Soal Protokol Kampus Anti Khilafah, Prof. Suteki: Open Mind Boss! Bukan Saatnya Bungkam Kebenaran




TintaSiyasi.com-- Menanggapi pernyataan dari salah seorang dosen HTN (Hukum Tata Negara) Universitas Islam Malang terkait protokol kampus anti Khilafah, Pakar Hukum Masyarakat Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum mengajaknya untuk open mind terhadap perubahan yang bersifat disruptif, mendasar, dan mengakar, demikian juga yang terkait dengan gagasan atau dakwah khilafah.

"Open mind, Boss! Bukan saatnya lagi membungkam kebenaran apalagi era Revolusi Industri 4.0 yang menuntut adanya perubahan yg bersifat disruptif, mendasar, dan mengakar atau radikal," tuturnya kepada Tintasiyasi.com, Sabtu (08/12/2020).
  
Menurutnya, sebagai dosen di bidang Hukum Tata Negara, mestinya paham bagaimana sejarah Sistem Tata Pemerintahan Dunia, termasuk khilafah. "Bukannya dibuka wacana untuk meneliti, me-review, mengoreksi jika perlu perihal khilafah, malah sebaliknya antipati terhadap sistem pemerintahan yang sempat berjaya selama ribuan tahun lamanya," ujarnya.

Ia menilai khilafah bukan ilusi, bukan fiktif juga bukan sekadar fiksi melainkan realitas yang pernah kokoh di panggung sejarah peradaban umat manusia. "Sistem pemerintahan ini tercatat dengan tinta emas bahkan oleh para ulama di empat mazhab menorehkan nya sebagai materi dalam kitab-kitab fikih siyasah-nya (fikih politiknya)," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan pentingnya seorang ilmuwan yang seharusnya tidak hanya berkubang di comfort zone (zona nyaman) dan memandang seluruh perlawanan, perbedaan, sanggahan serta kritikan sebagai ancaman terhadap kemapanan dan kenyamanan statis.

"Mari kita lihat muara kejumudan rezim dan ilmuwan yang anti perubahan, anti keterbukaan, anti kritik, anti Islam bahkan memiliki proyek peradaban kampus dengan protokol anti Khilafah," pungkasnya.[] Amah Muna dan Achmad Mu'it

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Khilafah itu sistem islami. kalau di jaman sekarang cenderung hanya wacana dan dengan metode yg bisa kita nilai sendiri.

    Misal : Rasul mendirikan negara di madinah yg memang secara pertahanan alami cukup kuat secara topografi maupun rakyatnya, menyerang madinah dengan pedang dan panah tentu sangat susah.
    Sedangkan Nabi Yusuf cenderung "moderat" yaitu membangun ekonomi suatu negara tanpa merusak sistemnya.
    Nabi Daud "mendirikan" negaranya dengan jihad dengan membantu raja thalut mengalahkan raja jalut. dst

    BalasHapus