Stunting Teratasi dengan Islam

Generasi penerus bangsa hari ini masih dalam bayang-bayang stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak hingga hari ini. Bagaimana tidak seperti yang dikutip dari merdeka.com (21/12/20), Indonesia urutan ke-4 dunia dan kedua di Asia Tenggara dalam hal balita stunting. 

Pemerintah diingatkan melakukan evaluasi pembangunan keluarga agar persoalan ini teratasi. Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher dalam keterangan pers  merinci riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan Tahun 2019 mencatat sebanyak 6,3 juta balita dari populasi 23 juta atau 27,7 persen balita di Indonesia menderita stunting.

Jumlah yang masih jauh dari nilai standard WHO yang seharusnya di bawah 20 persen. Sebab itu dia meminta agar pemerintah memberikan otoritas yang lebih besar pada BKKBN untuk menjadi leading sektor pengentasan stunting.

Seperti yang dilansir oleh merdeka.com (30/11/20), terjadi di Sulawesi Selatan sebanyak 151.398 anak menderita Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada tahun 2020. Mereka tersebar pada lima kabupaten yang memiliki angka stunting tertinggi.
"Dari 24 kabupaten/kota di Sulsel, ada empat daerah dengan angka stunting tertinggi yakni di Kabupaten Bone 43 persen, Enrekang 39 persen, Jeneponto 36 persen, Takalar 34 persen dan Bantaeng 33 persen," kata Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Sulsel, Ichsan Mustari di Makasar, Minggu (29/11).
Dan ini tidak hanya terjadi di Sulawesi Selatan saja melainkan di beberapa daerah di Indonesia.

Persoalan stunting ini sudah bergulir cukup lama di negeri ini. Banyak balita telah menjadi korbannya. Beberapa upaya pemerintah sebagai program pengentasan stunting ini dilakukan, setidaknya sudah ada 21 lembaga yang ditunjuk untuk mengatasi stunting hingga rencana pemerintah untuk menunjuk salah satu lembaga agar dapat bertangung jawab secara penuh dan menangani secara jelas permasalahan stunting ini hingga wacana penggantian msg dengan penyedap ikan serta mengkonsumsi ikan dinilai sebagai langkah yang dapat mengurangi angka stunting yang terjadi. Namun nyatanya angka stunting di negeri ini masih saja tinggi.

Penyebab Tingginya Angka Balita Stunting

Gagalnya tumbuh kembang anak, atau kekerdilan pada anak di bawah dua tahun yang biasa kita sebut stunting ini terjadi sesungguhnya karena gagalnya pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga anak lebih pendek atau berperawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berfikir. Umumnya disebabkan asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kurangnya pemenuhan gizi pada anak hingga anak menderita gizi buruk dan terhambat dalam tumbuh kembangnya. 

Kondisi ekonomi yang memburuk kian memperparah, maka banyak masyarakat yang tidak mampu untuk memberikan gizi yang cukup bagi keluarga mereka. 
Selain itu, faktor lainnya status gizi ibu, angka kejadian infeksi di awal kehidupan seorang anak, faktor lingkungan, juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi.

Jika gizi pada anak tidak dicukupi dengan baik, maka akan banyak  dampak yang ditimbulkan seperti gejala stunting yang meliputi hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, perkembangan otak yang tidak maksimal yang dapat mempengaruhi kemampuan mental dan belajar tidak maksimal, serta prestasi belajar yang buruk. Dan gejala lainnya yang menimbulkan penyakit pada tubuh seperti obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi dan osteoporosis.

Di samping itu, banyak ibu yang menghentikan atau setidaknya mengurangi pemberian susu ibu beberapa bulan setelah kelahiran, jauh sebelum berumur dua tahun serta menggantinya dengan susu formula ataupun makanan lain. Hal ini menyebabkan bayi dan balita tidak bisa tumbuh secara maksimal sehingga terjadilah apa yang sekarang disebut dengan stunting. Gaya hidup ataupun kebutuhan hidup yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ibu seperti berkarir atau seperti yang terjadi pada sebagian masyarakat kita yang memaksa  seorang perempuan khususnya seorang ibu dalam hal ini untuk bekerja memenuhi kebutuhan, juga memberi kontribusi yang signifikan.

