Extrajudicial Killings, Prof. Suteki: Inikah Indikator Proyek Industri Hukum Tengah Berlangsung?



TintaSiyasi.com-- Dugaan extrajudicial killings yang menimpa enam laskar FPI di tangan aparat mendapat tanggapan serius dari Pakar Hukum dan Guru Besar Universitas Negeri Diponegoro (UNDIP), Prof. Dr. Suteki, SH, M.Hum. 

“Terbunuhnya enam anggota laskar FPI pada tujuh Desember lalu, merupakan tindakan diskriminatif yang menujukkan lumpuhnya hukum. Inikah indikator bahwa proyek Industri Hukum yang tengah berlangsung?,” tuturnya dalam acara webinar KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) yang bertajuk Pelanggaran HAM dan Demokrasi di Era Reformasi, Kamis (10/20/2020) secara daring di Zoom.

Menurutnya, saat ini nampak adanya penegakkan hukum dalam industri hukum yang tidak berdasarkan asas keadilan. “pertimbangan untung dan rugi dalam industri hukum yang dapat mendorong tindakan polisi melakukan extrajudicial killings,” tegasnya. 

“Orientasi pembentukan hukum dan penegakkannya pada untung-rugi dan mengabaikan persoalan keadilan dan kebenaran. Penegakan hukum macam itu dapat disebut sebagai industri hukum," terangnya.

Ia mengingatkan aparat kepolisian khususnya sebagai garda terdepan penegakan hukum, tidak boleh menjadi agen industri hukum. “Jika polisi telah menjadi agen industri penegakkan hukum, maka sejak saat itu, di garda ini pun penegakan hukum sudah dipenuhi pertimbangan untung rugi, bukan pertimbangan kebenaran dan keadilan," tandasnya.

“Extrajudicial killings adalah indikator tepat atas bopeng dan lumpuhnya hukum, matinya demokrasi dan terjadinya pelanggaran HAM,” imbuhnya.

Prof. Suteki mengungkapkan dalam sistem demokrasi saat ini telah bercokol para elit yang menjelma menjadi oligarki yang sejatinya mengendalikan negara termasuk hukum. “Peraturan hukum cenderung dipakai untuk melegitimasi dan mempertahankan status quo-nya bukan sebagai sarana untuk mewujudkan social welfare," pungkasnya.[] Liza Burhan

Posting Komentar

1 Komentar

  1. sehat selalu prof, semangat terus mencerdaskan ummat. oiya prof, dari tulisan saya rasa saya masih belum dapat memahami konteks hukum sekarang berdasarkan untung-rugi, mohon penjelasannya lebih lanjut prof

    BalasHapus