Reuni 212: Momentum Bersejarah Menuju Persatuan Umat



Reuni 212 menjadi 'acara tahunan' para peserta aksi 212. Aksi 212 adalah demonstrasi terkait kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2016.

Massa yang melakukan aksi saat itu memutihkan Monas. Setelahnya, setiap tahun para peserta aksi 212 berkumpul kembali di Monas untuk reuni.

Reuni ini menjadi berbeda pada tahun 2020 karena tidak diberikannya izin melakukan aksi di Monas. Reuni kemudian dilakukan secara virtual. melalui streaming di channel YouTube Front TV.

Acara reuni ini dinamai Spirit 212 Dialog Nasional 100 Ulama dan Tokoh. Dengan tema 'Revolusi Akhlak, Solusi untuk Indonesia yang Bermartabat'.(detikcom, 2/12/2020),

Reuni 212 merupakan agenda tahunan yang rutin diselenggarakan oleh umat Islam. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat persatuan kaum muslimin di Indonesia. 

Walaupun dilakukan secara virtual namun tak menyurutkan semangat kaum muslimin. Mereka justru antusias menyimak beragam topik pembahasan mulai dari dialog nasional 100 ulama hingga agenda muhasabah dan ukhuwah untuk menyatukan umat.

Masya Allah semangat dan kerinduan umat Islam ternyata tetap berkobar walaupun tengah berada di kondisi yang terbatas. Mengapa semua bisa terjadi? Karena Islam adalah agama fitrah yaitu agama yang pasti amat cocok dengan kondisi pemikiran dan perasaan manusia.

Salah satu fitrah manusia adalah berkumpul dan bersosialisasi. Apalagi bagi muslim berkumpul mengikat hati dan pikiran dengan sesama muslim adalah kenikmatan. Ukhuwah Islamiyah adalah persatuan, persaudaraan yang tidak saja membahagiakan tetapi juga membawa berkah. Karena itu, sekalipun telah berlalu aksi 2 Desember atau aksi Bela Islam ke-3 atau yang lebih dikenal dengan aksi 212 sejak pertama kali dilakukan pada tahun 2016 gelora nya masih terasa hingga hari ini.

Masih ingat 2016 silam? Kita saksikan massa tak hanya datang dari Jakarta dan sekitarnya. Ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Madura, Papua, Aceh. Bisa dikatakan dari Sabang hingga Merauke massa datang ke Jakarta dengan biaya pribadi.

Dengan dominasi baju putih, semua tumpah ruah menuju Jakarta.
Tak pernah penulis melihat demo dengan massa sebanyak itu dan berjalan sangat tertib. Seperti yang kita ketahui bahwasannya kawasan Monas yang begitu luas bisa penuh dengan massa bahkan lebih.

Mungkin inilah unjuk rasa dengan jumlah massa paling banyak sepanjang sejarah berdirinya negara kita. Bisa jadi pula, ini termasuk unjuk rasa dengan jumlah massa terbesar di belahan dunia dan berjalan tertib, damai dan bersih tanpa sampah-sampah berserakan.

Meski tahun 2020 pandemi Covit-19 menghalangi pertemuan langsung jutaan kaum muslim namun tautan hati mereka terwakili dengan momen virtual peringatan 212. Ya, Kerinduan itu pasti ada. Berkumpul dengan saudara seiman berbagi semangat, ide, perasaan juga makanan.

Berbagai keindahan syariat Islam terjadi dan terasa oleh yang hadir langsung ataupun yang tidak. Kebersihan terjaga, keamanan terkendali, tertib bahkan tetap menghargai non-muslim. Hingga banyak diantara mereka yang turut hadir dan turut merasakan adab dan keindahan Islam.

Bayangkan, itu hanya sebagian momen dan sebagian hukum saja yang diterapkan. Bagaimana bila Islam Kaffah yang berlaku? Bagaimana bila semua muslim benar-benar berkumpul selamanya dalam naungan Khilafah bukan sekedar berkumpul karena momen tertentu dan kemudian kembali pulang bergumul lagi dengan masalah-masalah kehidupan yang muncul karena Islam tidak diterapkan tetapi diganti dengan kapitalisme?

Kita tentu rindu berIslam Kaffah bukan? Kita rindu selalu terjalin ukhuwah bukan? Semua ini hanya akan terjadi jika kaum muslim hidup dalam satu naungan yaitu naungan Khilafah Islamiyah.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam alquran surat Al Imron ayat 103

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ


Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk

Para Mufassirin bersepakat makna hablillah itu adalah agama Allah artinya wajib bagi muslim untuk berpegang teguh pada kitab suci alquran dan petunjuk Nabi Saw.

Lalu institusi mana yang mampu untuk merealisasikan penerapan alquran dan as-sunnah jika bukan Khilafah? Maka hanya Khilafah sajalah yang mampu untuk menjaga tercerai-beraikannya kaum muslimin. Semoga di tahun depan kita mampu untuk berkumpul dalam naungan Khilafah tidak lagi hanya berkumpul dalam momen tertentu saja.[]

Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar