Strategi Umat Islam Melindungi Diri dari Penindasan oleh Pemerintah Represif atau Kelompok Anti Islam



Islam adalah agama yang mencintai kedamaian serta mengutuk kekerasan dan kedzaliman. di dalam Islam, hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani). Maka sudah selayaknya bagi setiap Muslim untuk tidak berdiam diri atau menutup mata atas penindasan hingga pembantaian yang menimpa saudaranya atas kekejaman rezim apa pun dan mana pun serta kapan pun. 

Seorang muslim sejati bukanlah dia yang diam saat menyaksikan kedzaliman, terutama menyangkut kehormatan serta martabat agama dan saudaranya. Mereka harus memiliki kepedulian tinggi dan sifat anti berdiam diri, karena baginya hanya ada dua pilihan: HIDUP TERTINDAS ATAU BANGKIT MELAWAN (LIVE OPPRESSED OR RISE UP AGAINST). Tidak ada kompromi dengan kedzaliman bahkan walau sampai harus mati untuk suatu prinsip yaitu wajib baginya untuk membela kebenaran. Karena itu bagian dari sifat mulia Rasulullah Saw sebagai Uswatun Hasanah, sebagaimana ia bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49) 

Aktivitas amar makruf nahi munkar wajib dilakukan seraya terus saling bahu membahu untuk mengabarkan kepada dunia serta melakukan counter dan koreksi atas berbagai ketidakadilan yang merajalela. Perintah al-Quran kepada kaum Muslim sangat jelas, saat saudara mereka ditindas dan meminta pertolongan, kaum Muslim wajib memberikan pertolongan kepada mereka. Allah SWT berfirman:“ Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).” Dari ayat ini jelas Islam mewajibkam atas kaum Muslim sedunia termasuk Pemerintah dan rakyat Indonesia, seharusnya menolong dan melindungi semua muslim; memelihara keimanan dan keislaman mereka; sekaligus mencegah mereka dari kekufuran dan kedzaliman yang terus-menerus dilakukan atas mereka. 

Umat hendaknya saling bahu membahu dalam menyeru para pemimpin negeri muslim agar bersatu dan segera mengerahkan kekuatan guna menolong saudara-saudaranya yang tertindas di seluruh belahan dunia, apalagi di negeri sendiri. Berusaha mengetuk pintu hati para pemimpin yang telah tertutup oleh racun fanatisme dan chauvinisme  yang menganggap penderitaan kaum muslimin bukanlah menjadi urusan mereka. Agar segera terbuka dan tersadar. Umat harus segera mencampakkan sikap fanatisme golongan dan menggantinya dengan pemahaman bahwa wajib baginya untuk membela saudaranya karena atas dasar sandaran keimanan. 

Selanjutnya perlu ditegaskan bahwa umat harus menyadari bahwa penderitaan kaum muslimin di mana pun berada, teemasuk di Indonesia adalah menambah daftar panjang betapa besar penderitaan umat Islam saat ini. Masih terang sudah ingatan kita pada Muslim Uyghur, Muslim Rohingya, Pattani Thailand, Moro Philipina, Palestina, Suriah, dan lain-lain. Kesemua penderitaan kaum Muslim itu semakin meneguhkan bahwa betapa butuhnya umat terhadap keberadaan seorang pemimpin yang akan benar-benar mampu menjadi perisai serta pelindung bagi umat pada umumnya dan umat Islam pada khususnya yang kian hari kian tertindas. 

Secara historis, pemimpin yang demikian akan umat temui ketika kita dinaungi dalam sistem kehidupan yang berasal dari Islam yang bernama Khilafah. Keselamatan dan kehormatan seluruh umat akan terjaga hanya ada pada Islam, juga pada kekuasaannya yakni sistem Islam (Khilafah). Sebab Khilafah adalah perisai/pelindung sejati umat Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi saw. “Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia” (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Imam/Khalifah dalam sistem Khilafah akan bertindak sebagai junnah (perisai) bagi umat, karena dialah satu-satunya yang bertanggung jawab atas segala urusan kaum muslimin. Ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi saw.: “Imam/Khalifah itu pengurus rakyat dan hanya dia yang bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Seorang junnah (perisai) bagi umat dalam Islam akan meniscayakan seorang pemimpin yang kuat, berani dan terdepan. Bukan menjadi pemimpin yang pengecut serta lemah dan tunduk dalam intervensi dan kepentingan barat. Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi pada institusi negaranya, yakni Khilafah. 

Kekuatan yang dibangun karena pondasi pribadi diri seorang (Khalifah) dan negara (Khilafah)-nya sama, yaitu akidah Islam. Inilah yang ada pada diri kepala Negara Islam pada masa lalu, baik Nabi saw. maupun para khalifah setelah beliau. Ketika ada wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, sebagai kepala negara, Nabi saw. menyatakan perang terhadap mereka. Mereka pun diusir dari Madinah. Demikianlah yang dilakukan Nabi saw., sebagai kepala Negara Islam saat itu, demi melindungi kaum Muslim. 

Hal yang sama dilakukan oleh para khalifah setelah beliau. Khalifah Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, misalnya, pernah menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja Romawi, dan memaksa dia berlutut kepada Khilafah. Khalifah Al-Mu’tashim, juga di era Khilafah ‘Abbasiyyah, pernah memenuhi permintaan tolong wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Ia segera mengirim ratusan ribu pasukan kaum Muslim untuk melumat Amuriah, mengakibatkan ribuan tentara Romawi terbunuh, dan ribuan lainnya ditawan. 

Demikian pula yang dilakukan oleh Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyah dalam melindungi kaum Muslim. Semuanya melakukan hal yang sama karena mereka adalah junnah (perisai). 

Kesemua itu tentu dasarnya adalah akidah Islam. Karena akidah Islam inilah, kaum Muslim mempunyai mental yang kuat dan selalu berpihak pada kebenaran. Bangkit melawan pada setiap kedzaliman, siap menang atau mati syahid dalam membela dan mempertahankan kebenaran. Rasa takut di dalam hati tidak ada lagi. 

Terbukti musuh-musuh Islam takut luar biasa ketika berhadapan dengan pasukan kaum Muslim. Ketika Raja Romawi pernah berkata “Lebih baik ditelan bumi ketimbang berhadapan dengan mereka (kaum Muslim).” Bahkan sampai terpatri di benak kaum kafir, bahwa kaum Muslim tak bisa dikalahkan. Inilah generasi umat Islam yang luar biasa. Inilah Generasi yang pernah hanya ada dalam sistem Khilafah. 

Bandingkan dengan generasi ataupun para pemimpin pada sistem saat ini, khususnya di negeri ini. Dipenuhi oleh generasi-generasi yang tidak memiliki kecemburuan (Ghirah) terhadap agamanya, begitupun dengan para ilmuwan, ulama dan pemimpinnya memiliki mental pengecut, cinta dunia dan takut mati. Lihat saja bagaimana saat al-Quran dan Nabi Muhammad saw. dinista, para penguasanya justru membela sang penista. Ketika kekayaan alam yang seharusnya dikelola untuk kepentingan rakyat, malah mereka relakan untuk dikuasai swasta bahkan asing dari negara-negara imperialis, jangankan untuk mengambil balik, dan mengusir mereka, memiliki keberanian untuk melakukan negosiasi ulang saja acapkali mereka tak punya. 

Bahkan, justru melalui penguasalah menjadi jalan mudah bagi swasta dan asing dalam menguasai dan menjarah berbagai hasil kekayaan alam negeri ini. Sebaliknya, rakyatnya sendiri seolah dibiarkan hidup dalam kesulitan karena harus mendapatkan semua itu dengan susah payah dan dengan harga yang sangat mahal karena harus membeli dari pemerintah. Dan segudang kedzaliman lainnya yang ditorehkan oleh para pemimpin-pemimpin dalam naungan sistem kapitalis saat ini. 

Oleh karena itu, masihkah rakyat bisa berharap banyak lagi kepada para pemimpin Muslim saat ini? Ada wacana lain untuk mengatasi berbagai masalah negeri. Khilafahlah adalah tawaran untuk menangguk harapan itu. Sebab Khilafahlah pelindung sejati umat sekaligus penjaga agama, kehormatan, darah dan harta seluruh umat manusia (baik umat muslim maupun non-muslim). Khilafah akan menjadi penjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan setiap jengkal wilayah kaum muslimin yang saat ini banyak berusaha direbut oleh para imperialis dan separatis, seperti OPM. 

Semoga segala penderitaan kaum Muslim di seluruh dunia saat, mampu menyadarkan, membuka mata dan hati  kita semua bahwa Khilafah sudah saatnya hadir kembali yang akan menjadikan Islam secara nyata akan membawa rahmat dan keselamatan bagi seluruh makhluk dan isi dunia. 

Sebagai penutup, kami menyeru agar setiap muslim harus memiliki kepedulian yang tinggi dan sifat anti berdiam diri, karena baginya hanya ada dua pilihan: HIDUP TERTINDAS ATAU BANGKIT MELAWAN. Tidak ada kompromi dengan kedzaliman bahkan walau sampai harus mati untuk suatu prinsip yaitu wajib baginya untuk membela kebenaran. 

Aktivitas amar ma'ruf nahi munkar wajib dilakukan seraya terus saling bahu membahu untuk mengabarkan kepada dunia serta melakukan counter dan koreksi atas berbagai ketidakadilan yang merajalela. Umat hendaknya saling bahu membahu dalam menyeru para pemimpin negeri muslim agar bersatu dan segera mengerahkan kekuatan guna menolong saudara-saudaranya yang tertindas di seluruh belahan dunia. 

Setiap muslim perlu terus berusaha mengetuk pintu hati kelompok dan juga para pemimpin yang telah tertutup oleh racun  nasionalisme dan fanatisme yang menganggap penderitaan kaum muslimin seperti di negara lain, di tempat lain dan golongan lain bukanlah menjadi urusan mereka. Umat harus segera mencampakkan sikap fanatisme golongan dan menggantinya dengan pemahaman bahwa wajib baginya untuk membela saudaranya karena atas dasar sandaran keimanan. Tabik...!!!



Oleh: Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum (Pakar Hukum dan Masyarakat) dan Liza Burhan (Analis Mutiara Umat)

Posting Komentar

0 Komentar