Jawa Barat. Dari hasil asesmen, sekitar 24 persen dari 800 ODHA mempunyai risiko putus obat di masa pandemi Covid-19 karena ketakutan untuk mengambil ARV di layanan (notif.id). 

Sementara itu, untuk menekan angka penularan HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis, Dinas Kesehatan Ciamis menggelar tes HIV gratis serentak di 37 Puskesmas di Kabupaten Ciamis. Terlihat belasan ibu hamil dan masyarakat berisiko mengikuti tes tersebut (Newsdetik.com). 

// Tatanan Sistem Liberal Demokrasi Pangkal Perkembangan HIV/AIDS //

Sungguh ironis melihat provinsi Jabar menduduki peringkat ke-4 dalam jumlah pengidap HIV/AIDS terbanyak secara nasional. Dan yang menambah keprihatinan adalah banyaknya ibu rumah tangga (IRT) yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Tidak ada data khusus yang menunjukkan secara tepat jumlah IRT yang mengidap HIV/AIDS di Jabar, akan tetapi diperkirakan jumlahnya berkisar antara 10 hingga 20 persen dari jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi di Jabar.

Dari hasil penelitian KPA Provinsi Jawa Barat di lapangan pada tahun lalu, faktor utama yang menyebabkan tren jumlah kasus infeksi HIV pada kelompok IRT di Jawa Barat terus mengalami peningkatan adalah akibat perilaku para suami yang suka jajan seks ke tempat-tempat prostitusi.

Inilah fakta yang sangat mengiris nurani kita ketika penyebaran penyakit ini semakin hari terus bertambah. Berbagai upaya penanggulangan yang dilakukan pemerintah seakan menemui jalan buntu. Hal ini terjadi karena penanggulangan yang dilakukan cenderung kuratif, bukan preventif; ingin instan; dan tidak menyentuh akar permasalahan. 

Berbagai kampanye dan edukasi telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi penyakit mematikan ini, seperti masyarakat dihimbau untuk menjauhi seks bebas, pemakaian kondom sebagai alat pengaman dalam berhubungan seksual, menjauhi pemakaian obat-obat terlarang dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Namun tetap saja upaya-upaya tersebut tidak berhasil mengurangi kasus HIV/AIDS di Jawa Barat. 

Tidak dapat dipungkiri sistem sosial masyarakat saat ini memberikan pengaruh besar terhadap peningkatan jumlah ODHA di tengah masyarakat. Gaya hidup masyarakat yang sekuler dan serba liberal menjadikan aktivitas-aktivitas yang dilarang agama menjadi suatu hal yang biasa dan justru memberi ruang pada pergaulan bebas yang mengantarkan pada perilaku seks bebas, LGBT, dan prostitusi sebagai sumber primer penularannya, terutama di kalangan remaja.

Ironis. Di satu sisi masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan hal-hal terlarang, namun di sisi lain masyarakat dibiarkan berada pada kondisi yang sangat memungkinkan dan memudahkan untuk melakukan hal-hal yang terlarang. Ibarat orang yang disuruh bersuci tapi dibiarkan berjalan dalam lingkaran yang justru tidak bisa menghindarkan dia dari najis. 

Lihatlah bagaimana gaya hidup yang menyimpang semacam zina, seks bebas, gay, pecandu narkoba, dan semacamnya begitu tumbuh subur dan berkembang di sekitar kita. Itu semua adalah buah dari tatanan sistem kehidupan liberalis demokrasi yang pada hakikatnya telah menjauhkan umat dari aturan Islam. 

Adalah sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri ketika sebagian besar para penderita terinfeksi virus ini berawal dari aktivitas-aktivitas yang terlarang dan menyimpang tersebut. Jikapun ada satu atau dua orang yang mampu ditangani, tapi ada ratusan hingga ribuan yang ikut terinfeksi.

Hidup berada dalam sistem yang tidak sesuai fitrah sungguh telah nyata membawa pada berbagai kerusakan dan kekacauan yang semakin parah. Gaya hidup liberal dalam pergaulan menjadi jalan yang paling mudah bagi penularan penyakit mematikan ini. Sebagaimana yang Allah ﷻ nyatakan dalam firman-Nya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS. ar- Ruum [30]: 41)

Dalam ayat tersebut Allah ﷻ menyatakan bahwa penyebab semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, apapun bentuknya, adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti dari kerusakan yang sebenarnya dan merupakan sumber utama terjadinya kerusakan-kerusakan yang terjadi di sekitar kita.

Agenda perayaan tahun baru adalah agenda terdekat yang akan banyak dinantikan oleh masyarakat sekuler pada tahun ini, dan sudah menjadi tradisi akan banyak dirayakan oleh semua kalangan usia. Padahal, selain dari keharaman untuk mengikutinya, perayaan pesta tahun baru masehi dengan segala gemerlap dan kebebasannya akan menjadi jalan paling mudah dalam penularan HIV/AIDS. Karena gaya hidup liberal yang mendominasi akan menjadi ajang tertentu dalam aktivitas hura-hura, budaya pacaran, hingga aktivitas seks bebas dan berbagai kemaksiatan lainnya.

// Stop HIV/AIDS dengan Syariah Islam // 

Islam sebagai agama yang sempurna telah memiliki seperangkat aturan paripurna yang akan menjadi solusi untuk setiap permasalahan kehidupan, tak terkecuali masalah HIV/AIDS. Islam akan memberikan solusi tuntas dan mengakar, bukan sekadar solusi tambal sulam. Solusi yang diberikan bersifat preventif dengan fokus pada akar masalah yang menjadi pemicunya. Dengan begitu Islam akan mampu mencegah penularannya, dari penyebab yang mendasarinya hingga mampu memberikan penyelesaian secara tepat, tuntas, dan nyata.

Upaya preventif yang paling utama adalah penyadaran dan dorongan pada individu muslim agar menjadi individu yang bertakwa. Individu yang memiliki akidah yang kokoh dan ketaatan total kepada Allah ﷻ akan mampu menjaga dirinya dari perbuatan keji dan tercela, seperti berzina atau bergonta-ganti pasangan.

Selanjutnya Islam juga mengatur sistem pergaulan antara laki-laki dan wanita dalam kehidupan yang terpisah, mengharamkan perzinahan, dan menghalalkan aktivitas seks dengan jalan pernikahan yang sah antara lelaki dan wanita saja. Islam akan menutup rapat-rapat jalan atau pintu yang dapat menjadi pemicu pergaulan bebas tanpa batas, yang acap kali menjadi sumber muncul dan tersebarnya HIV/AIDS. 

Islam bertindak tegas terhadap kaum homoseksual atau LGBT, dan tidak akan memberi ruang pada aktivitas perzinahan dengan aturan-aturan dan sanksi hukum yang diterapkan. Islam juga tidak akan memberi ruang sama sekali untuk bisnis-bisnis prostitusi dan peredaran narkoba, termasuk membatasi media-media yang menayangkan konten-konten pornografi dan pornoaksi yang dapat memicu syahwat terlarang.

Sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku perzinahan akan mampu melindungi masyarakat dari kemaksiatan yang dapat mengantarkannya pada kerusakan, seperti halnya HIV/AIDS. Bagi pelaku perzinahan lelaki dan wanita yang telah menikah (al-muhshan), terdapat sanksi rajam (dilempar batu hingga mati) dan sanksi dicambuk seratus kali bagi yang belum menikah (al-bikr) ditambah dengan hukuman pengasingan selama setahun.

Begitu juga dengan para pelaku LGBT, Islam juga akan memberi sanksi tegas, yaitu mereka akan dibunuh sesuai cara yang ditetapkan oleh sang Khalifah. Sebagimana dalam hadis Rasulullah ﷺ yang memerintahkan untuk membunuh orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, baik pelaku maupun objeknya (HR. Ahmad 2784, Abu Daud 4462, dan disahihkan al Albani). 

Dalam lingkup kehidupan masyarakat, Islam senantiasa mengajarkan umat untuk saling beramar makruf nahi mungkar. Karena Islam melarang umatnya untuk mendiamkan segala kemungkaran yang terjadi di sekitar dan di depan mata mereka, agar azab tidak menimpa mereka secara merata.

Itulah bentuk solusi preventif yang akan diberikan Islam dalam menghadapi penyebaran HIV/AIDS. Selain mampu sebagai pencegah, solusi yang diberikan Islam juga akan menimbulkan efek jera bagi para pelakunya, sehingga benar-benar akan mampu diharapkan untuk menekan berbagai bentuk atau jalan yang menjadi pemicu penularan HIV/AIDS.

Adapun untuk para korban atau penderita yang tertular secara tidak sengaja seperti anak-anak yang terlahir dari ibu/ayah penderita HIV/AIDS, atau tertular secara tidak sengaja dengan bentuk cara yang lainnya, maka mereka akan dilindungi oleh negara dengan diberi perawatan yang optimal hingga ia kembali normal.

Kendati demikian, sebaik dan seefisiennya solusi yang dicontohkan Islam, tidak akan bisa diterapkan dalam alam sistem demokrasi liberalisme seperti sekarang ini. Maka satu-satunya cara agar negeri ini mampu terlepas dari belenggu menjamurnya virus HIV/AIDS, tidak ada cara lain selain dari segera kembali kepada sistem Islam. Jika benar-benar ingin menekan dan menghentikan penularan HIV/AIDS, maka haruslah dimulai dari perubahan atau pergantian sistem yang diterapkan.

Sistem Islam akan memberikan suatu penanggulangan yang benar-benar efektif dan bukan sekedar teori semata, yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan sistem demokrasi-kapitalisme-liberalisme yang selalu diagungkan hingga kini, yang tidak akan pernah mampu diharapkan untuk menghentikan berbagai macam kekufuran dan berbagai kerusakan yang ada.[]

Oleh: Liza Burhan
Analis Mutiara Umat

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Iya tapi bagaimana caranya utk menerapkan syariat Islam, sementara sistem yg telah lama d pakai beginilah adanya. Gak mungkin jg menerapkan syariat Islam dg cara instan, kecuali dpt pemimpin yg bnr bnr mengerti Islam secara kafah dan bnr bnr mau menerapkan syariat Islam. Smoga saja segera terlaksana

    BalasHapus