Momentum 212, Pakar Ekonomi Syariah: Saya Berharap Umat Menuntut Tegaknya Sistem Ekonomi Islam




TntaSiyasi.com-- Berkaitan dengan berkumpulnya umat Islam pada 2 Desember 2016 yang dikenal dengan aksi 212, Pakar Ekonomi Syariah Dr. Arim Nasim, M.Si., A.K. berharap suatu saat nanti jutaan umat akan kumpul kembali menuntut ditegakkannya keadilan ekonomi yang sesuai dengan syariah Islam. 

"Saya berharap nanti jutaan umat ini menuntut ditegakkan sistem ekonomi Islam secara kaffah. Itu harapan saya," tuturnya dalam acara A Moment to Remind Reuni Akbar 212: Muhasabah dan Ukhuwah Untuk Menyatukan Langkah Umat, Rabu (02/12/2020) di kanal Youtube Rayah TV.

Ia berharap di tengah pandemi dan krisis ekonomi yang terus berulang suatu saat umat ini bergerak bersama-sama  menuntut keadilan dengan ditegakkannya sistem ekonomi Islam. "Itu mimpi dan harapan saya di momentum 212 ini," ujarnya.

Menurutnya, sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan saat ini tidak akan bisa menyelesaikan krisis ekonomi. Sistem ekonomi kapitalis akan menimbulkan krisis dan ketidakadilan. "Oleh sebab itu, tidak akan selesai krisis ekonomi ini kalau tidak ditegakkan sistem ekonomi Oslam secara kaffah," ungkapnya.

Ia melihat alasan terjadinya aksi 212 bukan sesuatu yang tiba-tiba. Meski sifatnya reaktif, tetapi ia menilai ada sebuah momentum yaitu umat didorong dengan satu pemikiran yang sama dan perasaan yang sama sehingga memunculkan kesadaran. "Pemikirannya apa? Di sana ada pelecehan terhadap ayat Al-Qur'an. Kemudian muncul perasaan bahwa ada sebuah kezaliman. Kenapa? Karena hukum tidak ditegakkan. Bahkan seolah-olah pelakunya dilindungi. Lalu, pemikiran dan perasaaan inilah yang mendorong kesadaran mereka untuk menuntut keadilan yaitu ditegakkannya hukum," bebernya.

Dalam konteks ekonomi, ia membayangkan jutaan umat nanti  menuntut ditegakkannya keadilan ekonomi yang didasarkan pada syariah Islam. Menurutnya, umat akan disatukan dengan pemikiran bahwa krisis yang terjadi saat ini dan juga adanya pandemi ini penyebab utamanya karena pelecehan terhadap ayat-ayat Al-Qur'an di bidang ekonomi. "Ekonomi saat ini dibangun atas dasar bunga atau riba," ujarnya.

Disamping itu, ia menilai ada ketidakadilan ketika SDA diserahkan kepada swasta sehingga yang menikmati hanya segelintir orang. "Kita saksikan hari ini batubara dijual dengan murah dan diserahkan 50 ribu hektar lebih kepada swasta. Padahal seharusnya itu dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat tetapi ini justru tidak. Sehingga muncul ketidakadilan berikutnya yaitu pemerintah menjadikan sumber APBN itu dari pajak dan utang yang berbasis riba. Nah ini ketidakadilan dan kezaliman, kalau dilihat dari sudut pandang syariah islam," terangnya.

Selanjutnya, menurutnya pemikiran jutaan umat akan memunculkan perasaan seperti yang terjadi pada aksi 212 itu. "Mereka benci karena pelaksanaan sistem ekonomi saat ini adalah bentuk pelecehan terhadap ayat-ayar Al-Qur'an yang berbicara tentang masalah ekonomi sehingga nanti muncul kesadaran saperti 212 saat itu. Kesadaran untuk menuntut keadilan dengan ditegakkannya sistem ekonomi Islam secara kaffah. Itu yang kita inginkan dan kita mimpikan," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia bersama tokoh-tokoh umat akan melakukan edukasi terhadap umat agar umat memahami dan menyadari bahwa akar krisis ekonomi adalah akibat cengkraman dan dominasi sistem ekonomi kapitalis yang dikuasai oleh oligarki korporasi.

"Kalau umat sudah sadar dan memahami tentu umat akan bersatu untuk menuntut ditegakkannya sistem ekonomi islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Harapan saya, momentum 212 ini adalah momentum yang harus kita ingat untuk dijadikan momentum edukasi umat tentang perlunya penegakan sistem ekonomi Islam secara kaffah dalam sistem Islam yang juga," pungkasnya.[] Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar