Pakar Ekonomi Islam Ungkap Ekonomi Indonesia di Tahun 2020 Minus



TintaSiyasi.com-- Menanggapi pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2020 yang berjalan tidak sesuai harapan, Pakar Ekonomi Islam Dwi Condro Triono, SP.,M.Ag.,Ph.,D., mengungkapkan perekonomian Indonesia di tahun 2020 mengalami minus.

"Yang terjadi justru perlambatan ekonomi. Ekonomi malah mengalami pelambatan yang luar biasa, tidak ada pertumbuhan ekonomi, akhirnya harus diumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi mengalami minus," ungkapnya dalam Refleksi 2020 dan Outlook 2021, Sabtu (26/12/2020) di kanal YouTube Dakwah Pamulihan.

Dia mengatakan, walaupun selama masa pandemi Covid-19 Indonesia tidak menerapkan lockdown secara resmi namun saat memasuki bulan Maret, April dan Mei perekonomian malah mengalami perlambatan atau bahkan hampir berhenti secara total.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, sejak awal perjalanan ekonomi Indonesia di tahun 2020 memang sudah cukup mengkhawatirkan. Dia mengatakan di tahun 2019 sebebelum masuk 2020 saja para pakar ekonomi sudah memprediksi bahwa Indonesia akan memgalami krisis ekonomi.

"Kenapa? Karena pola-pola yang terjadi di tahun 2020 itu mirip dengan pola yang terjadi di tahun 1997/1998. Yaitu apa? Yaitu ketika itu 1997/1998 Indonesia mulai ada gejala yaitu masuk ke jurang krisis dan itu polanya sama dengan memasuki tahun 2020, yaitu Indonesia terbebani dengan utang luar negeri yang sangat besar dan kita harus ingat bahwa utang luar negri itu dalam bentuk dolar AS," jelasnya.

Menurutnya, apa yang terjadi di tahun 2020 sama halnya dengan yang terjadi pada 1997 yaitu beban utang luar negeri yang tergolong cukup banyak yaitu di tahun 2020 tembus 5000 triliyun kalau dalam rupiah. Dia mengatakan jika utang-utang yang sangat besar, baik utang swasta maupun pemerintah itu akan jatuh tempo, maka pasti mebutuhkan jumlah dolar yang sangat banyak untuk membayarnya.

"Nah, sebagaimana hukum pasar ketika kebutuhan dolar itu sangat besar, maka sesuai hukum pasar nilai dolar itu akan meningkat. Karena permintaan yg tinggi sedangkan ketersediaan dolar itu sangat terbatas pasti akan menyebabkan nilai tukar dolar itu akan naik dan rupiah akan merosot," terangnya.

Memurutnya, jika perjalanan ekonomi sudah seperti itu maka sudah sangat jelas, perekonomian negara akan terperosok ke dalam jurang krisis yang sangat besar.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, di awal tahun 2020 pergerakan nilai tukar dolar sudah mulai terasa. "Sudah mulai tembus 15.000 rupiah, 15. 500 rupiah bahkan pernah menyentuh angka 16.000 rupiah. Ini berarti lampu kuning sudah terjadi semua sudah pada siap-siap. Nah, biasanya kecerobohan itu akan membuat masyarakat semakin panik," ungkapnya.

Ia menjelaskan, kepanikan dalam masyarakat akibat takut akan krisis ekonomi ditandai masyarakat yang tidak lagi memegang rupiah. "Mereka akan beramai-ramai menyerbu dolar. Ini kepanikan jelas akan fatal akibatnya," ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia dan termasuk ke dalam penyebab terjadinya perlambatan ekonomi, sejak awal tidak pernah diprediksi oleh para pakar ekonomi. 

"Ini yang tidak disangka-sangka karena masih di akhir Desember 2019. Awal Januari 2020 pemerintah Indonesia masih sangat optimis Covid-19 tidak masuk ke Indonesia, Indonesia negara tropis, Indonesia penduduknya kebal-kebal, sangat yakin Indonesia tidak akan terserang Covid," pungkasnya.[] Rasman 

Posting Komentar

0 Komentar