Pencitraan Berkedok Agama dalam Pilkada


Menjelang Pilkada, terkait dengan politisasi agama dan money politic (politik uang) sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Bahkan hampir di setiap pemilihan (Bupati/Wali Kota/Gubernur dan Presiden/Legislatif) selalu tercium dan terkabar praktek politisasi agama dan uang serta sejenisnya seperti sembako. Tujuannya tentu saja untuk mempengaruhi para pemilik suara.

Bawaslu dan Panwaslu yang bertugas mengawasi jalannya proses pemilihan agar bersih dan bebas dari politisasi itu memang sudah bekerja, tetapi hasilnya masih terasa kurang maksimal. Mereka memang kadang juga berhasil menemukan dan membuktikan adanya politik uang, tetapi banyak juga yang lolos. Sehingga yang paling utama adalah kesadaran masyarakat agar memilih yang terbaik dengan mengesampingkan unsur agama dan uang. (https://www.hariansib.com/detail/TajukRencana/Menghindari-Politisasi-Agama-dan-Uang-Pada-Pilkada)

Politisasi agama menjelang pilkada jelas menjadi salah satu cara ampuh bagi para paslon menarik perhatian rakyat, padahal tujuannya hanya sekedar pencitraan di depan rakyat. Seperti halnya yang terjadi di negara adidaya Amerika Serikat yang salah satu capresnya menggunakan trik tersebut untuk berkampanye sebelum akhirnya terpilih menjadi presiden, beliau mengutip hadis Rasulullah SAW dan itu menjadi daya tarik dalam memikat hati rakyat khususnya umat muslim.  

Itulah salah satu bukti nyata bahwa sekarang untuk memilih para calon pemimpin mereka menjadikan Islam sebagai ajang pencitraan serta mengatasnamakan Islam demi kepentingan politik.

Tak hanya politisasi agama saja, dalam sistem demokrasi memang banyak hal-hal yang menjanjikan kesejahterahan rakyat. Seperti saat ini, menjelang pilkada (kepala daerah). Para paslon berlomba-lomba dalam merebut hati rakyat untuk bisa duduk di kursi pemerintahan. Terutama bagi rakyat kecil dengan mudahnya terpengaruh oleh janji yang belum pasti akan mensejahterahkan rakyatnya.

Wajah-wajah para paslon berusaha menarik simpati rakyat dengan janji-janji yang disampaikan seperti kesehatan gratis, pendidikan gratis, lapangan kerja, sembako gratis dan sebagainya. Namun masih saja sebagian rakyat terperangkap dalam isu-isu yang di janjikan oleh masing-masing  paslon.

Dan dana yang dikeluarkan oleh para paslon pun tidak main-main bahkan bisa mencapai triliun rupiah demi menarik simpati rakyat yakni dengan memberikan serangan fajar pada rakyat yang masih sangat awam serta dengan mudah tertipu oleh paslon. Rakyat yang belum tahu permainan politik pastinya akan mudah tergiur oleh para paslon. Apalagi dengan kondisi saat ini yang serba kesusahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka para paslon yang mengeluarkan dana yang banyak berpeluang memenangkan kursi pemerintahan.

Inilah sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan saat ini, menjanjikan kesejahterahan namun itu hanyalah permainan politik yang katanya dari rakyat, untuk rakyat. Tetapi sebenarnya dari rakyat untuk kepentingan penguasa, suara rakyat hanya sebagai penggembira kemenangan para paslon dalam dunia politik.

Padahal menurut pandangan para pembenci, framing Islam itu negatif seperti dijuluki Islam teroris, radikal, dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa Islam hanya dijadikan bahan untuk memenangkan kursi pemerintahan.

Sistem khilafah menjauhkan politisasi agama, karena politisasi merupakan cara para pengemban demokrasi untuk memikat hati rakyat yang sebenarnya bukan tujuan yang membawa perubahan melainkan membawa kemudharatan. Namun justru menjadikan politik berdasarkan aturan agama.

Sebagai umat sudah seharusnya kita sama-sama bangun dari ketidakadilan sistem demokrasi dengan segala bentuk kebijakan penguasa dzolim. Lihatlah sekarang ini banyak masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang tidak mampu teratasi dengan sistem hasil buatan manusia seperti sistem (kapitalisme-sekuler). Hidup sejatinya untuk beribadah kepada Allah SWT salah satunya memperhatikan setiap makhluknya yang bernyawa. Bukankah manusia itu harus saling membantu satu sama lain.

Sistem demokrasi saat ini memang menelan banyak kekecewaan rakyat terhadap penguasa karena metode yang diterapkan adalah metode penjajahan, indikatornya perusak maka tak heran jika problema yang terjadi tidak akan pernah mampu teratasi, dan satu-satunya jalan keluar dari segala bentuk keterpurukan, kedzoliman, kemiskinan maupun hal-hal menyensarakan adalah dengan menerapkan sistem khilafah. 

Sistem khilafah akan berupaya semaksimal mungkin mewujudkan kesejahteraan rakyat yang akan ditopang oleh negara dengan sistem Islam sehingga tidak akan ada politisasi agama dalam berkampanye, karena Khalifah dalam institusi negara Khilafah tahu betul bahwa dirinya pelayan bagi rakyatnya. Sampai benar-benar mampu terpenuhi segala kebutuhan rakyatnya bukan hanya sekedar pencitraan tapi memang sebagai sebuah kewajiban.

Sehingga rakyat akan senantiasa diajarkan melakukan amal ma'ruf nahi munkar dan tidak akan menggunakan cara kotor seperti politik uang maupun politisasi agama dalam rangka mendapatkan kursi pemimpin. Pemimpin dalam sistem Islam yakni Khalifah akan selalu tunduk kepada hukum syara’, dan para generasi mudanya pun akan terbentuk karakter pemimpin yang mulia karena didukung oleh sistem yang terjaga dari semua aspek, yakni Islam. Wallahu alam bishowab.[]

Oleh: Milda, S.Pd, Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar