Reuni Akbar 212 dan Geliat Kebangkitan Umat




TintaSiyasi.com-- 212 tetap memesona. Auranya masih memikat umat Islam di Indonesia untuk mengenang momentum dan menikmati semangat ukhuwahnya. Reuni akbar pertahunnya sejenak menjadi pelipur lara bagi umat Islam yang hingga kini masih tidak baik-baik saja. 

Tak dipungkiri. Ibarat tubuh, kondisi umat Islam sedang sakit. Problem A hingga Z melanda yang berujung pada subordinasi umat dalam segala lini kehidupan. Besarnya jumlah kaum muslim tidak serta-merta menjadikannya pihak berkuasa. 

Kini, umat Islam berhadapan dengan dominasi sekularisme kapitalis liberal yang merasuk ke dalam tubuh nyaris sempurna. Serangan pemikiran melalui opini buruk dan stigmatisasi seperti radikal, teroris, intoleran pun terus diarahkan demi memojokkan ajaran Islam dan pejuangnya. 

Tetapi kasus penistaan agama (ayat Al Maidah) pada tahun 2016 telah membuktikan bahwa umat Islam masih ada dan berjiwa. Bersatunya jutaan kaum muslim dalam Aksi 411 dan Aksi 212 menjadi momentum menggeliatnya kebangkitan umat Islam di Indonesia. 

Reuni akbar 212 yang digelar tiap tahun menjadi sarana merawat persatuan. Tahun ini meski dalam kemelut pandemi, umat Islam tetap bersemangat mengadakan reuni akbar melalui media virtual agar ukhuwah tetap terpintal. Lantas, bagaimana agar geliat kebangkitan ini terus bergerak menuju tegaknya kalimat Allah secara nyata?


Geliat Kebangkitan Umat

Geliat kebangkitan umat Islam dalam fragmen 212 nampak pada pertama, mereka hadir dengan spirit membela Al-Qur’an yang dinistakan oleh Ahok. Motivasi akidah telah menggerakkan berbagai kalangan dari seluruh penjuru nusantara untuk menuntut hukuman bagi pelaku. 

Kedua, semangat pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan waktu, tenaga, dana, juga bersiap mengorbankan nyawa. Bahkan demi mengikuti Aksi 212, ribuan warga Ciamis rela berjalan kaki berhari–hari menuju Jakarta dengan sambutan masyarakat di sepanjang jalan yang luar biasa. 

Ketiga, ikhlas bergerak tanpa melihat siapa yang memimpin dan dipimpin. Mereka memadati lokasi acara untuk tujuan yang sama, memprotes penghina Al-Qur’an.  

Tanda–tanda di atas menjadi modal besar bagi kebangkitan umat yang hakiki. Tinggal bagaimana para tokoh dan penggerak umat senantiasa menjaga momentum ini dan meningkatkan kesadaran umat terhadap pentingnya menerapkan Al-Qur’an secara menyeluruh.


Mundur dan Bangkitnya Umat dalam Lintasan Sejarah

Dalam perspektif sejarah, umat Islam pernah sakit, mundur dan tertinggal. Namun umat tidak pernah mati. Ada tiga fase kehidupan kaum muslimin yang menjadi bukti bangkitnya umat dari kelemahan. 

Pertama, merujuk pada perjalanan dakwah Rasulullah Muhammad Saw. Kesulitan menyelimuti babak awal perjuangan beliau dan para sahabat di Mekkah. Berbagai tantangan, ancaman, bahkan penganiayaan dari kaum kafir Quraisy tidak menyurutkan langkah mereka dalam menyebarkan risalah Islam. 

Hingga datanglah pertolongan Allah Swt dari arah Madinah dengan hadirnya kaum yang berba’iat kepada Rasulullah yang terkenal dengan peristiwa Ba’iat Aqabah Satu dan Dua. Peristiwa hijrah menjadi tonggak sejarah kebangkitan umat Islam. Selanjutnya kekuasaan Islam meluaskan pengaruhnya ke seluruh Jazirah Arab, Persia dan wilayah lainnya.

Kedua, sepeninggal Rasulullah Saw, berlangsunglah masa Khulafaur Rasyidin dilanjutkan era kekhalifahan Islam. Islam saat itu menguasai peradaban dunia. Banyak karya kelimuan lahir dari tangan ilmuwan Muslim. 

Namun umat mulai mengalami perpecahan pada era Abbasiyah yang membuka jalan bagi pasukan Salib menguasai wilayah muslim pada tahun 1096 M. Selama puluhan tahun kaum muslim mengalami kekalahan di Perang Salib, tetapi mereka tidak menyerah dan terus berikhtiar. Tampillah Shalahuddin Al Ayyubi memimpin pasukan Islam membebaskan kembali kota-kota di Palestina dan Suriah sehingga kemenangan berada di tangan kaum Muslim.

Ketiga, invasi bangsa Mongol pada tahun 1258 M menyebabkan runtuhnya kekuasaan Abbasiyah di Baghdad sekaligus rusaknya kekuatan politik Islam. Warisan peradaban dan ilmu pengetahuan dihancurkan dengan membakar perpustakaan dan menenggelamkan ribuan kitab ke dalam sungai Dajlah sehingga warna airnya berubah akibat tinta yang larut. 

Tetapi umat Islam tidak menyerah. Terus melakukan dakwah dan jihad. Pasukan Mongol yang awalnya membantai kaum muslim kemudian memeluk Islam. Sampai sekarang, penduduk di negara–negara Asia Tengah tepatnya pecahan dari Uni Soviet beragama Islam karena nenek moyangnya yaitu bangsa Mongol masuk Islam.


Menuju Kebangkitan Umat Hakiki

Setelahnya, sekitar dua abad terakhir ini umat Islam menderita sakit lagi. Runtuhnya kekhalifahan terakhir yaitu Utsmaniyah pada tahun 1924 M berakibat tercerai–berainya kesatuan kaum muslim dan tidak diterapkannya Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penderitaan umat terjadi karena dipisahkan dengan Islam aturan kehidupannya. 

Kenyataan ini tidak boleh membuat umat Islam ragu dan kehilangan harapan untuk bangkit kembali. Umat telah memiliki modal kebangkitan utama yaitu keimanan dan keyakinan akan pertolongan Allah, serta ajaran hidup yang lengkap dan sempurna. Selain itu, ketersediaan sumber daya manusia dan kayanya sumber daya alam di negeri -negeri kaum muslimin.  

Dibandingkan dekade sebelumnya, kesadaran umat dalam menjalankan ajaran agamanya kini kian meningkat. Tanda- tanda kemenangan pun mulai nampak. Umat Islam khususnya di Indonesia mulai mampu menguraikan rantai yang menjerat hati dan pikiran mereka selama ini. Umat mulai menyadari kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem kehidupan selain Islam dan rindu akan kembalinya sistem Islam sebagai solusi kehidupan.

Di sinilah pentingnya, peran tokoh dan penggerak umat dalam meningkatkan taraf berpikir umat dan senantiasa mengajak mereka berjuang melanjutkan kehidupan Islam. Sebagaimana model kehidupan yang pernah dibangun oleh Rasulullah Saw dan diikuti oleh para sahabat, serta diterapkan di era kekhalifahan hingga keruntuhannya. Inilah wujud kebangkitan hakiki.

Ke sanalah mestinya energi Al-Qur’an yang demikian dahsyat mampu menggerakkan jutaan umat dalam Aksi Bela Islam terus diarahkan. Karena ajaran Islam hanya bisa terjaga, seluruh ayat Al-Qur’an bisa terlaksana, ulama akan menjadi sosok mulia, dalam sistem Islam yang menjamin penerapan syariat Islam kafah. Itulah khilafah ala minhajin nubuwah. Tegaknya sekaligus akan menutup keberadaan para penista agama. Sambut hadirnya dengan perjuangan nyata. Allahu akbar!


Oleh: Puspita Satyawati (Analis Politik dan Media)

Posting Komentar

0 Komentar