Pakar Parenting Islam: Fitrah Perempuan Harus Kembali, Kelembutan Harus Terus Ada



TintaSiyasi.com-- Menanggapi kejadian seorang selebgram perempuan yang membunuh ibu kandungnya, Pakar Parenting Islam Zulia Ilmawati menilai perempuan harus dikembalikan sesuai fitrahnya.

"Fitrah perempuan harus dikembalikan. Perempuan yang tugas utamanya sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dengan kelembutan yang melekat padanya harus terus ada," tuturnya kepada Tintasiyasi.com, Jumat (20/12/2020).

Menurutnya, fitrah itu akan tetap melekat jika memiliki keimanan yang kuat, berpegang teguh pada syariat, menjadikan cara berpikir dan berbuatnya terus terikat dengan aturan Islam. Baginya sangat menyedihkan ketika seorang anak perempuan membunuh ibunya dengan sadis. "Menyedihkan, memprihatinkan, biadab," sesalnya.

Ia meyakini tidak ada ajaran agama mana pun yang membolehkan membunuh, apalagi Islam. Ia menjelaskan, Islam melarang membunuh tanpa alasan syari dan mengganjar pelakunya dengan neraka jahannam.

Namun, ia menyadari saat ini aktivitas membunuh menjadi hal yang lumrah untuk menyelesaikan masalah, baik membunuh diri sendiri (bunuh diri) atau pun membunuh orang lain. 

"Tentu ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Terlebih seorang anak yang membunuh ibu kandungnya sendiri. Fenomena mencengangkan, yang terkadang karena masalah yang sepele. Apalagi seorang public figure yang melakukan, bisa di tiru yang lainnya," jelasnya.

Menurutnya, perilaku ini sudah melampaui batas. "Apalagi jika tak sekedar membunuh, tapi disertai dengan kesadisan seperti mutilasi, dan sebagainya," lanjutnya.

Kasus ini, menurutnya tidak bisa disimpulkan dengan istilah psikopat atau mengalami gangguan kejiwaan, ada banyak faktor penyebab yang dapat mempengaruhi.

Pertama, faktor internal dan eksternal. Ia mengatakan, dalam melakukan pendidikan pada anak menjadi penting untuk memperhatikan, pola pengasuhan atau lingkungan yang memang sudah berkaitan erat dengan kekerasan. 

Karena menurutnya, terbiasa 'terpapar' dengan bentuk kekerasan membuat anak memiliki pola pikir bahwa tindakan kekerasan tersebut adalah hal yang biasa atau wajar. Ia memisalkan lingkungan dengan kekerasan, sehingga anak menilai bahwa melakukan kekerasan itu hal wajar.

"Apalagi, ditambah dengan seringnya seorang anak menonton tayangan yang menggambarkan kekerasan. Selain dari lingkungan, orang tua yang kerap berlaku kekerasan juga bisa memengaruhi nilai 'kewajaran' terhadap kekerasan itu sendiri pada anak," bebernya.

Kedua, faktor psikologis. Menurutnya, dapat menjadi pengaruh anak berperilaku kekerasan, membuat empati seorang anak tidak dapat berkembang secara baik, merasa jika tindakan kekerasan ini hal yang wajar, dan empatinya tidak berkembang secara optimal. 

Sehingga, katanya, tidak ada rasa penyesalan atau sedih karena menyakiti orang lain. Selain itu, jelasnya, paparan terhadap tindakan kekerasan juga dapat menyebabkan gangguan mental ketika menginjak dewasa.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini pada anak. "Agar memiliki keimanan yang baik yang akan memandu cara berpikir dan berperilakunya dalam menyelesaikan masalah. Mengenal halal dan haram, bagaimana harus bersikap dan berbuat," pungkasnya.[] Dewi Srimurtiningsih

Posting Komentar

0 Komentar