Perempuan Aman dengan Islam


Dua puluh dua Desember diperingati sebagai hari ibu. Momen untuk mengapreasiasi peran ibu. Seperti yang kita tahu, bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Berjuta tetes keringat, air mata, bahkan darah yang dikorbankan seorang ibu demi keluarga, suami dan anak-anaknya. Di pundak seorang ibulah tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang berguna dipikul. 

Gelar ibu yang mulia, yang hanya bisa dimiliki oleh seorang perempuan. Sadi anggap sebelah mata dengan alasan tidak menghasilkan uang. Perempuan dikatakan berdaya ketika memiliki penghasilan sendiri. Sehingga mau tidak mau, para pempuan yang awalnya merasa tenang ketika menjadi ibu yang aktivitasnya di rumah saja menjadi jengah. Belum lagi ketika ternyata nafkah dari suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ingin segera mendapat pekerjaan meski harus menjadi buruh sekalipun. Di Indonesia sendiri ada jutaan wanita yang menjadi pekerja buruh industri, pertanian, dan sisanya masuk dalam sektor perdagangan. 

 Ketika banyak para ibu sudah memilih bekerja, otomatis ugas dan kewajibannya di rumah akan sedikit banyak tertinggal dan terbengkalai. Yang utama bagiseorang ibu tidak lagi fokus untuk melayani suami dan merawat anak-anaknya, melaikan bagaimana caranyaagar menghasilkan uang dan berdaya dengan itu. Padahal banyak perusahaan yang lalai menjamin keselamatan buruh perempuan. Akibatnya, mereka rentan mengalami pelecehan dan kekerasan seksual.

Akibat Arus Feminisme

Di era ini, arus feminisme terus digulirkan. Dimana feminis memerupakan serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Feminisme menggabungkan posisi bahwa masyarakat memprioritaskan sudut pandang laki-laki, dan bahwa perempuan diperlakukan secara tidak adil di dalam masyarakat tersebut. (wikipedia.com)
 
Karena dalam masyarakat, derajat wanita dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Dan perempuan selalu dianggap lemah karena tugasnya hanya mengurus rumah. Dan wanita akan dianggap berdaya ketika mampu menghasilkan uang sendiri. Dengan begitu, wanita dianggap menyamai derajatnya dengan laki-laki.
Sehingga, banyak wanita yang rela tetap bekerja meski faktanya banyak sekali pelecehan dan ketidak adilan terhadap buruh perempuan. Penelitian pada paruh akhir tahun 2017, menunjukkan bahwa meski mayoritas buruh perempuan dalam sektor garmen di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta Timur pernah mengalami kasus pelecehan seksual, hanya sedikit sekali yang melapor.

Dari 773 buruh perempuan yang berpartisipasi dalam penelitian ini, 437 di antaranya pernah mengalami pelecehan seksual, dengan rincian 106 mengalami pelecehan verbal, 79 mengalami pelecehan fisik, dan 252 mengalami keduanya. Dari angka tersebut, hanya 26 orang yang berani melapor. Alasan para buruh perempuan tidak melapor karena mereka merasa malu, takut, dan khawatir jika melapor pekerjaan mereka akan terancam.(theconversation.com)

Islam Menjamin Hak-hak Wanita

Syariah menetapkan bahwa posisi dasar perempuan adalah seorang ibu dan pengatur rumah; perempuan adalah ‘kehormatan’ yang wajib dijaga. Perempuan tidak dibebani tugas untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri. Untuk keberlangsungan perannya, ibu dan istri harus diberi nafkah yang cukup. Ia tidak boleh dibebani dengan kewajiban nafkah. Sebabnya, Islam mewajibkan kepada wali (ayah, suami, saudara kandung laki-laki, anak laki-lakinya) untuk menyediakan tempat tinggal, membelikan pakaian, makanan dan segala keperluan yang dibutuhkan bagi mereka.

Bahkan ketika perempuan memilih untuk bekerja, maka hal itu sah-sah saja. Karena hukum bekerja bagi perempuan adalah mubah atau boleh, selama tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Sebagai contoh, Umar bin Khatab sebagai Khalifah yang bijak telah mengangkat Syifa binti Sulaiman sebagai qadhi hisbah (salah satu jenis hakim dalam Islam). Ini membuktikan kalau wanita boleh terlibat dalam aktivitas politik. 

Selain itu ada pula hak-hak yang dikhususkan bagi wanita tapi tidak untuk pria, semisal hadhonah (pengasuhan anak.) Ada juga hak-hak khusus untuk pria yang tidak untuk wanita, seperti kewajiban jihad. Wanita diperbolehkan duduk di majelis ummah, juga boleh menjadi qadhi hisbah dan qadhi khusumat sebagaimana kalangan pria. Wanita berhak memilih penguasa dan mengoreksinya. Namun, dia tidak dibenarkan melakukan pekerjaan yang mengeksploitasi kewanitaannya, seperti menjadi Sales Promotion Girl, model iklan, atau peragawati. Semua itu demi menjaga kehormatan dan mengangkat martabatnya.

Begitu pula sejarah Islam telah membuktikan perhatian Daulah Islam terhadap perlindungan dan penjagaan kehormatan wanita. Sebagaimana kisah pria yahudi yang mengganggu muslimah di pasar bani Qainuqa, sehingga tersingkap auratnya. Wanita itu pun berteriak kepada kaum muslimin, kemudian datanglah seorang laki-laki muslim yang membunuh sang yahudi. Kemudian yahudi yang lain mengeroyok dan membunuh laki-laki muslim itu. Akhirnya, Rasulullah SAW mengepung perkampungan bani Qainuqa dan mengusir mereka dari Madinah Munawarah karena buruknya perilaku mereka.

Dengan penerapan syariah Islam yang sempurna, para wanita menjadi mulia sesuai fitrahnya. Dan uniknya, semua peran itu mereka lakukan bukan dalam rangka memenuhi eksistensi diri atau memenuhi kebutuhan hidup. Tapi berdasarkan kesadaran akan penghambaan terhadap Allah, demi meraih ridha Allah. Wallahu a’lam bisshowab.[]

Oleh: Fildareta F. Auliyah, S.Pd

Posting Komentar

0 Komentar