Resesi di Tengah Pandemi: Buah Ekonomi Kapitalisme, Islam Solusinya!



Dampak ekonomi saat terjadi resesi sangat terasa dan efeknya bersifat domino pada kegiatan ekonomi. Semisal, ketika investasi anjlok saat resesi, maka secara otomatis akan menghilangkan sejumlah lapangan pekerjaan yang membuat angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) naik signifikan. Produksi atas barang dan jasa juga merosot sehingga menurunkan PDB nasional. Jika tidak diatasi maka resesi akan menyebar ke berbagai sektor. Efek tersebut bisa berupa macetnya kredit perbankan hingga inflasi yang sulit dikendalikan atau sebaliknya terjadi deflasi. Juga neraca perdagangan yang minus dan berimbas langsung pada cadangan devisa. Akhirnya, banyak bisnis terpaksa harus gulung tikar.

Negara-negara yang mengalami resesi diantaranya : pertama, Singapura, negara tetangga Indonesia ini dinyatakan mengalami resesi ekonomi setelah pertumbuhan perekonomian pada kuartal I mengalami kontraksi hingga 2,2% secara tahunan dan kuartal II 2020 minus hingga 41,2 %, sebagai dampak dari penerapan kebijakan Circuit Breaker atau kebijakan lockdown parsial pada 7 April hingga 1 Juni 2020. Ini merupakan kontraksi terbesar sepanjang sejarah Singapura.

Kedua, Korea Selatan juga menyusul masuk dalam resesi ekonomi. Negara dengan perekonomian terbesar ke empat Asia itu mengalami penyusutan ekonomi sebesar 3,3 % pada kuartal II 2020.

Ketiga, Hongkong masuk dalam daftar resesi ekonomi lebih dalam setelah kuartal II 2020, ekonomi Hongkong mencapai minus 9%. Keempat, Jepang menjadi negara Asia berikutnya yang terjerat resesi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Jepang dilaporkan minus 3,4% pada periode januari-maret 2020 (kuartal I), 

Kelima, Amerika Serikat negara adidaya Amerika Serikat juga tak luput dari badai resesi. Pertumbuhan ekonomi negara ini anjlok mencapai minus 32,9% pada kuartal II 2020. Sebelumnya pada kuartal I 2020, ekonomi negeri paman sam ini mengalami pertumbuhan negatif sebesar 5 %. Sehingga resesi pada kuartal II tahun ini menempatkan AS ke kondisi perekonomian terburuk sejak 1947 silam. Keenam, Jerman di benua Eropa, Jerman menjadi negara yang masuk dalam resesi ekonomi, dimana pada kuartal II 2020 pertumbuhan ekonominya minus 10,1%, ketujuh, Prancis, Pertumbuhan ekonomi Prancis menurun sangat drastis pada kuartal II 2020. Prancis mengalami resesi ekonomi stelah pertumbuhan ekonomi mencapai minus 5,8%. Kedelapan, Italia, Perekonomian Italia semakin memburuk akibat pandemi covid-19 karena pada kuartal II 2020 pertumbuhan ekonomi negara ini mencapai minus 4,7 %. Oleh karena itu, Dampak pandemi Covid-19 di sektor ekonomi tengah dirasakan oleh semua negara di dunia. Bahkan diakui oleh mentri keuangan, Sri Mulyani bahwa perekonomian dunia sudah masuk pada kondisi resesi dan mulai masuk pada potensi depresi karena pandemi covid-19. 

Negara-negara yang mengandalkan ekspor-impor sebagai pemantik pertumbuhan ekonomi, tentu resesi ini berpengaruh besar karena permintaan global anjlok. Mitra-mitra ekspor-impor juga melakukan system pembatasan barang, sehingga alur ekspor-impor terhambat. Ekonomi Indonesia sendiri berorientasi pada permintaan domestic sehingga meskipun negara-negara maju resesi, Indonesia tidak terkena imbasnya, ujar Peter Abdullah, Ekonom Center of Reforms on Economic (CORE) saat dihubungi oleh Liputan6.com, Selasa (4/8/2020).

Di lain sisi, Menurut Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad, Melihat negara tetangga seperti Singapura tengah mengalami resesi ekonomi, maka sudah seharusnya Indonesia juga waspada, sebab Singapura menjadi hubungan perdagangan dan investasi yang cukup penting bagi Indonesia, Arus barang yang keluar masuk dari Indonesia sebagian lewat perhubungan Singapura. Apalagi negara-negara lain sebagai pasar terbesar Indonesia ikut terseret, Iapun menyarankan untuk pasang mata dengan kondisi perekonomian negara-negara seperti Cina, Amerika Serikat, Jepang, dan India. Tidak hanya perdagangan dengan ke empat negara tersebut, tapi juga sektor investasi dan pariwisata turut kena imbasnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka penduduk miskin mengalami peningkatan, per maret 2020 tercatat 26,42 juta penduduk miskin di Indonesia, bertambah 1,63 juta orang terhadap September 2019. 

Dilansir dari CNN Indonesia (4/8/2020) negara yang diprediksi bisa mempertahankan kondisi ekonominya untuk tetap tumbuh dan terhindar dari resesi adalah Cina, Indonesia, Mesir, dan India. Cina mampu tumbuh 3,2% pada kuarta II 2020 setelah mengalami kontraksi buruknya, yakni minus 6,8% pada kuartal I 2020. Ekonom Universitas Indonesia Fitra Faisal mengatakan populasi penduduk yang cukup besar membuat negara tersebut bisa mengandalkan konsumsi domestiknya untuk memacu pertumbuhan ekonomi, sehingga mereka relative bisa survive, padahal mereka pertama kali terkena covid-19. Jadi, kekuatan domestik kunci yang bisa menyelamatkan perekonomian di tengah pandemi.

Negara lain yang diprediksi lolos dari resesi adalah Mesir yang populasi penduduknya 98 juta jiwa, dimana pertumbuhan ekonomi Mesir pada kuartal I 2020 tumbuh 5%. Dalam tiga tahun terakhir, perekonomian Mesir didorong oleh kenaikan pariwisata, remitansi pekerja mesir di luar negeri, serta investasi dari penemuan-penemuan ladang gas alam. Selanjutnya, India juga diprediksi bisa lolos dari jurang resesi, pasalnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 tumbuh sebesar 3,1% meskipun Goldman Sach memprediksi PDB India pada kuartal II 2020 terkontraksi hingga 45% namun akan rebound kuartal III dan IV, akan ada pemulihan dengan kurva berbentuk V yang sangat tajam menurut NK Singh ketua komisi keuangan India seperti dikutip Thehindu.com.

Menganalisis Resesi sebagai Sakit Bawaan Kapitalisme 

Resesi sebenarnya hal biasa dan kerap terjadi dalam siklus perekonomian kapitalisme. Negara sekelas Amerika Serikat (AS) saja sudah mengalami puluhan kali resesi. Adapun krisis ekonomi 2020 yang diklaim terparah dari krisis ekonomi 1930 yaitu : pertama, menyebarnya covid-19 yang menyebabkan kepanikan luar biasa bagi perekonomian global (guncangan ekonomi) dan berpengaruh sangat besar bagi lumpuhnya perekonomian dunia sehingga membuat tenggelam dalam krisis. Kebijakan lockdown brutal (baik sektor non riil maupun sektor riil) diproyeksi menyusutkan pertumbuhan ekonomi global secara dramatis. Padahal sektor riil-lah yang menjadi urat nadi perekonomian. Kedua, berasal dari karakter system ekonomi kapitalisme itu sendiri yang rentan krisis. Pondasi system ekonominya yang dibangun dari struktur ekonomi yang semu yakni ekonomi sektor non riil, dimana bertumpu pada tiga pilar utama yaitu 

 (1) system mata uang yaitu uang kertas (dominasi dollar) yang hanya berbasis pada kepercayaan (trust), bukan pada nilai intrinsiknya. Melalui perjanjian Bretton Woods, dollar dijadikan mata uang dan mendominasi perekonomian global, akibatnya krisis rentan terjadi.

 (2) system utang piutang yang berbasis bunga (interest) yang bersifat tetap (fix rate). System utang piutang seperti ini diwujudkan pada system perbankan. Hutang piutang riba menciptakan masalah perekonomian yang besar, hingga kadar hutang pokonya menggelembung seiring dengan waktu, seiring dengan presentase riba yang diberlakukan kepadanya. Karena ketidakmampuan sebagian besar individu dan negara untuk mengembalikan pinjaman dan melanjutkan produksi menghantarkan pada krisis ekonomi. 

(3) system investasi yang berbasis pada perjudian (speculation). System investasi model ini diwujudkan dengan jual beli saham, sekuritas, obligasi, dan komoditi dilakukan tanpa adanya syarat serah terima komoditi yang bersangkutan, bahkan bisa diperjualbelikan berkali-kali, tanpa harus mengalihkan komoditi tersebut di tangan pemiliknya yang asli. Semuanya itu memicu terjadinya spekulasi dan goncangan di pasar. Begitulah berbagai kerugian dan keuntungan terus terjadi melalui berbagai cara penipuan dan manipulasi yang berjalan terus-menerus dan berulang hingga menjadi malapetaka ekonomi.

Semuanya itu menunjukkan bahwa resesi yang terjadi bukanlah semata-mata karena covid-19 akan tetapi merupakan cacat bawaan system kapitalisme yang bertumpu pada pasar keuangan (sektor non riil) sehingga pertumbuhan ekonominya palsu, dimana pertumbuhannya hanya seputar angka. Tidak aneh jika krisis ekonomi berawal dari sektor ini dan dampaknya sangat luas ke seluruh belahan dunia dalam bilangan hari, bahkan detik. Selama masih menerapkan system ekonomi kapitalisme, krisis ekonomi akan selalu terjadi. Dampaknya, kesejahteraan rakyat tergadai. Oleh karena itu tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan umat manusia di dunia, kecuali dengan menghentikan kapitalisme beserta turunannya termasuk system ekonominya. Dan menghadirkan system yang shahih untuk menggantikan system yang bathil ini. Tentu system ini bukan berasal dari manusia, melainkan system yang langsung dibimbing oleh wahyu dan langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW yaitu system islam (Khilafah). 

Islam Solusi Tunggal Resesi Ekonomi

Islam sebagai agama paripurna memiliki solusi menghadapi krisis, sistem ekonomi islamlah satu-satunya solusi yang ampuh dan steril dari semua krisis ekonomi. Karena system ekonomi Islam telah mencegah semua faktor yang menyebabkan krisis ekonomi terjadi dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Khilafah sangat mampu mengatasi krisis ekonomi karena system ekonomi islam dibangun dengan prinsip dan paradigma yang benar:

Pertama, khilafah akan mengakhiri dominasi dollar (uang kertas) dengan system moneter berbasis dinar dan dirham. Dinar-dirham merupakan alat tukar yang adil bagi semua pihak, terukur, dan stabil. Dalam perjalanan sejarah penerapannya, dinar-dirham sudah terbukti sebagai mata uang yang nilainya stabil karena didukung dengan nilai intrinsiknya sedangkan uang kertas sekarang tidak stabil karena nilainya berbasis kepercayaan. Oleh karenanya, mengeluarkan uang kertas subtitusi harus dicover dengan emas dan perak, dengan nilai yang sama dan dapat ditukar kapanpun. Dengan begitu tidak akan bisa didominasi oleh uang negara lain. Sebaliknya, uang tersebut mempunyai nilai intrinsic yang tetap, dan tidak berubah. Ini berarti mata uang dollar yang menjadi pangkal krisis keuangan dunia harus diganti

Kedua, khilafah tidak akan mentolerir berkembangnya sector nonriil atau sector moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas. Sector ini selain diharamkan Allah dalam QS. Al-Baqarah : 275 karena mengandung riba dan judi, juga menyebabkan sector riil tidak bisa berjalan secara optimal. Jika sector ini ditutup dan dihentikan oleh khilafah maka semua uang akan bergerak di sector riil sehingga roda ekonomi akan berputar secara optimal. Dengan focus pada sektor riil yang halal dan proporsional, system ekonomi Islam benar-benar telah menyelesaikan semua kegoncangan dan krisis ekonomi yang mengakibatkan penderitaan manusia. Ekonomi berbasis ribawi harus diganti dengan ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam melarang penjualan komoditi sebelum dikuasai oleh penjualnya, sehingga haram hukumnya menjual barang yang tidak menjadi miliknya. Haram memindahtangankan kertas berharga, obligasi, dan saham yang dihasilkan dari akad-akad yang batil, aktivitas bursa dan pasar saham adalah haram dalam Islam. Islam juga mengharamkan semua sarana penipuan dan manipulasi yang dibolehkan oleh Kapitalisme.

Ketiga, khilafah akan membenahi system pemilikan sesuai dengan syariah islam. System ekonomi kapitalis dengan konsep kebebasan kepemilikan telah menyebabkan terjadinya monopoli terhadap barang dan jasa yang seharusnya milik bersama, sehingga terjadi kesenjangan yang luar biasa. Sebaliknya dalam system ekonomi islam dikenal tiga kepemilikan yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara. Sistem ekonomi Islam melarang individu, institusi dan perusahaan memiliki apa yang menjadi kepemilikan umum seperti tambang, energy, listrik, dan minyak, yang digunakan sebagai bahan bakar. Islam menjadikan negara sebagai pengelolanya sesuai dengan ketentuan hukum syara’. 

Keempat, khilafah akan mengelolah sumber daya alam secara adil. SDA adalah kepemilikan umum (rakyat) yang menjadi sumber pemasukan negara yang melimpah pada pos harta milik umum. Khilafah akan mengelolanya secara mandiri untuk kemaslahatan masyarakat. Adapun ketika terjadi bencana atau wabah, keuangan khilafah akan tetap stabil, karena khilafah memiliki jalur dana unuk mengatasi wabah di bagian belanja negara baitu mall yang terbagi menjadi dua seksi, pertama seksi Mashalih ad-Daulah, khususnya biro mashalih ad-daulah. Kedua seksi urusan darurat/ bencana alam (ath thawari) seksi ini memberikan bantuan kepada kaum muslim atas setiap kondisi darurat/ bencana mendadak yang menimpa mereka. Faktor-faktor inilah yang menjaga stabilitas ekonomi khilafah saat terjadi wabah ataupun tidak.[]

Oleh: Srihartati Hasir
The Voice Of Muslimah Papua Barat

Posting Komentar

0 Komentar