Islam Mampu Mengatasi Permasalahan Stunting

Dalam kitab-kitab Fiqh disebutkan bahwa seorang ibu yang baru melahirkan hendaknya segera memberikan air susunya kepada anaknya. Penelitian kesehatan modern menemukan bahwa air susu yang keluar pertama kali dari seorang ibu yang melahirkan mengandung colostrum, yang sangat baik untuk bayi karena mengandung anti bodi atau daya imun bagi bayi yang sangat baik untuk pertumbuhan dan kesehatan selanjutnya.

Dalam Al Quran disebutkan, masa menyusui dalam ajaran islam adalah dua tahun. Firman Allah SWT, ”Para ibu, hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyususan.” (QS. al-Baqarah: 233)

Dan sudah menjadi tugas negara untuk mengentaskan segala permasalahan rakyat. Memberikan perlindungan berupa sandang, pangan, papan, pendidikan serta kesehatan yang memadai. Namun, saat ini kapitalisme telah menyebabkan sebagian besar masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sehingga ibu yang seharusnya bertanggung jawab sebagai pengatur rumah tangga sekaligus madrasah pertama bagi anak-anaknya, terpaksa harus keluar rumah untuk bekerja demi membantu ayah mencari nafkah. Tak jarang ditemui bahwa wanita justru menjadi tulang punggung dalam keluarganya dan tak semestinya ini terjadi.

Islam sangat memuliakan wanita, begitu dimuliakannya hingga kedudukan wanita dalam Islam dalam hal mencari nafkah adalah mubah. Ketika seorang perempuan lahir maka ayahnya lah yang menanggung segala kebutuhannya, bertanggung jawab atasnya, hingga dewasa ia menikah maka berpindahlah kewajiban tersebut kepada suaminya.

Begitu mulianya wanita dalam Islam, hingga hanya memberikan tanggung jawab pengasuhan anak kepadanya sebagai ibu. Dan ayah sebagai pencari nafkah.
Islam juga sangat memperhatikan pertumbuhan anak di awal-awal kehidupannya. Al-Quran memberi tuntunan kepada orang tua, khususnya ibu, untuk memberikan asupan gizi yang sangat tinggi nilainya, yakni pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif untuk anak yang baru lahir sampai berumur 2 tahun.

Allah berfirman di dalam Al Quran yang menjelaskan kewajiban umat Islam untuk takut pada Allah dan larangan untuk meninggalkan anak-anak dalam keadaan lemah. "Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar." (TQS. An-nisa: 9).

Sesungguhnya Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang di dalamnya Allah telah memberikan seperangkat peraturan yang mampu menjadi tuntunan hidup manusia sekaligus mampu memecahkan masalah dalam kehidupan manusia, karena sejatinya sang Khaliq yang paling mengetahui ciptaannya.

Maka solusi untuk masalah stunting harus diselesaikan dari akarnya. Yaitu dengan diterapkannya hukum Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Hukum Islam bersumber dari Allah SWT sang Khaliq (pencipta) yang berupa Al Quran dan as-Sunnah sehingga perlindungan negara terhadap rakyat akan memberikan keadilan tanpa memandang miskin dan kaya. 

Penyediaan lapangan pekerjaan adalah salah satu hal utama yang harus dilakukan sehingga setiap keluarga memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan memberikan makanan yang bernutrisi untuk tumbuh kembang anak-anaknya. Maka pembentukan lembaga hingga penggantian msg dengan ikan yang diwacanakan pemerintah saat ini sebagai solusi untuk meminimalisir angka penderita stunting hanyalah solusi tambal sulam, dan bersifat sementara yang tidak menyelesaikan permasalahan rakyat. Wallahu a'lam bi ash shawab.[]

Oleh: Aisy Zahra alkhansa

Posting Komentar

0 Komentar