Refleksi Akhir Tahun, Pengamat Kebijakan Publik: Demokrasi Gagal Sejahterakan Perempuan



TintaSiyasi.com-- Berbicara tentang kesejahteraan perempuan, Pengamat Kebijakan Publik, Pratma Julia Sunjandari, S.P mengungkapkan dalam setahun (2020) sistem demokrasi terbukti telah gagal dalam menyejahterakan kehidupan rakyat, terutama perempuan.

"Demokrasi gagal menyejahterakan semua rakyat dalam setahun. Jumlah rakyat miskin bertambah dua juta orang. Demokrasi memang sukses menghantarkan penderitaan ekonomi rakyat, termasuk di antaranya para perempuan, yakni gagal untuk sekedar menjamin hak nafkah bagi perempuan," ungkapnya dalam Refleksi Akhir Tahun (RATU) 2020 bertajuk Berkah dengan Khilafah, Sabtu (26/12/2020) via daring. 

Dia mengatakan bahwa yang terjadi justru kesenjangan ekonomi yang luar biasa. Ia mencontohkan kekayaan empat orang terkaya Indonesia yang setara dengan pendapatan seratus juta masyarakat miskin. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam Islam kehidupan kaum perempuan sangat dijamin oleh negara, karena mewajibkan laki-laki (para wali) menafkahinya (perempuan) dengan cara negara menyediakan lapangan kerja untuk para laki-laki. Menurutnya, dalam demokrasi justru sebaliknya, memaksa perempuan mencari nafkah sendiri dalam memenuhi kebutuhannya.

"Ketika mereka sudah membanting tulang bekerja, menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) kan terpaksa meninggalkan anaknya bertahun-tahun, banyak pula yang disiksa atau tidak mendapat gaji karena harus dibayarkan ke agen perjalanan. Atau buruh yang kerja sif malam, yang tidak jarang menderita pelecehan seksual," bebernya.

"Nah, sudah membanting tulang, membahayakan keselamatan, masih juga tidak sejahtera. Karena yang diuntungkan cuma perusahaannya, bukan buruh atau rakyat yang cuma jadi konsumen," pungkasnya.[] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar