Pengaturan Islam Terhadap Wanita


Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah ungkapan yang mungkin mewakili situasi yang dialami oleh salah seorang buruh wanita di salah satu perusahaan ternama di negeri ini PT. Alpen Food Industry (AFI) atau Aice. Sebut saja, Elitha beliau sering disapa. Mempunyai riwayat endometriosis sehingga tak bisa melakukan pekerjaan yang berat seperti mengangkat barang. Sebenarnya beliau sudah menyampaikan kepada pihak terkait, HRD perusahaan namun hasilnya nihil.

Wanita berusia 25 tahun ini sudah berusaha mengajukan pemindahan divisi kerja karena penyakit endometriosisnya kambuh. Tapi tak ada daya, perusahaan tempat ia berkerja justru mengancam akan menghentikannya dari pekerjaan jika bersikeras untuk pindah divisi. Elitha terdesak dan tak ada pilihan lain selain terus bekerja. Walhasil, dia mengalami pendarahan hebat akibat bobot pekerjaannya yang berlebihan. Elitha terpaksa melakukan operasi kuret pada Februari lalu. Hal ini berarti jaringan dari dalam rahimnya diangkat. Innalillahi.

Sarinah, Juru Bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR), yang mewakili serikat buruh Aice, menyatakan bahwa sejak 2019 hingga saat ini sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa. Hal tersebut dialami oleh buruh perempuan Aice. Di sisi lain pihak Aice telah membantah tuduhan tersebut. Perwakilan Aice, Simon Audry Halomoan Siagian, menyatakan bahwa pihaknya sudah melarang perempuan yang sedang hamil untuk bekerja di shift malam. (theconversation.com, 18/03/2020)

Sedih bercampur pilu yang kita rasakan. Deretan kejadian yang menimpa rakyat negeri ini seolah tak kunjung usai. Dan salah satu permasalahan yang senantiasa selalu ada yaitu derita buruh, tak terkecuali dengan buruh wanita. Innalillahi, kapankah semua ini akan berakhir dan membawa warna ceria? Tentunya menjadi harapan kita bersama bahwa negeri ini akan mampu menyelesaikan segala persoalan yang ada. Namun, pada faktanya jauh panggang dari api. Sulit rasanya untuk keluar dari zona keterpurukan yang makin membawa kita menuju lembah terdalamnya. 

Wanita, seraya kita melihat selalu saja menjadi korban nyata pada sistem yang diterapkan sekarang. Ia menjadi bulan-bulanan ekonomi kapitalis. Bak barang dagangan yang mampu kapan saja dijual dengan harga murah. Astagfirullah.
Sejatinya mereka mau bertaruh sampai mengorbankan jiwa raga untuk meraih pundi-pundi rupiah. Semua itu mereka lakukan karena himpitan ekonomi yang dirasa kian menyesakkan dada. Akhirnya memutuskan untuk keluar dari zona kewajibannya, yaitu rumah. Tentunya agar dapur tetap ngebul. Itulah kenyataan yang terjadi di masyarakat saat ini, belum lagi wabah pandemik ini yang belum sampai pada titik akhirnya membuat para ibu harus membantu suami untuk mencari nafkah. 

Itulah yang menyebabkan akhirnya para wanita segera keluar dari ranah mulianya. Berjuang keras di luaran sana demi bertahan hidup. Padahal, fakta lain menyebutkan bahwa kaum wanita ini selalu saja mendapat perlakuan yang tidak adil. Mereka selalu mendapatkan pelecehan di tempat mereka bekerja. Pada 2017 ada sebuah penelitian yang menunjukkan pekerja wanita dalam sektor garmen pernah mengalami kasus pelecehan seksual. Dan pada kenyataannya sedikit sekali yang melaporkan kejadian tersebut. Dari 773 responden (buruh perempuan) yang berpartisipasi dalam penelitian ini, sebanyak 437 mengalami pelecehan seksual. Ada yang mengalami pelecehan verbal, fisik dan keduanya. Sebanyak 106 buruh wanita mengalami pelecehan verbal dan 79 mengalami pelecehan fisik. Sedangkan 252 buruh wanita mengalami keduanya. Sedih, melihat kondisi seperti ini. Buruh wanita bukan hanya tersiksa secara fisik namun mereka juga terancam dari sisi kemuliaan dan kehormatannya.

Akar Masalah

Sungguh, ide kesetaraan yang selalu di lontarkan oleh para feminis nyatanya amat merugikan kaum hawa sendiri. Benar-benar sangat menyiksa para wanita. Karena mereka dipaksa secara sadar untuk keluar rumah hanya demi recehan rupiah yang didapat. 

Seluruh kejadian yang menimpa buruh wanita saat ini tidak terlepas dari sebuah aturan yang diterapkan oleh sistem saat ini. Kapitalis-sekuler menjadikan sisi materi menjadi poin utama tanpa memandang aspek yang lainnya. Serta menihilkan peran agama yang ada, artinya tak boleh agama mengatur dari sisi kehidupan manusia. Sehingga yang terjadi dapat kita saksikan bahwa wanita kembali dan akan terus menjadi santapan empuk perusahaan-perusahaan yang ada di negeri ini. Dan menjadi budak dunia yang dengan mudah di eksploitasi demi keuntungan para kapitalis.

Pandangan Islam

Pandangan Islam terkait dengan peran laki-laki dan perempuan itu amatlah wajar. Artinya sesuai dengan fitrah ia diciptakan. Saling melengkapi dan membantu antara satu dan yang lainnya dalam nuansa suami dan istri. Dan Allah tak membedakan keduanya dalam nuansa duniawi. Sebagai pembeda nyata hanya pada ranah ketakwaannya saja. Dan sejatinya itulah yang akhirnya memberikan warna sinergi antara kedua belah pihak dan tak akan pernah dimiliki oleh sistem lain. 

"Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (TQS. Al - Hujurat: 13)

Ketika seorang wanita kemudian menikah maka akan ada peran tambahan yaitu sebagai istri dan memungkinkan untuk menjadi seorang ibu. Begitu pula laki-laki sebagai seorang suami dan akan menjadi ayah bagi anak-anaknya kelak. Semua mempunyai peran masing-masing dan kewajiban yang berbeda, tentunya semua akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di Yaumil Akhir. 

“… Seorang laki-laki adalah pemimpin rumah tangga, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Ingatlah setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR.0 Bukhari Muslim)

Kedudukan Wanita dalam Islam

Kedudukan tangguh nan cemerlang dibalut dengan keimanan yang menghujam kuat dalam dada. Rasulullah Saw. bersabda: "Surga di bawah telapak kaki ibu". Dan ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang siapa yang harus dia hormati terlebih dahulu? Jawaban Rasul adalah “ibumu” untuk tiga pertanyaan yang sama. Sahabat tersebut bertanya kembali kepada Rasul dengan pertanyaan yang sama, ini adalah pertanyaan yang keempat. Kemudian Rasul menjawab "Ayahmu". MasyaAllah, begitu luar biasa tugas dari seorang wanita hingga Allah istimewakan tempat nan indah itu berada di bawah telapak kakinya. Subhanallah.

Untuk kewajiban dalam ranah domestiknya ini, negara Islam yang dibingkai dalam Khilafah akan memberikan fasilitas nan luar biasa. Tentunya semua itu ditujukan agar kewajiban tersebut berjalan dengan baik dan memudahkan bagi para wanita. Kemudian khilafah juga akan memudahkan kepada pihak laki-laki untuk mencari pekerjaan. Karena sejatinya mencari nafkah itu terletak di atas pundak para ayah. Sistem ekonomi Islam akan berusaha keras untuk memberikan atau membuka lapangan pekerjaan yang layak dan baik.  Sehingga para ayah akan konsentrasi penuh dengan pekerjaannya tersebut. Karena dalam Islam berbagai fasilitas pokok berupa kesehatan, keamanan, dan pendidikan akan dijamin oleh negara.

Di sisi lain, khilafah akan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mengentaskan kemiskinan dan akan mewujudkan kemakmuran. Selain itu, khilafah berkewajiban penuh memastikan bahwa kaum perempuan menikmati kehidupan dengan keamanan finansial. Sisi kebutuhannya akan diperhatikan dan dipenuhi seluruh kebutuhannya oleh wali mereka. Jika tidak mempunyai kemampuan untuk itu, maka negara yang akan bertanggung jawab penuh. 

Walhasil, tentunya kita merindu saat Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan kita. Begitu luar biasanya periayahan dari negara yang bertanggung jawan penuh terhadap para rakyatnya. Kemudian sisi pembagian peran nan sesuai dengan fitrah maka akan memunculkan sinergi diantara kedua dan akan membentuk generasi nan hebat dari sisi keimanan dan pola pikir. Senantiasa akan berupaya untuk memberikan maslahat kepada umat. Semoga Islam segera diterapkan dalam kehidupan ini. Tentunya perlu kerja keras dari seluruh kaum muslim agar semua itu bisa terwujud. Jadilah bagian dari perjuangan ini. Wallahu'alam bii ash-shawab.[]

Oleh: Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)

Posting Komentar

0 Komentar