“Peringatan Hari Ibu” Jangan Hanya Sekedar Simbolis


Peringatan Hari Ibu setiap tahunnya menjadi sebuah ceremonial di Indonesia. Berbagai lembaga perempuan ramai-ramai ikut serta menyemarakkan peringatan tersebut dengan kegiatan sosial atau pun acara yang berkaitan dengan peran perempuan hari ini. 

Dikutip dari Buku Panduan Pelaksaan Peringatan Hari Ibu ke 92 Tahun 2020 yang dirilis Kemen PPPA, lahirnya Peringatan Hari Ibu tak lepas dari perjuangan para perempuan Indonesia. Bibit kebangkitan perjuangan perempuan Indonesia telah dimulai sebelum masa kemerdekaan, yang ditandai perjuangan pendekar perempuan di berbagai tempat di Indonesia, seperti Tjut Njak Dien di Aceh, Nji Ageng Serang di Jawa Barat, R.A Kartini di Jawa Tengah, serta masih banyak lagi yang lain. (Tribunenews.com, 21/12/2020).

Dibalik peringatan yang membuat tersenyum para perempuan Indonesia, ternyata banyak menyimpan kisah dan linangan air mata. Bukan lagi rahasia umum bahwa nasib para ibu banyak yang sangat memprihatinkan dan butuh perhatian besar. Berbagai masalah sosial, baik domestik maupun publik menjadi pemicu problematika yang muncul. Bahkan, sampai pada masalah sistemik yang tidak mampu dihindarinya. 

Berbagai masalah yang dihadapinya antara lain, kasus kematian ibu saat melahirkan yang tinggi. Ibu yang menganiaya anaknya, ibu yang harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga, ibu yang tega membunuh anaknya, ibu yang mengalami pelecehan seksual bahkan ibu yang bekerja hanya dengan upah ala kadarnya. Serta banyak kasus miris lainnya. 

Jika pepatah mengatakan sebuas-buasnya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri. Hewan, seperti harimau tidak memiliki akal untuk berpikir, hanya dengan menggunakan instingnya ia melindungi anaknya untuk tetap hidup. Lalu, bagaimana dengan manusia yang dianugerahi akal untuk berpikir agar tetap menjalani kehidupan sesuai dengan fitrahnya. Berbanding terbalik dengan peristiwa tragis yang terjadi di Dusun 2, Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Seorang ibu berinisial MT (30), tega membunuh tiga anak kandungnya sendiri yang masih balita. Ketiga korban itu diketahui berinisial YL (5), SL (4), dan DL (2). Usai membunuh ketiga anaknya, sang ibu berusaha membunuh dirinya sendiri. Adapun penyebab pembunuhan dan aksi percobaan bunuh diri yang dilakukannya karena diduga terhimpit masalah ekonomi. (kompas.com, 15/12/2020)

Begitupun seorang ibu yang berusaha mencari nafkah sebagai tulang punggung keluarga yang berprofresi sebagai driver ojol. Seorang driver ojek online (ojol), Ati Sri Hatijah, diketahui mengalami tindakan yang tidak menyenangkan dari salah satu pegawai kafe di Bandung. Ati disebut dimarahi dan dilempar susu cair kemasan hingga bibirnya berdarah. Insiden itu dikarenakan sang ibu ojol tersebut tidak bisa mengganti aplikasi harga minuman yang dipesan dengan minuman penggantinya, saat minta tolong ke petugas kafe, bukannya bantuan tetapi malah hinaan dan perlakuan tidak menyenangkan yang didapatnya. (kumparan.com, 28/1/2020)

Melihat banyaknya fakta yang membuat pilu hati, apakah pertanda hak dan peran seorang ibu semakin hilang? Semestinya, dalam keluarga seorang ibu memiliki anak untuk dilindungi, dibina, dan diarahkan untuk menjadi generasi rabbani dibanggakan. Hilangnya peran tersebut bukan tanpa alasan, berada dalam aturan kapitalisme, liberalisme, dan sekulerisme membuat hidup para ibu di manapun akan semakin terpuruk. Mereka tak mampu melaksanakan peran pentingnya dalam rumah tangga, yaitu sebagai pendidik anak-anaknya, penjaga kehormatan suami dan keluarga, serta  pencetak generasi masa depan sang buah hatinya. Ketidakmampuannya dikarenakan seorang ibu terpaksa menjalani peran publik lainnya, yang fitrahnya bukan menjadi tanggung jawab dirinya. 

Problematika ibu saat ini, semestinya menjadi tanggung jawab dan dalam rangkulan negara sebagai pelindung rakyat. Peran negara akan membantu menberikan perlindungan yang dibutuhkan, jaminan ekonomi, kesehatan dan pendidikan seorang ibu dalam mendapatkan haknya. Menjalankan perannya dalam keluarga dengan lapang tanpa memikirkan himpitan ekonomi yang menekannya dan menimbulkan depresi, stress hingga keinginan untuk mengakhiri hidup sangat tinggi akibat fakta yang dihadapi, yaitu hidup serba kekurangan, bahkan hanya untuk sekedar makan sehari-hari. 

Lantas, peringatan hari ibu seperti apa yang ingin disampaikan hari ini? Apakah akan membuat hidup para ibu menjadi lebih baik, lebih sejahtera, bahkan mampu mengembalikan fitrahnya sebagai madrasatul ula di dalam rumahnya. Penghargaan apa yang ingin diberikan anak-anak saat ini atas pengorbanan darah, keringat dan air mata sang ibu demi memberikannya kehidupan? 

Indahnya Islam Memuliakan Ibu 

Alquran dan Hadis telah banyak menggambarkan bagaimana seorang ibu seharusnya diperlakukan. Sistem pemerintahan Islam yang pernah ada telah menunjukkan bagaimana negara dengan khalifah sebagai kepala negaranya melindungi hak seorang ibu dalam menjalankan perannya. Selain melindungi, negara juga memberikan fasilitas kebutuhan yang diperlukan.   

Islam mengangkat status ibu, memberikan posisi tinggi penghormatan dalam masyarakat, dan menganggap sebagai nilai besar atas peran perempuan sebagai penjaga rumah tangga, serta sebagai perawat dan pengasuh anak. Banyak nash-nash Islam yang memberikan penghargaan besar untuk pernikahan dan melahirkan banyak anak, dan menggambarkan perlakuan istimewa yang layak diterima ibu dari anak-anak mereka.

Dari Abu Hurairah ra., beliau berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi Saw, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Khilafah berdasarkan metode kenabian akan menjaga peran laki-laki dan perempuan yang telah didefinisikan Islam dalam kehidupan keluarga dan mengangkat status penting perempuan sebagai istri dan ibu. Hal ini akan mencakup jaminan penyediaan nafkah bagi perempuan sehingga mereka tidak ditekan untuk mencari nafkah dan mengganggu tugas-tugas penting mereka terhadap anak-anak dan keluarga mereka. Oleh karena hukum Islam dilaksanakan di bawah Khilafah, mendukung para ibu dalam memenuhi kewajiban vital mereka yaitu merawat dan membesarkan anak-anak mereka serta menjaga rumah mereka. Mereka juga menjamin keamanan finansial bagi perempuan dan memastikan bahwa mereka tidak pernah ditinggalkan untuk mengurus diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, atau dibiarkan menderita kesulitan keuangan.

Dalam Khilafah Utsmani misalnya, peran strategis ibu meningkatkan posisi perempuan dalam masyarakat dan para ibu dihormati dan diperlakukan dengan sangat hati-hati oleh anak-anak mereka. Sebagai balasannya, para ibu menghujani anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang yang sangat besar.

Begitupun dalam sistem pendidikan, Khilafah dan lingkungan Islam akan membuat masyarakatnya turut serta membantu para ibu Muslimah dalam tanggung jawab besar mereka untuk membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi pribadi Islam yang kuat dan para hamba Allah yang taat.

Jelas sudah, Nasib seorang ibu hanya mampu diubah menjadi lebih baik dengan sistem yang terbaik bagi umat. Simbol “Peringatan Hari Ibu” tidak akan mampu merubahnya, bahkan di usia peringatan yang sudah mencapai 92 tahun. Saatnya mengembalikan kemuliaan seorang ibu sesuai dengan fitrah yang telah Allah sampaikan dalam Al-Quran dan Hadist. Kembali kepada Islam kaffah sebagai solusi problematika ibu di belahan dunia mana pun, Wallahu a’lam bishawab.[]

Oleh: Desi Wulan Sari, M.Si., Pengamat Publik dan Pegiat Literasi Revowriter

Posting Komentar

0 Komentar