Sekjen LBH Pelita Umat Sebut Penegakan Hukum di Indonesia di Tahun 2020 Menyedihkan



TintaSiyasi.com-- Terkait penegakan hukum di Indonesia selama tahun 2020, Sekretaris Jenderal Lembaga Bantuan Hukum (Sekjen LBH) Pelita Umat, Panca Putra Kurniawan, S.H., M.Si menilai secara umum masih sangat menyedihkan. "Secara umum potret penegakan hukum di Indonesia dalam tahun 2020 ini masih menyedihkan," ujarnya kepada TintaSiyasi.com, Sabtu (19/12/2020).

Secara khusus dia menyoroti tentang ketidakadilan dan tindakan diskriminatif yang begitu vulgar dipertontonkan oleh penguasa terhadap pihak-pihak yang berseberangan paham dengan mereka (penguasa), khususnya kasus-kasus hukum tentang Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa penanganan kasus-kasus oleh aparat yang melukai rasa keadilan dan diskriminatif masih sering terjadi. Ia memberi contoh kasus penyiraman air keras ke penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, penangkapan para Ustaz atau Ulama, dan juga para aktivis oposisi.

"Demikian kasus kekerasan oleh aparat juga masih menghiasi wajah Indonesia, sampai kasus tewasnya 6 pengawal IB HRS (Imam Besar Habib Rieziq Syihab) yang diduga terjadinya pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) berat oleh aparat," tegasnya.

Dia mengatakan bahwa kasus penembakan 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) yang mengakibatkan mereka tewas dan ditahannya IB HRS di akhir tahun ini dikhawatirkan menjadi titik nadir penegakan hukum, yaitu ketika cita-cita negara hukum (rechstaat) diselewengkan menjadi negara kekuasaan (machstaat).

"Sepertinya kita patut pesimis melihat penegakan hukum tahun 2021, kecuali ada kesadaran dan kekuatan bersama untuk mengkritisi dan mendobrak ketidakadilan. Rasanya kita merindukan sosok-sosok jujur, adil dan berani berpihak pada rakyat yang lahir dari institusi dan aparatur hukum di negara ini," pungkasnya.[] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar