Rohingya: Antara Sekat Kebangsaan dan Ukhuwah Islamiyah


“Perumpamaan orang-orang muslim dalam hal kasih sayang dan tolong menolong yang terjalin antar mereka adalah laksana satu tubuh. Jika satu bagian merasa sakit maka seluruh bagian tubuh akan bereaksi, dengan tidak tidur dan demam” (HR. Muslim). Hadist tersebut menggambarkan bagaimana islam mewajibkan kaum muslim untuk saling tolong-menolong terhadap saudara muslim yang lain dalam setiap waktu dan keadaan.

Namun pada kenyataannya, sekalipun saat ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tengah dihimpit berbagai krisis multidimensi, tidak menjadikan umat bersatu-padu dan bahu-membahu merubah kondisi umat. Kaum muslimin tampak kehilangan arah, bagai anak ayam yang kehilangan induknya. 

Celakanya kini umat Islam sudah 'terbiasa' hidup dalam kesengsaraan, kebodohan, kemiskinan dan kelaparan, bahkan tak jarang mengalami pelecehan, penganiayaan, penindasan sampai pada pembantaian massal. Tragedi memilukan yang dialami saudara kita Muslim Rohingya misalnya, menjadi potret buruk kondisi umat yang lemah dan sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan pada para pembenci Islam.

Pemerintah Myanmar, diberitakan telah melakukan “penindasan institusional” dan “pelanggaran HAM berat” terhadap muslim Rohingya. Menurut laporan Ontario International Development Agency (OIDA) sejak tahun 2017, hampir 24 ribu muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan negara Myanmar. Lebih dari 34 ribu orang di bakar, 114 ribu disiksa, 18 ribu perempuan dan gadis Rohingya diperkosa, 115 ribu rumah dibakar, sementara 113 lainnya dirusak (Republika.co.id,5/10/2020).

Atas tindakan keras militer Myanmar, Lebih dari 730.000 muslim Rohingya melarikan diri dan terpaksa mengungsi di Cox’s Bazar, kamp pengungsi di negara tetangga, Bangladesh. Berharap mendapat kehidupan yang aman dan layak di kamp pengungsian, kini mereka menghadapi permasalahan yang tak kalah memilukan.

Dilansir dari laman news.okezone.com, Pemerintah Bangladesh mulai mengirim sebanyak 1.600 pengungsi Rohingya ke pulau Bashan Char pada Jumat (4/12). Sementara beberapa ribu pengungsi lainnya sedang diproses pemindahannya dalam beberapa hari mendatang. 

Terkait pemindahan pengungsi Rohingya, Menteri Luar Negeri Bangladesh A.K.Abdul Momen mengatakan bahwa semua pengungsi yang dipindahkan telah setuju. Namun pegiat Hak Asasi Manusia justru mengatakan sebaliknya, dimana para pengungsi tidak secara sukarela dipindahkan (5/12/2020). 

Penolakan tersebut sesungguhnya bukan tanpa sebab. Pasalnya menurut Human Rights Watch, Amnesti International dan Fortififty Rights, pulau yang menjadi lokasi pemindahan sangat rentan terhadap bencana alam dan tidak cocok untuk dijadikan tempat pemukiman penduduk.

Lebih jauh Amnesti International merilis laporan di awal tahun 2020 terkait dugaan kondisi kehidupan tidak layak yang dialami oleh 306 pengungsi Rohingya yang sudah lebih dulu menghuni pulau Bashan Char. Dimana para pengungsi yang tinggal di pulau tersebut harus rela hidup di ruangan yang sempit dengan segala keterbatasan fasilitas makanan dan perawatan kesehatan. Lebih parah lagi pekerja lokal melakukan aksi pemerasan pada para pengungsi, sedangkan prajurit angkatan laut setempat melakukan pelecehan seksual terhadap Muslim Rohingya disana (viva.co.id, 6/12/2020).

Kondisi memilukan yang tengah dihadapi oleh Muslim Rohingnya, ironisnya tidak membuat para pemimpin Islam dunia tergerak hatinya dan turun tangan menyelesaikan masalah mereka. Dan tentu saja badan PBB yang digadang-gadang menjadi 'super hero' yang menjaga perdamaian dunia, diam seribu bahasa dan tak banyak ikut campur dalam konflik yang melibatkan tragedi Rohingya khususnya dan kondisi kaum muslimin pada umumnya. 

Padahal Muslim Rohingya saat ini tengah terusir dari tanah kelahirannya, tanpa ada pihak yang mampu melindungi hak-hak mereka. Mereka menjadi umat 'terbuang' yang hidup terlunta-lunta dan tiada henti meminta suaka pada negeri-negeri muslim di seluruh penjuru dunia.

Demikianlah kondisi umat saat ini, yang tidak lagi menjadi 'satu tubuh' dan cenderung tidak memerdulikan satu sama lain. Para pemimpin negeri muslim sibuk mencari kekuasaan dan memenuhi kepentingan mereka. Dimana mereka tidak lagi berempati pada kesengsaraan yang tengah melanda saudara sesama muslim lainnya semisal Muslim Rohingya, Uighur, Palestina dan Yaman.

Ukhuwah Islamiyah yang sejatinya menjadi pemersatu umat, kini nyatanya tengah diobrak-abrik oleh konsep negara bangsa. Yang pada akhirnya kaum muslimin terpecah-pecah menjadi Muslim Indonesia, Malaysia, Arab, Turki dan bangsa-bangsa lainnya. Kaum muslimin ironisnya tidak lagi merasa menjadi bagian dari umat yang satu, dan hanya fokus pada urusan di wilayah negara mereka masing-masing.

Adapun Ukhuwah Islamiyah merupakan hubungan persaudaran yang didasari oleh akidah, dimana kaum muslimin saling berkasih sayang dan saling memberi perlindungan satu sama lain tanpa adanya batas bangsa, ras dan suku. Kondisi semacam ini hanya terwujud ketika kaum muslimin hidup dibawah naungan daulah khilafah yang terbukti selama 13 abad menyatukan berbagai macam bangsa di dunia.
 
Selama masa kejayaan Islam, umat muslim bersatu dan tidak tercerai berai meskipun memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Hal ini tidak lain karena landasan persatuan di dalam Islam adalah akidah Islam. Berbeda halnya dengan kondisi saat ini, semenjak runtuhnya daulah khilafah pada tahun 1924 kaum muslimin menjadi tercerai berai dengan sekat kebangsaan yang menjulang tinggi.

Dan kini ketika umat mencampakkan perjuangan dalam penegakan kembali Daulah Khilafah dan bertahan dengan dikotomi bangsa-bangsa, justru kesengsaraan serta kebinasaan yang senantiasa menggentayangi umat. Kebodohan dan kemiskinan menjadi label yang sering disematkan pada kaum muslimin. 

Bahkan istilah-istilah keji semacam teroris dan narasi radikal menjadi 'nama lain' kaum muslimin yang diberikan oleh para musuh Islam. Maka sampai kapan umat Islam akan bertahan dengan kondisi semacam ini? Tidakkah umat berharap mendapat kemenangan melalui penegakan Islam kafah di muka bumi dengan adanya Khilafah Islam? []

Oleh: Trisnawati S.Kom, Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar