Peran Strategis Perempuan di Kancah Perpolitikan, Obat atau Racun?


Terpilihnya Kemala Devi Harris sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat mendampingi Joe Biden sebagai Presidennya [1], mendapat gelombang euforia kegembiraan bagi para penggiat Feminisme di seluruh dunia. Bukan rahasia lagi bahwa Amerika saat ini merupakan salah satu negara super power di dunia. Dengan Harris yang menjadi wanita pertama yang terpilih untuk memimpin negara tersebut, menimbulkan spekulasi kemenangan besar bagi perjuangan kesetaraan gender selama ini.

Dalam pidato pertamanya setelah di pastikan akan melenggang pada kursi kekuasaan pada 3 pekan yang lalu, Harris menyampaikan secara harfiah kepada seluruh perempuan di Dunia untuk bisa mengikuti jejaknya dan tidak kehilangan harapan. Harris menyatakan bahwa dirinya memanglah perempuan pertama yang berkantor di gedung putih, namun ia bukanlah pula yang terakhir. [2]

Pernyataan tersebut diiringi dengan motivasi bagi segenap anak – anak perempuan di Amerika khususnya untuk meraih apapun mimpi mereka. Tidak ada yang mustahil bahkan untuk menjadi seorang pimpinan di sebuah negara adidaya.

Pejuang feminisme bisa dikatakan bersorak gembira dan memiliki harapan besar terhadap perkembangan kesetaraan gender di seluruh dunia. Mereka telah mendorong perempuan – perempuan di dunia untuk menjadi ‘setara’ dengan lawan jenis mereka. Mereka menginginkan hak yang sama pada laki – laki maupun perempuan. Tidak ada pilih kasih dalam hal perlakuan di ranah publik, ataupun di dalam kehidupan pribadi. Mereka menilai aturan primitif yang berlaku di sebagian besar negara – negara dunia telah mengekang hak aspiratif perempuan. Sehingga hal ini harus di enyahkan, dan agar perempuan mendapatkan tempat yang seharusnya mereka dapatkan.

Pada tanggal 25 November – 10 Desember di kampanyekan sebagai hari anti Kekerasan Perempuan sedunia. Dimana selama 16 hari ini tidak boleh terjadi tindak kekerasan kepada perempuan atas nama HAM dan perlindungan perempuan. Mengapa rentang waktu tersebut dipilih?

Karena 25 November merupakan hari internasional penghapusan kekerasan terhadap perempuan, sedangkan tanggal 10 Desember ialah hari Hak Asasi Manusia internasional. Sehingga rentang waktu ini dipilih untuk menghubungkan keduanya dan menghapuskan selama – lamanya kekerasan terhadap perempuan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. [3]

 Namun, pada faktanya kekerasan perempuan kian hari kian bertambah dan bukan justru berkurang. Di Amerika Serikat sendiri kasus serangan seksual terjadi setia 98 detik. Statistik dari jaringan Nasional Pemerkosaan, Penyalahgunaan dan Incest (RAINN), yang berkantor di Washington D.C melaporkan sekitar 80.600 tahanan, 18.900 personel militer, 60.000 anak – anak, dan 321.500 warga sipil menderita kekerasan seksual atau perkosaan di AS setiap tahun.

Sebanyak 90% korban adalah perempuan, menurut RAINN. [4]

Di Indonesia sendiri, Catatan Akhir Tahun (CATAHU) Komisi Nasional Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) 2020 menyebut bahwa sebanyak 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia terlaporkan pada tahun 2019. Angka ini naik 6% dari tahun sebelumnya berjumlah 406.178 kasus. [5]

Angka fantastis ini bukanlah lagi bernilai satu atau dua kasus namun sudah ratusan ribu kasus. Yang lebih miris lagi, sudah menjadi rahasia umum bahwa kasus tindak kriminal adalah sebuah fenomena gunung es, dimana yang terlihat jauh lebih kecil dari apa yang tidak tampak terlihat. Seperti kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan ini, sesungguhnya kasus yang tidak terlaporkan dan tidak diketahui jauh lebih banyak dari kasus yang tercatat itu sendiri.

Agama selalu menjadi kambing hitam atas kasus – kasus kekerasan terhadap perempuan. Agama dituding menjadikan kaum laki – laki lebih mendominasi daripada kaum perempuan. Aturan – aturan agama yang dinilai diskriminatif dikebiri. Perempuan didorong untuk melakukan apa yang bisa dilakukan laki – laki seperti pergi keluar rumah untuk mencari nafkah.

Perempuan yang mentaati aturan agama dinilai konservatif dan belum ‘tercerahkan’. Kita seolah – olah dipaksa untuk menerima pemikiran yang menyesatkan bahwa agama adalah sumber kekerasan yang terjadi pada perempuan selama ini.

Silahkan di telaah lebih jauh lagi, ketika beberapa dekade ini kita mendapati trend perempuan pekerja dikalangan masyarakat global. Apakah kehidupan perempuan jauh lebih sejahtera atau justru mendapatkan kehidupan yang eksploitatif?

Trend perempuan pekerja ini sejalan dengan trend peningkatan kekerasan seksual dan pelanggaran HAM bagi perempuan, pun juga sejalan dengan trend peningkatan perempuan frustasi secara mental yang mengakibatkan tekanan pada perempuan dalam kehidupan sehari – harinya.

Dorongan agar perempuan lebih mandiri secara finansial menciptakan keruwetan terhadap pengaturan ketenaga kerjaan. Angka pengangguran bagi kalangan laki – laki juga semakin bertambah salah satunya juga disebabkan oleh hal ini. Perempuan yang dinilai lebih sabar dan teliti dibandingkan laki – laki telah menggeser kesempatan laki – laki untuk mendapat pekerjaan yang sama. 

Pihak koorporasi juga diuntungkan oleh hal tersebut mengingat gaji karyawan perempuan memang masih dibawah standar gaji karyawan laki – laki. Sakit namun tidak berdarah, itulah kondisi mengenaskan para perempuan pekerja saat ini.

Mampukah seorang pemimpin perempuan mengubah keadaan tersebut? Dan menjamin kerterlindungan perempuan dari kekerasan yang di alaminya selamanya? 

Secara emosional, tentulah seorang pemimpin perempuan jauh akan memahami kondisi menyedihkan yang dialami oleh perempuan – perempuan diseluruh dunia. Dan juga secara keberpihakan tentu saja pemimpin perempuan tersebut juga akan menciptakan regulasi yang menurutnya akan lebih menyejahterakan perempuan. Namun kembali lagi, apakah pemimpin perempuan tersebut sudah berada di jalur yang benar dalam memahami permasalahan sejati perempuan? Dan apakah pemimpin perempuan tersebut mampu melawan regulator sistem yang bisa dapat menghambat langkahnya kapanpun suatu aturan melenceng dari jalurnya?

Permasalahan sejati perempuan adalah terletak pada tidak ditempatkannya perempuan sesuai dengan fitrahnya. Konsep perempuan mandiri bukanlah sesuatu yang bisa mensejahterakan perempuan. Justru hal tersebut menimbulkan kekacauan kehidupan seperti yang terjadi saat ini.

Islam telah memuliakan perempuan bahkan tanpa konsep perempuan pekerja yang mandiri secara finansial. Islam menempatkan surga dibawah telapak kaki perempuan, islam menjadikan anak – anak perempuan sebagai penghantar ke surga bagi laki – laki beriman, dan islam menyatakan bahwa perempuan adalah sebagai penggenap agama bagi laki – laki.

islam menempatkan perempuan di posisi terhormat di sisi laki – laki, yaitu sebagai sahabat dan bukan di bawah atau di atasnya. Kemulian perempuan di dalam Islam ini sangat di agungkan dan di jaga. Aturan pemberian nafkah yang diwajibkan atas laki – laki dan bukannya dibebankan kepada perempuan merupakan bukti bahwa Syariat Islam sangat melindungi dan mengayomi perempuan. 

Bukan pula berarti bahwa perempuan yang tergantung secara finansial dengan pihak lain merupakan tanda kelemahan. Namun disini jelas, bahwa islam menempatkan segala sesuatu sesuai proporsi nya. Perempuan akan mendapatkan lebih banyak waktu untuk beribadah dan sekaligus tidak akan mendapatkan beban dan tekanan yang disebabkan oleh pekerjaan yang mengikat. Dan bekerja bagi perempuan bukanlah dihukumi haram, namun mubah selama pekerjaannya tidak bertentangan dengan hukum – hukum Islam.

Masa kejayaan Islam telah membuktikan bahwa perempuan – perempuan yang hidup di zaman – zaman itu mendapatkan kehidupan yang lebih sehat dan lebih intelektual. Perempuan – perempuan pasa masa itu telah menghasilkan maha karya yang turut menyumbang perkembangan bagi ilmu pengetahuan. Dan pun perempuan boleh memegang jabatan sebagai pimpinan asalkan bukan yang bersifat kekuasaan. Seperti kepala direktur, pimpinan rumah sakit, kepala sekolah dan lain – lain. 

Aturan keberadaan mahram bagi perempuan yang hendak melakukan perjalan jauh juga tidak bisa disifati sebagai tanda kelemahan perempuan. Namun hal tersebut memang demi keselamatan dan keamanan perempuan itu sendiri. Tidak ada rasa was – was takut dijambret atau dilecehkan ketika perempuan melakukan safar bersama dengan mahramnya.

Aturan Islam sudah sangat pas dan sesuai dengan kehidupan manusia lintas zaman. Aturan itu fleksibel dan dapat diterapkan kapanpun dan dimanapun. Aturan itu sendiri memang Allah ciptakan untuk kesejahteraan manusia itu sendiri. 

“Dan hendaklah kamu berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayaimu atas sebagain yang Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Allah turunkan) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka karena dosa – dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang – orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik dari Allah (dalam menetapkan hukum) bagi orang – orang yang yakin” (TQS. Al Maidah : 49-50)

Maka sesungguhnya, menempatkan perempuan pada posisi strategis di kancah perpolitikan bukanlah sebuah obat penawar bagi kesengsaran perempuan, namun ialah sebuah racun yang bermantel madu. Wallahu A’lam.


Oleh: Amsina

[1] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-54805479
[2] https://www.kompas.com/global/read/2020/11/10/083703170/pidato-kamala-harris-menginspirasi-banyak-wanita-warga-hati-saya-luluh?page=all
[3] https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-mari-menjadi-bagian-dari-kampanye-16-hari-anti-kekerasan-terhadap-perempuan-25-november-10-desember-2020
[4] https://www.aa.com.tr/id/dunia/kekerasan-seksual-di-as-dan-eropa-terus-meningkat/1401287
[5] https://www.walhi.or.id/hari-perempuan-internasional-8-maret-2020-melawan-kekerasan-sistematis-terhadap-perempuan

Posting Komentar

0 Komentar