Pakar Parenting Ideologis Ungkap Miskomunikasi Suami Istri Ancam Keutuhan Rumah Tangga




TintaSiyasi.com-- Pakar Parenting Ideologis Ustaz Iwan Januar mengungkapkan, miskomunikasi suami istri bisa mengancam keutuhan rumah tangga. 

"Komunikasi suami istri tujuannya untuk  tafahum (saling memahami). Tidak sinkronnya pasangan dalam memahami atau menyampaikan suatu pesan bisa mengakibatkan salah tafsir. Bahkan bisa menimbulkan masalah yang lebih besar lagi, yaitu mengancam keutuhan rumah tangga," tuturnya dalam Kajian Online Bahasa Cinta Suami Istri, di kanal Youtube Peradaban Islam ID, Selasa (1/12/2020). 

Ia menambahkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait komunikasi dengan pasangan. "Pertama, komunikasi dengan cara ahsan (baik). Kedua, memerhatikan adab dalam komunikasi. Ketiga, qaulan sadid (perkataan benar dan lurus), yaitu wajib memerhatikan isi pembicaraan," ujarnya. 

Ia menyampaikan, berdasar riset, 70 persen hidup kita digunakan untuk komunikasi. Menurutnya, hal tersebut menjadikan peluang, seseorang untuk mendapatkan pahala atau dosa. "Begitu pun melalui komunikasi bisa merekatkan atau meretakkan hubungan suami istri," tandasnya.

Selanjutnya ia menuturkan bahwa komunikasi sejatinya tidak hanya berupa komunikasi verbal. Ia mencontohkan bahwa komunikasi juga bisa berupa non verbal, seperti sentuhan, belaian, usapan, dan sebagainya. 

"Bahasa tubuh seperti anggukkan kepala, mata berbinar, badan yang ditegakkan mempengaruhi pola komunikasi kita. Begitu pun nada dan intonasi bicara sangat berpengaruh terhadap konunikasi. Karena komunikasi merupakan ekspresi dari perasaan dan pikiran," terangnya. 

Ia mengungkapkan, banyak rumah tangga hancur karena masalah komunikasi yang tidak tepat. "Sehingga ada beberapa hal yang harus dijaga dalam komunikasi suami istri, yaitu pertama, sampaikan perkataan yang baik dan benar. Kedua, menjadi pendengar yang baik. Ketiga, nada bicara yang lemah lembut. Keempat, sekuat tenaga hindari perdebatan," bebernya. 

Menurutnya, untuk menjaga dan merawat pernikahan tidak dengan mencari-cari kesalahan pasangan. Lebih lanjut ia tegaskan bahwa suami memiliki tanggung jawab untuk mendidik istri.

"Ketika kita mendapati suami yang belum paham agama, maka istri wajib taat selama perintahnya ma'ruf atau tidak bertentangan dengan hukum syara. Adapun jika apa yang diperintahkan suami bertentangan dengan hukum syara, maka ingatkan suami dengan cara ahsan seperti dengan memberi buku bacaan, mengajak ke kajian, atau dengan mendoakan agar suami mendapat hidayah untuk taat dengan hukum Allah," pungkasnya. Reporter: Annisa Fauziah, Editor: Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar