Prof. Suteki: Revolusi Akhlak Mesti dibingkai dalam Kerangka Ketuhanan yang Maha Esa



TintaSiyasi.com-- Pakar Hukum dan Filsafat Pancasila, Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum turut memberikan pandangan terkait gagasan revolusi akhlak yang sedang panas diperbincangkan umat saat ini. “Revolusi akhlak mesti dibingkai dalam kerangka Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar moral bangsa," paparnya dalam acara Dialog Nasional 100 Ulama dan Tokoh bersama Habib Rizieq Shihab yang bertajuk Revolusi Akhlak Solusi untuk Indonesia Bermartabat, Rabu 2 Desember 2020 yang berlangsung secara virtual di kanal YouTube Front TV.

"Moral bangsa inilah yang kemudian menjadi dasar kita melakukan perombakan di bidang hukum yg diharapkan mampu membahagiakan rakyatnya a social welfare bukan menjadi alat gebuk penguasa yang menyesengsarakan rakyatnya," imbuhnya sambil terkekeh.

Ia menjelaskan, negara hukum (rule of law) yang telah, sedang dan hendak dikembangkan Indonesia ini haruslah negara hukum bermoral yang bermuara pada negara hukum yang membahagiakan rakyatnya sebagaimana telah digagas oleh Prof. Satjipto Rahardjo (2009). 

“Untuk bisa menjadi negara hukum bermoral, tidak bisa dicapai tanpa didukung oleh pejabat negara dan rakyat yang bermoral atau berakhlak," ungkapnya.

Namun menurutnya, persoalan itu muncul ketika kita menemui moralitas para penyelenggara dan rakyatnya sedang berkubang dalam kerusakan. "Apa penanda kerusakan moral? Yakni maraknya kejahatan, baik yang dilakukan oleh para penyelenggara negara maupun rakyatnya," tegasnya.

Profesor kelahiran Sragen ini menuturkan bagaimana korupsi merajalela, penindasan oleh penguasa, abainya rakyat, sparatisme, terorisme, diskriminasi penegakan hukum, kerusakan moralitas warga, pembungkaman hak sipil dan lain-lain sering dipertontonkan di hadapan kita. “Kejahatan ini dipastikan akan menjauhkan tujuan negara untuk membahagiakan rakyatnya,” tandasnya.

"Dengan demikian di titik inilah harus ada creative minority yang terus berjuang melakukan revolusi akhlak di segala lini kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan mondial," pungkasnya.[] Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar