Prof. Suteki Ungkap Demokrasi Dapat Terbunuh Karena Polarisasi Ekstrem



TintaSiyasi.com-- Menanggapi polarisasi antara pendukung pemerintah dan oposisi yang kian ekstrim, Pakar Sosiologi Hukum dan Pancasila Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum mengatakan hal itu dapat membunuh demokrasi. 

“Polarisasi terus terjadi dan polarisasi itulah yang secara ekstrem dapat membunuh demokrasi itu sendiri,” tuturnya pada acara Diskusi Online yang bertajuk How Democracies Die, Ahad (6/12/2020) di kanal YouTube Media Umat.

"Jika keduanya saling ngotot (ngeyel) mempertahankan prinsip tanpa membuka peluang untuk dialog, dan bahkan pemerintah cenderung bertindak otoritarianisme terhadap rakyat dan kelompok oposisi, maka tidak menutup kemungkinan perang sipil (civil war) akan terjadi," tambahnya.

Ia menambahkan, akibat dari polarisasi tersebut, antara rival yang satu dengan lainnya saling serang, saling menjatuhkan, dan nyaris menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan (for a strategy of winning by any means necessary).

Selanjutnya, ia mengutip pendapat dari Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt penulis buku How Democracies Die. Menurutnya, akar masalah dari semua ini adalah karena masyarakat khususnya politisi tidak lagi memegang norma dan prinsip demokrasi dengan kuat.

Ia menguraikan, potensi terjadinya perang sipil sangat besar ketika ada upaya untuk terus menghadap-hadapkan TNI dengan rakyat (sebagian umat Islam pembela HRS). "Tentu hal itu kontraproduktif terhadap keutuhan dan persatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia," tandasnya.

"Jika perang sipil terjadi, mungkin kita bisa membayangkan betapa dahsyat pertarungannya antara dua kubu yang masing-masing dipimpin oleh seorang hero yang saling berhadap-hadapan. Adegan demi adegan seperti dalam film Captain America: Civil Wars mungkin benar-benar akan terjadi," ungkapnya sambil berkelakar. 

Setelah ia mengibaratkan bagai film tersebut, ia berharap hal itu tidak terjadi di negeri ini. "Tapi, itu hanyalah film. Semoga perang sipil (civil war) tidak terjadi di Indonesia. Dialog, masihkah dialog menjadi obat mujarab untuk menghindari Perang Sipil di negeri ini?," pungkasnya. [] Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar