Merindu Suriah



Jangan Suriah-kan Indonesia! Begitu kata-kata yang kerap dilontarkan pada mereka yang gencar mengampanyekan penegakan syariah kaffah di negeri ini. Sebegitu seramkah wajah Suriah hingga dijadikan sebuah propaganda negatif? 

Suriah kini, memang begitu buruk, mengerikan. Ini berawal dari tahun 2011, adanya kegerahan rakyat akibat kezaliman rezim Bashar Assad. Protes yang rakyat lakukan ternyata dibalas dengan pengerahan kekuatan militer, bahkan beberapa kota seperti Falluja dibom tanpa ampun. 

Perlawanan rakyat Suriah meningkat menjadi perlawanan bersenjata dengan sokongan para Mujahidin dari luar negeri. Alih-alih berusaha mencari solusi bagi kemaslahatan rakyat Suriah, negara-negara lain seperti Iran, Cina, Rusia dan Amerika Serikat justru sibuk mengurusi kepentingan politik dan ekonominya di kawasan itu. Akhirnya wilayah Suriah yang awalnya begitu indah menjadi hancur-lebur dengan kondisi rakyatnya yang memprihatinkan.

Jelaslah, bukan tuntutan penegakan syariah kaffah, apalagi Khilafah, yang menjadi sebab pergolakan di Suriah. Semua ini diakibatkan oleh kezaliman penguasa yang tak terkendali, diperparah dengan keterlibatan negara-negara asing imperialis.

Sesungguhnya, Suriah sebagai bagian dari tanah Syam adalah negeri yang istimewa bagi umat Islam. Di tanahnya tersimpan kemuliaan yang tak ternilai dengan harta. Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dan beberapa ahli tafsir lainnya menafsirkan ‘negeri yang diberkahi” dalam QS. Al-Anbiya: 71 sebagai negeri Syam. Di sana banyak para Nabi yang Allah utus, dan Allah jadikan pula sebagai tempat hijrah bagi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam -sang kholilullah-

Keteguhan muslim Suriah dan kesadaran mereka akan tegaknya syariah dalam bingkai Khilafah merupakan cerminan sabda Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Sebagian umatku ada yang selalu melaksanakan perintah Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang keputusan Allah dan mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Mu’adz berkata: Dan mereka adalah penduduk Syam.”

Bahkan dalam periwayatan yang lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa Syam adalah pusat negeri Islam (HR. Imam An-Nasa’i). Di dalamnya lahir ulama-ulama kaliber dunia, serta mujahid tangguh yang harum namanya hingga akhir masa.

Keutamaan lainnya adalah, Negeri Syam dinaungi sayap malaikat rahmat. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Kami bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang sedang menulis Al-Qur’an di pelepah kayu, kemudian Rasulullah bersabda: “Kebaikan pada negeri Syam, Kami bertanya, ‘Mengapa, Wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Karena Malaikat Rahmah (pembawa kebaikan) mengembangkan sayap di atasnya.” (HR. Tirmidzi, no. 3954)

Tanah Suriah menyimpan banyak peninggalan sejarah yang begitu berharga, tak hanya bagi kaum muslimin, namun juga bagi peradaban dunia. Sayangnya, konflik yang berkecamuk telah menghancurkan sebagian besar peninggalan tersebut. Salah satunya di Allepo, beberapa masjid bersejarah seperti Masjid Agung Allepo, Souq al-Madina, serta beberapa bangunan lainnya mengalami kehancuran.


Lalu Akan Berakhir Seperti Apakah Nasib Suriah?

Di tengah pengagungan terhadap sistem demokrasi, tak ada satupun negara demokrasi yang peduli dengan suara rakyat Suriah. Amerika Serikat yang mengaku gembong demokrasi sekalipun malah sibuk berebut kuasa di sana. Bahkan PBB yang mengklaim sebagai penjaga perdamaian dunia tak bernyali mewujudkan hak asasi rakyat Suriah untuk hidup damai di bawah tegaknya sistem Islam yang mereka idamkan.

Apa yang terjadi di Suriah semakin mengonfirmasi ambiguitas demokrasi. Sungguh, sistem ini tak memberi kebebasan yang didewakannya untuk rakyat Suriah, karena tak sejalan dengan kepentingan kapitalisme. Apatah lagi menyisakan ruang bagi tegaknya syariah, meski itu yang diinginkan oleh mayoritas rakyat. 

Suriah adalah tanah yang dirindukan dengan segala kemuliaanya. Dan umat merindukan wajah Suriah sebagaimana dulu ketika ia menjadi pusat peradaban Islam di masa Khilafah. Di sanalah berdiri perpustakaan umum pertama, serta rumah sakit sekaligus pusat studi kedokteran pertama di dunia. 

Dalam Khilafah, Suriah begitu indah, alamnya terjaga, bangunan-bangunannya tertata, penduduknya pun begitu bahagia dan sejahtera. Kelak di suatu masa, wajah Suriah yang indah akan kembali. Bahkan tak hanya Suriah, keberkahan juga akan tercurah di setiap sela bumi yang di atasnya ditegakkan syariah dengan sistem Khilafah. Inilah janji Allah Sang Maha Rahman bagi hamba-Nya yang dengan penuh kesadaran mengikatkan dirinya pada aturan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.[]


Oleh: Maya Ummu Azka

Posting Komentar

0 Komentar