Saat Kezaliman Memuncak, Jatuhmu Tinggal Tunggu Waktu




Sedih. Kecewa. Marah. Berbagai rasa berkelindan dalam diri saat menyaksikan ulama kami diperlakukan bak penjahat perusak negeri. Penangkapan, pemborgolan hingga penahanan HRS, Sabtu (12/12/2020) sungguh mengusik akal sehat dan nurani. 

Di tengah belum usainya penahanan ulama lainnya, seperti Ustaz ABB yang kian sepuh, sakit-sakitan dan lemah di usia 81 tahun. Ustaz Gus Nur, Ustaz Ali Baharsyah, Ustaz Maheer At Thuwalibi. Sebelumnya juga Ustaz Alfian Tanjung, dan deretan ulama lainnya pernah merasakan pengapnya sel penjara. 


Belajar dari Kisah Fir'aun

Ya, zalim adalah diksi yang kian hari kian telanjang dipertontonkan. Meski menolak disebut rezim anti Islam, tapi fakta telah berbicara. Karakter mulkan jabariyyah sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Saw dalam H.R. Imam Ahmad, kian menjelma nyata. Siapa yang mampu memungkirinya? 

Mereka lupa bahwa tiap kekuasaan itu ada usianya. Sebagaimana usia manusia yang dibatasi Allah Swt jumlah angkanya. Memang, kursi kuasa bisa menghalang ajal yang bakal menjemput nyawa?  

Pun mereka lupa bahwa tiap kezaliman memiliki batasannya. Yaitu hukuman Allah kepada pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, yang sering luput dari pengamatan si zalim adalah hukuman Allah yang bersifat tiba-tiba. Sedangkan pelaku kezaliman masih asyik dengan berbagai kezalimannya.

Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah Swt di Laut Merah, justru saat dia berada di puncak kezalimannya. Penenggelaman Fir’aun adalah akibat pupuk-pupuk kezaliman yang ditaburkannya dari singgasana kekuasaannya. Memperbudak Bani Israil, menzalimi mereka, dan mendaku sebagai tuhan. Pun membunuhi anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil setelah dia mendapat mimpi.

Kezalimannya terus berlanjut ketika Musa datang memeringatkan dirinya akan perbudakannya terhadap Bani Israil. Bukannya sadar, Fir’aun menuduh Musa dengan bermacam tuduhan. Dituduh penyihir, pembuat onar, ingin memecah persatuan dan tuduhan lainnya. Mirip dengan stigma negatif yang saat ini rezim lontarkan kepada para ulama hanif. 

Kisah tumbangnya kekuasaan Fir'aun memberikan ibrah (pelajaran), bahwa Allah pasti membalas pelaku kezaliman, meskipun terlihat dalam satu waktu Allah membiarkan pelakunya merajalela dengan kezalimannya. 


Kezaliman Ada Nishabnya

Sementara, kian banyak dan massif kezaliman yang dilakukan, maka do’a-do’a orang yang terzalimi akan mengetuk pintu-pintu langit. Ketika sudah mencapai nishab (batasan)nya, Allah akan hukum dan hinakan pelaku kezaliman. 

Rasulullah Saw bersabda: “Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman nantinya akan menyebabkan kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Terhadap hadits di atas, Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, “Subhanallah, saat seorang zalim bergelimang kenikmatan, berapa banyak air mata para janda mengalir karenanya, berapa banyak hati anak yatim terbakar olehnya dan berapa banyak air mata fakir miskin mengalir disebabkan karena kezalimannya.” (Badaiul Fawaid 3/762)

Salah satu di antara dosa yang Allah segerakan hukuman bagi pelakunya adalah kezaliman. Allah Swt berfirman: 

“Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS Al-A’raf: 182-183)

Imam Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: “Yang sering terjadi adalah pelaku kezaliman akan disegerakan hukumannya di dunia meskipun Allah memberinya tenggat waktu. Karena Allah memberinya kelonggaran sehingga ketika Allah menghukumnya dia tidak akan selamat (dari hukuman Allah).”

Syaikh Abdul Azis Ath-Tharifi mengingatkan besarnya dosa kezaliman yang dilakukan penguasa. Karena objek dari kezaliman penguasa adalah orang banyak. Semakin besar jumlah yang dizalimi maka semakin berlipat pula dosa kezalimannya.

Beliau pun menjelaskan bahwa kezaliman itu memiliki nishab. Jika nishabnya telah tercapai, Allah turunkan hukumannya kepada para pelaku kezaliman. “Jika kezaliman terus merajalela dan sedikit orang yang menolong, maka Allah ingin mempersiapkan sebab-sebab hukuman kepada pelaku kezaliman beserta orang yang diam terhadap kezaliman, yang kemudian Allah akan turunkan kepada keduanya. Mereka tidak mengetahui sunnatullah, sehingga mereka lari dari ujian Allah menuju hukuman Allah.”

Maka, andai Allah Swt menilai kezaliman ini sudah menepati nishab yang Allah tetapkan, semoga Dia membalas segenap keangkuhan mereka. Menenggelamkan singgasananya sebagaimana Dia tenggelamkan istana Fir'aun berikut isinya. 

Mudah-mudahan Allah segerakan hadirnya khilafah 'alaa minhanjin nubuwwah sebagaimana yang pernah Dia genggamkan pada Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan para khalifah yang menerapkan syariat-Nya, semata ingin meraih ridlo Allah Swt.[]


Oleh: Puspita Satyawati
Analis Politik dan Media

Posting Komentar

0 Komentar