Prancis dan Front Barat Memerangi Islam


Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memberi waktu dua minggu kepada Dewan Ibadah Muslim Prancis (CFCM) untuk menyusun piagam nilai-nilai republik yang diharapkan dipatuhi oleh anggota organisasinya. Hal ini sebagai respon adanya kasus serangan di beberapa tempat di Prancis. 

Macron saat ini sedang melakukan upaya untuk memusatkan pembentukan dan akreditasi para pemimpin agama Muslim di negara tersebut. Meskipun rencananya ini telah dikritik oleh beberapa komunitas Muslim di Prancis dan luar negeri.

Dalam pertemuan pada Rabu (18/11) malam dengan sejumlah pemimpin Muslim Prancis, termasuk presiden CFCM Mohammed Moussaoui dan Chems-Eddine Hafiz, rektor Masjid Paris, Macron menugaskan badan Muslim nasional untuk mengajukan draf piagam.

Dikeluarkannya ultimatum adalah bentuk penolakan terhadap gerakan Islam politik yang merepresentasikan Prancis dan dunia barat terhadap Islam politik. Ketakutan barat akan Islam politik, tepatnya penerapan syariah Islam kaffah, menjadikan barat gigih mencegah bangkitnya kaum muslim dan dunia Islam, padahal ini baru ghirah politik.

Aktivitas ini masif mereka lakukan, baik di negeri-negeri Islam maupun barat. Barat sangat memahami bahwa eksistensi Islam politik adalah perwujudan dalam menempatkan syariat Islam terealisasi dalam praktik kenegaraan. Barat juga memahami bahwa gerakan Islam politik adalah upaya yang mengantarkan pada penerapan hukum Islam di dunia, yakni menghidupkan kembali Khilafah serta menolak demokrasi dan kapitalisme yang menghalangi tegaknya peradaban mulia ini.

Barat tidak ingin ketahuan merespon kebangkitan Islam politik ini. Karena itu, mereka gencar melakukan politik perang pemikiran untuk menghadang gerakan Islam ideologis yang mengusung ide syariah dan Khilafah dan itu terbukti telah berjalan sampai hari ini, yaitu gerakan memecah belah umat Islam, khususnya di negeri kaum muslim.

Kelompok Islam moderat, mereka mainkan untuk memukul gerakan Islam politik yang mereka narasikan sebagai kelompok fundamentalis-radikal. Mereka menjual Islam ala kelompok moderat barat dan anteknya, berharap gambaran Islam sesuai keinginan mereka, yakni Islam yang tidak boleh terlibat dalam urusan negara termasuk ekonomi, sosial budaya, sistem sanksi, peradilan atau pun hukum dan keamanan, sehingga kaum muslim merasa asing dengan Khilafah sebagai perwujudan nyata Islam politik.

Barat semakin menampakkan ketakutan bila Islam dijadikan way of life, bahwa Islam politik yang barat serang adalah Islam hakiki bukan islam moderat yang sejalan dengan kepentingan imperialisme barat. Satu-satunya langkah untuk menghentikan serangan barat terhadap dunia Islam adalah terwujudnya institusi Khilafah. Sebab Khilafah yang dipimpin oleh Khalifah adalah perisai yang akan melindungi umat yang berada di bawah kekuasaannya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Innamâ al-imâmu junnatun yuqâtalu min warâihi wa yuttaqâ bihi fa in amara bitaqwallâhi wa ‘adala kâna lahu bidzâlika ajrun wa in yamuru bi ghayrihi kâna ‘alayhi minhu. (Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)“
(HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Karena itu, hanya Khilafah yang mampu melindungi umat dari segala bentuk diskriminasi terhadap Islam, ajaran Islam dan umat Islam. Wallaahu a'lam bi ash-shawab.[]

Oleh: Miladiah Al-Qibthiyah
(Pegiat Literasi dan Media)

Posting Komentar

0 Komentar