Nasionalisme, Menambah Derita Muslim Rohingya



Langkah Bangladesh memindahkan Muslim Rohingya ke Bhasan Char, sebuah pulau terpencil di Teluk Bengal, di Chattogram, Bangladesh, pada 4 Desember 2020 menuai kritik. Pasalnya Pulau Bashan Char yang akan ditempati dianggap tidak layak. Selain terpencil, pulau dataran rendah itu juga berbahaya karena rentan dilanda banjir dan diterjang topan (merdeka.com,5-12/2020).

Otoritas Bangladesh menyebut bahwa mereka hanya memindahkan para pengungsi yang bersedia pergi dan bahwa pemindahan ini akan mengurai masalah kelebihan kapasitas di kamp yang dihuni oleh lebih dari satu juta orang Rohingya. Namun, dua pengungsi yang dipindahkan berbicara kepada Reuters bahwa nama mereka muncul di dalam daftar tanpa persetujuan mereka terlebih dahulu, sedangkan pekerja kemanusiaan mengatakan bahwa para petugas menggunakan ancaman dan bujukan untuk menekan para pengungsi agar mau pergi (merdeka.com, 4-12/2020).

Langkah relokasi Bangladesh ke pulau Bhasan Car yang disebut oleh Yanghee Lee (Penyidik khusus Komisi HAM PBB untuk Myanmar) kemungkinan tidak layak huni dan bisa memicu krisis baru, menunjukkan Bangladesh masih setengah hati mengurusi Muslim Rohingya. Padahal Bangladesh adalah negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam pandangan Islam, sesama kaum muslim bersaudara. Sehingga sudah seharusnya sesama kaum muslimin saling memberikan perlakuan yang terbaik kepada saudaranya.

Namun nampaknya Nasionalisme telah menggerus rasa persaudaraan ini. Bagi Bangladesh, muslim Rohingya adalah bagian dari bangsa Myanmar. Status keberadaan mereka di Bangladesh hanya sebagai pengungsi, bukan saudara yang harus diberikan pelayanan yang terbaik.

Dari sini sangat terlihat konsep nasionalisme atau negara bangsa telah menghancurkan ukhuwah islamiah diantara sesama muslim. Padahal Nabi Muhammad Saw bersabda:

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.
Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.
Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat." (HR.al Bukhari)

Nasionalisme hanya menambah derita Muslim Rohingya. Karena nasionalisme lah rasa persaudaraan diantara sesama Muslim menjadi hilang. Tersebab nasionalisme pula, nasib muslim Rohingya seperti sebuah pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Maka tak ada lagi alasan bagi umat Islam untuk segera mencampakkan nasionalisme dan mewujudkan kembali ukhuwah Islam seperti yang disabdakan Nabi. Namun Persatuan ini hanya akan terwujud bila umat Islam berada dalam satu naungan kepemimpinan institusi. Institusi inilah yang disebut khilafah.[]


Oleh: Agu Dian Sofiyani, S.S

Posting Komentar

0 Komentar