Pesona Benur Lobster Memikat Para Monster


Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman biota laut yang sangat potensial. Laut daerah tropis dengan dipenuhi keindahan yang begitu menawan.  Anugerah dari Pemilik Kehidupan yang semestinya disyukuri. 

Salah satu hewan laut yang hidup di lautan tropis Indonesia adalah lobster, hewan laut dari kelompok krustasea yang berhabitat di terumbu karang. Daging lobster yang gurih dan beragamnya manfaat yang dihasilkan menjadikan lobster merupakan salah satu komoditas perikanan yang potensial dan bernilai ekonomi tinggi. 

Indonesia termasuk negara pengekspor lobster besar di dunia. Tepatnya duduk pada peringkat ke-12. Potensi ekonomi yang menggiurkan. Apalagi gurihnya daging lobster yang dihasilkan dari perairan Indonesia tak ada yang menyamai lezatnya. Itulah yang menyebabkan lobster begitu diburu.

Para monster kapitalis pun dengan sigap dan lihai beraksi. Dengan dalih Indonesia tidak memiliki infrastruktur yang mendukung pembudidayaan benur lobster, maka dibukalah keran ekspor benih lobster.

Perlu dicermati, infrastruktur yang tidak mendukung pembudidayaan itu seperti apa?  Nyatanya lobster tak membutuhkan infrastruktur yang ribet. Kondisi laut yang bersih, terumbu karang, dan pasir menjadi senjata utama dalam pembudidayaan benur lobster. Alih-alih menjaga lingkungan laut supaya menjadi tempat yang nyaman bagi biota laut, namun malah mengeksploitasi secara membabi buta dengan menangkap dan mengekspor benur lobster. Kuota ekspor pun dibuka bagi pengusaha yang mau membangun infrastruktur budi daya lobster.

Kebijakan dibukanya keran ekspor benur lobster yang ditetapkan Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Edhy Prabowo ditangkap KPK terkait kasus dugaan korupsi ekspor benur lobster. KPK menetapkan tujuh orang tersangka sebagai penerima suap dalam kasus ini. Sedangkan 
PT. Dua Perkasa Suharjito ditetapkan sebagai pemberi suap. (beritakbb.com, 28/11/2020)

Edhy Prabowo diduga terlibat menerima suap Rp 3,4 miliar dan 100.000 dolar AS terkait pemberian izin ekspor benur lobster. Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango, mengatakan bahwa uang sebesar Rp 3,4 miliar tersebut diterima dari PT Aero Citra Kargo Amri dan  Ahmad Bachtiar melalui Ainul Faqih, staf istri Edhy. PT Aero Citra Kargo disebut menerima uang dari beberapa perusahaan ekspor benur lobster. Sebab ekspor benur lobster hanya dapat dilakukan melalui PT Aero Citra Kargo dengan biaya angkut sebesar 1.800 per ekor. (Kompas.com, 26/11/2020)

Praktek suap-menyuap di negeri yang menggunakan sistem kapitalisme tumbuh subur bagai jamur pada musim penghujan. Budaya suap seakan-akan begitu menggurita sehingga sulit untuk diputus. Suap-menyuap dalam memuluskan ambisi berkuasa dan menumpuk pundi-pundi rupiah menjadi hal yang sangat lumrah.

Ditambah ketamakan dari para oligarki dalam mengeksploitasi salah satu biota laut yang berupa benur lobster tanpa memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan jika benur yang alami dari laut tersebut benar-benar punah tak bersisa. Keuntungan yang hanya berpihak pada oligarki dan mengabaikan kondisi nelayan yang semestinya memperoleh keuntungan jika benur lobster dibiarkan  berkembang menjadi lobster dengan harga jual yang  tinggi. 

Islam dengan aturannya yang tegas, mengatur sedemikian rupa bagaimana pemanfaatan biota laut oleh masyarakat. Laut termasuk kepemilikan umum yang berarti masyarakat boleh mengambil manfaat darinya. Namun, dilarang untuk mengeksploitasi secara besar-besaran demi meraup keuntungan pribadi.

Tindakan yang dilakukan oleh pejabat menteri tersebut beserta pihak swasta eksportir benur lobster maka tidak dapat dibenarkan syariat. Karena sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum dimonopoli oleh satu pihak saja. Ini sangat merugikan masyarakat yang  juga memiliki hak sama dapat memanfaatkan biota laut tersebut. 

Praktek suap menyuap yang dilakukan juga semestinya mendapatkan hukuman yang setimpal. Dalam Islam hukuman yang diberikan disesuaikan seberapa besar kerugian yang didapat dari praktek melanggar  tersebut. Wallahu a'lam bish showab.[]

Oleh: Sri Indrianti
(Pemerhati Sosial dan Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar