Rapuhnya Ketahanan Keluarga, Salah Siapa?


Beberapa hari lalu laman media sosial dihebohkan dengan kasus pembunuhan tiga anak balita oleh ibu kandungnya sendiri. Dilansir dari Kompas.com (15/12/20), kasus tersebut terjadi di Dusun 2, Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Pemicunya karena himpitan ekonomi keluarga.

Selang beberapa hari setelah kejadian pembunuhan, sang ibu meninggal dunia karena tidak mau makan. Sungguh ironis. Tak terbayang kepedihan bertubi-tubi yang dihadapi keluarga tersebut. Kejadian tersebut hanyalah salah satu fragmen dari potret buram kritis multidimensi yang mencengkeram negeri ini. Bagai fenomena gunung es, kejadian serupa terus berulang tanpa ada solusi tuntas. Rakyat seolah dipaksa pasrah meratapi nasibnya.

Apalagi sejak pandemi ini. Banyak kepala keluarga yang di-PHK dan pedagang gulung tikar. Hal ini mendorong para ibu ikut banting tulang agar dapur tetap mengepul, sehingga menyita energi dan waktu mereka mendidik anak-anak. Bagaikan lingkaran setan, fenomena ini terus berlanjut tak ada ujungnya. Lalu sebenarnya siapa yang menjadi korban? 

Ironisnya kasus ini terjadi tak lama setelah ditangkapnya Menteri Sosial karena kasus korupsi dana bantuan sosial penanganan Covid-19. Miris, betapa hati nurani ini tercabik melihat kejadian ini. Kemanakah rakyat harus mengadu dan berlindung? Jika pemimpinnya justru lari dari amanah bahkan merampas hak rakyat. Kejadian ini seharusnya menjadi cambuk bagi para pemangku kebijakan di negeri ini untuk menyadari bahwa negeri ini tidak sedang baik-baik saja. 

Rapuhnya Ketahanan Keluarga Bukan Sekadar Problem Individual

Jika kita melihat lebih seksama, rapuhnya ketahanan keluarga di negeri ini: tingginya tingkat KDRT, perceraian, hingga kriminalitas terjadi bukan semata faktor individual. Namun, semua ini terjadi karena kerusakan sistemik yang terjadi di negeri ini.

Ketidakmampuan suami melaksanakan kewajiban mencari nafkah sejatinya disebabkan karena keterbatasan lapangan pekerjaan yang disediakan oleh negara. Wajar jika tingkat kemiskinan semakin meningkat. Para kepala keluarga apalagi kalangan menengah ke bawah mungkin sudah pasrah. Jangankan berharap mendapat pekerjaan layak, sekadar untuk mendapat uang recehan saja mereka berpikir bisa dapat dari mana. 

Semua ini terjadi karena cengkeraman sistem kapitalisme menyebabkan mandulnya fungsi negara memenuhi kebutuhan dasar serta memberi perlindungan kepada rakyatnya. Negara lebih berpihak kepada kepentingan para pemilik modal dibandingkan dengan kepentingan rakyatnya. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin terpampang nyata. 

Saat pandemi, para kapital masih bisa melancong ke luar negeri. Sambil terus membangun infrastruktur dan mengejar investasi. Di sisi lain, rakyat mengemis bantuan untuk sekadar bisa menyambung hidup, berburu recehan demi membeli kuota internet agar anak tercinta bisa mengikuti sekolah daring. Namun, saat rakyat mengadu dan meminta haknya, yang didapat justru hanya jawaban agar pasrah dan tak banyak mengeluh. Lalu, di mana hati nurani para penguasa di negeri ini? 

Syariah Islam, Solusi Tuntas Rapuhnya Ketahanan Keluarga

Problematika sistemik ini tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan solusi tambal sulam. Butuh solusi sistemik yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan ini hingga ke akarnya. Solusi tersebut tidak lain adalah bersumber dari syariat Islam. 

Sistem Islam akan menjamin kokohnya bangunan keluarga tidak hanya dari aspek terpenuhinya kebutuhan dasar rumah tangga. Secara filosofis, bangunan keluarga dilandasi oleh keimanan (akidah Islam) yang akan memperkokoh relasi suami istri. Pun orang tua dan anak dalam menjalankan setiap perannya. 

Tidak ada istilah kompetisi antara suami dan istri untuk bersaing mendapatkan penghasilan tertinggi. Tak ada saling lempar tanggung jawab untuk mendidik anak-anak di rumah. Semua peran itu dilakukan dengan dorongan kesadaran untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.

Dalam tatanan individu, sistem Islam menjadikan pondasi ketakwaan sebagai pilar penjaga masyarakat agar bisa melewati ujian dengan berserah kepada qadha Allah. Di sisi lain, semangat untuk menjemput rezeki halal akan mendorong para kepala keluarga tak kenal lelah berikhtiar agar tugas utamanya memberi nafkah pada keluarga terpenuhi. Tak ada istilah putus asa apalagi menyerah hingga bunuh diri karena terhimpit ekonomi saat kondisi pandemi.

Kontrol masyarakat menjadi pilar tumbuhnya kepekaan antar anggota masyarakat. Pun saling tolong menolong (ta'awun) dan amar maruf nahi munkar. Tentu kita tak akan pernah mendengar ada tetangga yang meninggal karena kelaparan. Dorongan keimanan membuat masyarakat tak canggung untuk saling mengulurkan bantuan. Tidak seperti sistem kapitalisme yang membentuk masyarakat apatis dan individualis. 

Sinergisitas peran kepala keluarga dalam menjaga ketahanan keluarga tidak terlepas dari peran utama negara yang menjamin pelaksanaan syariat Islam dalam seluruh tatanan kehidupan masyarakat. Baik sistem ekonomi, politik, pendidikan, keamanan dan sebagainya. 

Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan luas, sehingga para kepala keluarga bisa melaksanakan kewajibannya mencari nafkah. Seorang ibu pun bisa fokus menjalankan perannya sebagai ummu warobatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) tanpa terkuras energinya menopang ekonomi keluarga. Tidak ada lagi ketakutan seorang ibu karena anaknya tak bisa membayar SPP. Tidak ada lagi kekhawatiran masyarakat karena tidak memiliki uang untuk berobat. Semua itu terjadi karena negara menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan dasar  secara gratis dengan pelayanan terbaik.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, permasalahan yang menjerat umat saat ini, sejatinya membutuhkan kontrol negara yang secara penuh menjalankan tugasnya yaitu menerapkan syariat Islam secara kafah. Syariat Islam menjamin terjaganya akal, jiwa, harta, agama dan keturunan. Hal tersebut tergambar dari penerapan hukum syara’ dalam seluruh tatanan hidup masyarakat oleh negara. 

Potret buram rapuhnya ketahanan keluarga di negeri muslim terbesar ini seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk bangkit dari keterpurukan menuju kebangkitan hakiki. Semua itu tidak dapat diraih kecuali dengan mengembalikan ketaatan kita pada aturan yang bersumber dari Sang Ilahi, Allah Swt. Dengan penerapan aturan Islam oleh institusi khilafah islamiyah ala minhajin nubuwwah, kerahmatannya akan melingkupi seluruh alam semesta.[]

Oleh: Annisa Fauziah

Posting Komentar

0 Komentar