Refleksi Akhir Tahun 2020: Tugas Strategis Perempuan adalah Membentuk Generasi



TintaSiyasi.com-- Menanggapi pernyataan tentang perempuan tidak sejahtera karena mereka tidak duduk dalam kekuasaan dan tidak bekerja, Pemerhati Kebijakan Keluarga dan Generasi, Ustazah Ratu Erma Rahmayanti, S.P membantahnya. Menurutnya, tugas strategis perempuan adalah membentuk generasi.

"Di sisi lain, Islam telah menetapkan perempuan punya tugas strategis dan besar, (yaitu) membentuk generasi. (Karena) Mengkonstruksi manusia, memerlukan curahan waktu, keterampilan dan keistiqomahan," tuturnya dalam Refleksi Akhir Tahun (RATU) 2020: Berkah dengan Khilafah, Sabtu (26/12/2020) di ruang zoom

Menurutnya, ide bahwa persoalan perempuan hanya bisa diselesaikan oleh perempuan dengan mengharuskan mereka duduk di kekuasaan, atau perempuan harus bekerja, muncul akibat rasa egois. "Karena sudah tertanam di pemikirannya bahwa laki-laki itu misoginis (merendahkan wanita), benci dan tidak berpihak pada perempuan. Saat laki-laki menjadi perempuan, pasti tidak memperhatikan kebutuhan perempuan," bebernya.

Ia menjelaskan, pemikiran ini lahir dari sejarah penerapan kapitalisme yg memang tidak memberi hak politik, hak ekonomi, hak sosial budaya kepada para perempuan.  

Menurutnya, hal ini berbeda dengan Islam. "Khalifah (sebutan pemimpin dalam negara khilafah) tidak misoginis karena dia memahami hukum syara’ yg melarang untuk membenci perempuan, merendahkan perempuan dan membeda-bedakan haknya," ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam Islam, pemimpin itu bukan menjalankan egonya. "(Tetapi) Dia menjalankan syari’ah, menjalankan tugas negara yang besar," katanya.

"Sedangkan tugas negara yaitu politik dalam negeri, luar negeri, militer, hubungan luar negeri juga membutuhkan effort besar, dan Islam tidak menetapkannya untuk perempuan, tapi bagi laki-laki," imbuhnya.

Menurutnya, anggapan perempuan harus kerja dan duduk dalam kekuasaan adalah pernyataan orang yang hidup di sistem sekarang, serta bukan yang hidup dalam naungan Islam. "Mereka tidak punya tendensi untuk percaya Islam, sehingga membaca sejarah penerapan Islam hanya mencari hal-hal yang bisa dibahas sisi buruknya," paparnya.  

Menurutnya, mereka melihat praktek Muslim di situasi syari’ah Islam tidak digunakan dan menjadikannya sebagai dalil bahwa Islam membatasi gerak perempuan, tidak adil, dengan hanya memberi peran domestik. "Tidak jujur dan tidak mau mengerti yg sesungguhnya kehidupan perempuan di sistem khilafah," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas 


Posting Komentar

0 Komentar