Rohingya Dibuang ke Pulau Tak Layak Huni


Derita muslim Rohingya seakan tak ada habisnya. Setelah sekitar 3 tahun lalu mereka terpaksa mengungsi dan melarikan diri dari kekejaman militer di Myanmar negeri mereka, kini di Bangladesh tempat mereka berlindung di kamp pengungsian selama ini, mereka menghadapi masalah baru yang tak kalah memilukannya.

Pada bulan ini pihak berwenang Bangladesh mulai merelokasi sekitar 1600 pengungsi ke pulau terpencil tak berpenghuni yang rawan banjir dan ditengarai tidak cocok dihuni manusia, di teluk Bengal, pulau Bhasan Char. Yang menurut sebagian pengungsi mereka dipaksa pindah meski tak setuju dan diluar keinginan mereka sebagaimana yang mereka katakan kepada BBC pada Oktober bahwa mereka tidak ingin dipindahkan ke pulau tersebut. 

Hingga pihak pegiat hak asasi pun mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap pemaksaan ini, meski sebelumnya pihak Bangladesh melalui wakil pejabat pemerintahnya yakni Mohammad Shamsud Douza, yang bertanggung jawab atas pengungsi, mengatakan relokasi itu bersifat terbuka. (BBC news, 6 Desember 2020).

Fakta diatas mengungkapkan bahwa dengan sekat nasionalisme menghalangi Bangladesh mewujudkan ukhuwah islamiyah terhadap saudara seakidah mereka. Perlindungan layak sebagai tetangga terdekat dan saudara seakidah, mustahil didapat muslim Rohingya hanya karena mereka tidak sebangsa. Pun bagi lembaga internasional yang seharusnya mampu melindungi segenap manusia, seperti: PBB, UNHCR maupun HRW yang hanya menjadi lembaga penghasil konvensi, tanpa kemampuan menjadi gantungan harapan solusi. 

Sejak kaum muslimin tidak memiliki institusi negara yang satu yakni Khilafah, derita dan permasalahan kaum muslimin datang silih berganti. Muslim Palestina, Syiria, Uighur, Kashmir, Rohingya dan wilayah lainnya menghadapi deraan fisik sedangkan muslim yang lain mengalami penjajahan non fisik. Karena Khilafah adalah junnah (pelindung) dan Ro’in (yang mengurus urusan rakyat, bahkan bagi non muslim yang menjadi warga negaranya). Dengan ketiadaan Khilafah otomatis kaum muslim tidak lagi memiliki pelindung dan pengurus mereka.

Padahal dalam sejarah yang mashur disebutkan bahwa di masa kekhilafahan, jangankan meminta pertolongan dan perlindungan ke negara lain, yang ada justru khilafah yang menolong bangsa lain. Ketika Irlandia, yang notabene bukan muslim,  dilanda bencana  kelaparan hebat pada sekitar 160 tahun silam, khilafah Utsmani mengulurkan bantuan yang tidak sedikit yakni  10.000 pound ditambah berkapal-kapal bahan makanan yang diterima dengan suka cita oleh penduduk Irlandia.  

Karena dalam sistem Islam menjaga nyawa manusia termasuk dalam prinsip-prinsip yang dianut negara, disamping penjagaan terhadap hak dasar manusia yang lain. Sehingga mustahil apa yang menimpa muslim Rohingya hari ini akan terjadi pula dalam masa kekhilafahan terdahulu maupun yang akan datang.

Maka tak ada jalan lain bagi kita hari ini selain berjuang menegakkan kembali kekhilafahan sebagaimana yang dicontohkan khulafa’ur rasyidin agar prinsip-prinsip ajaran islam bisa tegak kembali sehingga hak kaum muslimin tidak lagi dilanggar maupun  dilecehkan. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Khosiah Ummu Hasbian

Posting Komentar

0 Komentar