Soal Enam Pengawal yang Ditembak, Ketua LBH Pelita Umat Sebut Ini Extra Judicial Killing, Jika Tidak...

foto: skrinsut kompas TV


TintaSiyasi.com-- Menyoal enam pengawal HRS yang meninggal ditembak oleh aparat, Ketua LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan, S.H., M.H mengatakan, hal itu termasuk extra judicial killing jika tidak ada kejadian luar biasa yang mendesak aparat melakukan penembakan. 

"Itu pun harus merupakan situasi luar biasa untuk melindungi keselamatan dirinya dan atau orang lain, misalnya celurit atau pedang hampir menghunus anggota badan. Apabila kondisi hal demikian tidak terjadi, maka dapat dinilai sebagai tindakan tanpa hukum atau extra judicial killing," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Selasa (8/12/2020).

Ia mengutip pernyataan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman yang menyebut, insiden enam orang pengawal Habib Rizieq Shihab meninggal merupakan pembantaian atau extra judicial killing.

"Bahwa apabila terdapat pelanggaran hukum yang dilakukan oleh 6 (enam) orang korban tersebut, seharusnya dapat diproses sebagaimana ketentuan pidana yang belaku," bebernya.

Karena menurutnya, proses hukum tersebut merupakan cerminan dari asas praduga tak bersalah dan memberikan kesempatan bagi pihak yang dituduh untuk melakukan pembelaan secara adil dan berimbang (due process of law). "Dan bahwa aparat dibolehkan untuk menggunakan kekuatan atau kekerasan, terutama dengan senjata api, sebagai upaya terakhir," tegasnya.

Selanjutnya ia menjelaskan, apabila indikasi extra judicial killing terjadi, maka hal itu merupakan suatu pelanggaran hak hidup seseorang yang telah dijamin oleh UUD 1945 dan  UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 

"Itu merupakan suatu pelanggaran hak hidup seseorang yang telah dijamin oleh UUD 1945 dan  UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia seperti hak hidup dan hak atas pengadilan yang adil hal itu merupakan hak asasi yang tidak dapat dikurangi apapun keadaannya," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar