Ketua PII Jakarta: Saya Diseret dan Melihat Darah Berceceran



TintaSiyasi.com-- Selepas wudu Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Jakarta, Anja Hawari Fasya naik ke lantai dua, karena ia tak mampu menahan bisingnya suasana chaos pada waktu itu, bahkan ia pun menunda waktu shalat magrib hingga pukul 19.45 WIB. "Ba'da magrib itu sudah chaos, saya naik ke lantai dua, dan menunda shalat magrib, karena takut. Di luar sudah terdengar petugas keamanan meluncurkan tembakannya," ujarnya.

Sebenarnya sejak pukul 19.00 peserta aksi sudah berangsur pulang, dan ada beberapa peserta aksi yang beristirahat di kantor PII. Tak lama dari terjadi keributan di Jalan Keramat Raya, mereka yang beristirahat menyaksikan dari dekat kantor PII.

Tidak tahu apa yang terjadi, suara keributan semakin mendekat ke kantor sekretariat PII tiba-tiba terdengar suara pintu masuk ditendang, didobrak dan kacanya dipecahkan. "Waktu itu pintu masuk kami kunci, tapi dari dalam terdengar kaca pintu dipecahkan, pintu didobrak dan gas air mata ditembakan," ucapnya dengan gemetar.

Anja memperbanyak zikir, kemudian ia berniat untuk melaksanakan shalat pada suasana seperti itu. "Saya hendak melaksanakan shalat isya kemudian meng-qadha shalat magrib, tiba-tiba badan saya ditarik dari belakang, saya diseret ke bawah, saya melihat darah berceceran, dan terlihat kader GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) terluka, bahkan telinganya bisa dibilang hampir putus, terdengar juga suara wanita merintih kesakitan, aku pun merasa sangat perih karena gas air mata," tuturnya.

Anja beserta 16 teman-teman PII dan GPII yang ada di kantor diangkut pihak kepolisian menuju Polda Metro Jaya, tidak ada yang tersisa di kantor itu.

Di Polda Metro Jaya, Anja melihat ada beberapa peserta aksi yang ikut ditangkap, ada diperlakukan tak selayaknya. "Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, ada peserta aksi yang disetrum, bahkan saya dan teman-teman yang lain juga dipukuli, hingga datanglah perwakilan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Catur Bakti, Kapolda, dan DPI RI menemui pihak kepolisian, setelah itu tidak ada satupun yang berani menyentuh kami," jelasnya.

Anja beserta teman PII dan GPII lainnya mulai diproses keesokan harinya, Rabu (14/10/2020) pukul 08.00 WIB hingga pukul 01.00 dini hari (15/10/2020), kemudian akhirnya dibebaskan pada waktu subuh. Pagi hari tanggal 15 Oktober 2020 Anja beserta teman PII dan GPII lainnya dibebaskan, setelah melalui beberapa proses dan pemeriksaan.

"Saya diproses dari jam delapan pagi sampai waktu subuh. Zuhur, Asar, Isya, saya gak shalat, saya shalat qadha setelah bebas, kemarin pun shalat kaghrib saya di kamera, untuk bukti dengan alasan supaya humanis," pungkasnya.[] Insani el-Fudhel

Posting Komentar

0 Komentar