Muhasabah Risalah Akhir Tahun


Akhir-akhir ini dengan tingginya intensitas curah hujan yang terus menerus terjadi di penghujung tahun 2020. Salah satu yang mengakibatkan bencana banjir telah menggenangi rumah-rumah pemukiman warga bahkan bencana ini juga telah menelan korban jiwa.

Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) Kemensos, M Syafii Nasution mengunjungi korban banjir di Tanjung Selamat, Medan. Syafii berjanji bakal memberi santunan bagi ahli waris korban banjir setempat. Santunan senilai 15 juta rupiah diharapkan mampu meringankan beban dari para korban banjir. Beliau juga mengungkapkan logistik dari gudang di Palembang akan segera digeser ke Sumut.  Bencana ini bukan hanya terjadi  di Medan namun Binjai, Tebing tinggi, Langkat, Medan Maimun, wilayah Medan Helvetia dan jalan lintas Medan-Binjai. Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di ruas jalan Medan menuju Berastagi, tepatnya di Sibolangit, Deli Serdang.  Menurutnya, ini semua dampak La Nina. Dimana La Nina itu diperkirakan akhir Desember dan awal Januari itu besar. Curah hujan meningkat, 20 sampai 40 persen. (07/12/2020, news.detik.com).

Bencana yang Terus Terulang

Jika kita ingat-ingat kembali bencana demi bencana yang mengintai negeri ini. Sebagaimana yang terjadi diawal tahun 2020 dan kini diujung tahun seolah-olah bencana telah memberikan sinyal kuat kepada manusia. Lalu, apa yang menyebabkan banjir ini terjadi? Lantas serta merta kita hanya menyalahkan curah hujan yang turun? ataukah ada faktor lain yang menyebabkan ini terjadi? Bukankah hal ini terjadi berkaitan dengan kaidah kausalitas dengan indikasi sebab dan akibat.

Dengan menyaksikan banjir yang menggenang rasa keprihatinan atas musibah banjir di Sumut saat ini tidak hanya milik para korban saja namun juga semua masyarakat Sumut khususnya dan yang paling utama adalah yang berasal dari pemerintah. Sebab pemerintah yang bertanggung jawab penuh terhadap seluruh rakyat yang dipimpinnya bisa jadi bencana yang terjadi sebagai sinyal kuat teguran akibat ulah tangan manusia atas kemaksiatan yang terjadi di negeri ini.

Penyebab Sumber Bencana

Dan begitu pula pemberian bantuan kepada para korban banjir memang sudah menjadi tanggung jawab negara. Secara lebih dalam mereka bukan hanya sekedar korban bencana namun juga korban kemaksiatan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme-sekuler. Sebab di sistem kapitalisme sekuler, penguasa lebih mengutamakan para pengusaha dibandingkan rakyatnya. Misalnya dari pembangunan begitu pesat, namun jika tidak dibarengi tata kota yang baik, akan menghambat air untuk meresap ke tanah kemudian pengelolaan drainase buruk sehingga tidak mampu mengalir dengan semestinya. Kerusakan alam seperti penebangan pohon yang terus terjadi hingga hilangnya daerah resapan air. 

Apalagi setelah disahkannya UU Omnibus Law yang membuka kran kebebasan para investor untuk berinvestasi sehingga kerusakan lingkungan pun tergadaikan demi kepentingan korporasi berdasi yang telah berhasil mengikat penguasa negeri. Terkhususnya di kota Medan sering berulahnya elemen-elemen pejabat negeri yang sering tak singkron antara janji dengan implementasi sering terjerat KKN. Maka seperti inilah bila menduduki kursi, namun tidak ahli mengayomi rakyat, berambisi akan kekuasaan semata hingga sifat amanah menjadi barang langkah bagi penguasa negeri, hingga jebolan yang dihasilkan menjamurnya koruptor berdasi dan begitu pula RUU yang dibuat hanya demi melindungi para korporasi hingga rakyat terus tersungkur ,sehingga bencana demi bencana akan terus terjadi. 

Oleh karena itu para pengamat, tokoh intelektual dan tokoh ulama sekalipun harus kritis terhadap penyebab permasalahan bencana di Indonesia khususnya di kota Medan sebab pada dasarnya alam semesta senantiasa memiliki hubungan keruhanian terhadap Penciptanya. Namun sayangnya sekulerisme telah membuat cara pandang pemerintah melulu terpisah dari aqidahnya sehingga membatasi hanya sesederhana bagian dari fenomena alam tanpa melihat bencana sebagai sebuah teguran Allah atas kemaksiatan yang terjadi. 

Bertobat dan Kembali kepada Aturan Allah

Sebagaimana saat terjadi gempa bumi, Khalifah Umar bin Khattab langsung mengevaluasi ketaatan dari warganya dengan bertanya kemaksiatan apa yang sudah kalian lakukan? Dan menyuruh semua orang untuk bertobat. Sebab kehidupan manusia sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Maka hendaklah manusia mengambil pelajaran setiap bencana yang telah terjadi. 

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan manusia, agar mereka merasakan sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (QS. Ar-Rum: 41)

Oleh karena itu sudah sepantasnya untuk bermuhasabah di setiap bencana yang terjadi serta dengan menghentikan segala kemaksiatan dengan kembali kepada aturan Allah dengan tobatan nasuha senantiasa melakukan aktifitas dengan ketundukan pada perintah dan laranganNya, sebab hanya Allah al-Khaliq wa al-Mudabbir (Maha Pencipta dan Maha Pengatur). Hanya kembali kepada aturan Allah secara kaffah menguatkan kembali aqidah Islam pada benak masyarakat dan pemimpinnya sehingga bencana akan dapat dicegah.

"Dan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."(TQS. Al Araf: 96). WalLahu alam bi ash-shawab.[]

Oleh: Suci Hati, S.M., Aktivis Muslimah Medan 

Posting Komentar

0 Komentar