Sistem Islam Tetap yang Terbaik dan Tidak Mengingkari Pancasila



Galamedianews, 26 12 2020 mewartakan bahwa Mantan Kepala BIN Hendropriyono memuji China yang makin maju dengan komunismenya dan menyatakan bahwa Harisy dengan konsistensinya terhadap penegakan ajaran Islam melalui konsep khilafahnya mengingkari Pancasila. Benarkah demikian? Kita sudah tahu, mana ada komunis itu konsisten? Konsisten untuk inskonsisten. Lihat sistem ekonominya? Kapitalis lihat sistem pemerintahannya, otoriter represif. Lihat dasar ideologinya, ateis atau setidaknya material sekukaristik. Itu yang dikatakan konsisten yang baik? Itukah yang mau ditiru?

Kalau khilafah jelas sudah, konsisten berdasarkan hukum Alloh. Sistem ekonominya, bukan liberal kapitalis atau sosial komunis tetapi sesuai dengan tuntunan Alloh dan rasul-Nya yang ditekankan pada kewajiban negara untuk melayani rakyatnya dengan membuat konsep yang jelas dan konsisten tentang kepemilikan sumber daya alam. Mana yg kepemilikan individu, mana kepemilikan umum dan mana kepemilikan negara. Semua kepemilikan diarahkan pada pencapaian kesejehateraan rakyat. 

Dasar ideologinya jelas beda banget dengan komunis yg materialistik, ateis. Islam berdasar monoteis, tauhid. Jelas, tidak abu-abu! Kalau ateis, Anda bisa bayangkan, apa ukuran kebenaran itu semu bahkan tidak ada. Jadi, tergantung penguasa sbg extractive institution hingga menghasilkan hukum manusia (human law) yang sangat liar. 

Sistem pemerintahan Islam bukan demokrasi, teokrasi, monarki, oligarki, okhlokrasi. Bukan itu, tetapi kekhalifahan dengan inti penerapan ajaran Islam secara kaffah (utuh) bersumber pada Al Quran dan Hadist serta ijtihad para ulama terpercaya. Hukum yang akan diterapkan tinggal mengambil dari sumbernya tersebut. Jadi simpel, tidak harus bertele-tele, berdarah-darah seperti pembuatan UU di sistem demokrasi, misal pembuatan UU KPK, UU Omnibus Law Cipta Kerja dll yang meminta tumbal demokrasi.

Islam itu rahmatan lil 'alamin. Itu jelas dan diakui oleh semua orang manusia. Keyakinan itu mestinya diterapkan. Alloh menurunkan Al Quran itu untuk semua manusia setelah Kitab Injil. Secara nalar seharusnya semua manusia beriman dan menjalankan Al Quran. Jadi, di mana salahnya jika ada sebagian umat Islam yang menyeru untuk diterapkannya ajaran Islam secara Kaffah berdasarkan Al Quran dan hadist serta ijtihad para ulama? Partai Islam, ormas Islam atau para alim tentu tidak salah dengan gerakannya yang ingin memperjuangkan tegaknya hukum Alloh di muka bumi yang dijamin melindungi seluruh umat beragama, apa pun. 

Kalau pun kita tetap mendasarkan pengelolaan pemerintahan negara dengan Pancasila, sekarang diteliti saja, ideologi mana yang yang paling sesuai dengan Pancasila? Pasti jawabannya Islam (ideologi dan juga dien). Islam itu progresif, bukan regresif. Mengikuti Islam bukan berarti mundur, tetapi maju, mengikuti peradaban dengan penuh keunggulan di bidang apa pun. Ingat, sejarah kegemilangan ilmu pengetahuan teknologi pun ada dan terjadi pada zaman peradaban Islam. Makanya, baca buku sejarah, baca sirah nabawiyah, baca sejarah peradaban Islam supaya tidak gagal paham terhadap kemuliaan dan keunggulan sistem dan peradaban Islam. Soal jatuh bangun itu hal yang biasa karena pada kenyataannya kekuasaan itu dipergilirkan. So, jangan terlalu baper jika ada dakwah yang ingin menerapkan syariat Islam kaffah karena tidak ada maksud mengingkari Pancasila. Pancasila itu juga karya unggul umat Islam sendiri sehingga tidak ada niat untuk menghancurkannya, sebaliknya ingin kosnsiten menerapkannya melalui penerapan ajaran Islam. Islam berani menjamin, nilai-nilai Pancasila terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan mondial di NKRI ini. Tabik!


Oleh: Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum
Pakar Hukum dan Masyarakat

Posting Komentar

1 Komentar

  1. China bisa maju dengan Komunismenya, Amerika bisa maju dengan Kapitalismenya. Umat islam bisa maju nunggu apa dulu? Padahal Amerika dan China bisa maju dengan ideologinya tentunya karena ijin Allah juga.

    BalasHapus