Menggeser Peran Kitab Suci dari Negara Menuai Petaka


"Saya mengimbau kepada orang Islam, mulai bergeser dari kitab suci ke konstitusi kalau dalam berbangsa dan bernegara. Sama, semua agama. Jadi kalau bahasa hari ini, konstitusi di atas kitab suci. Itu fakta sosial politik,” kata Kepala BPIP Yudian. (demokrasi.co.id  17/12/2020).

Ada beberapa catatan penting terkait pernyataan tersebut yang butuh diperhatikan, terlebih bagi umat Islam, diantara:

Pertama, upaya menyekulerkan Indonesia.

Dengan adanya himbauan umat Islam bergeser dari kitab suci ke kontutusi kian memperjelas bahwa sistem saat ini tidak lagi menghendaki peran agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.  Agama hanya boleh dipandang dalam ritual pribadi. 

Kedua, menghalangi gerakan politik Islam di Indonesia.

Patut dipertanyakan mengapa himbauan serupa kian kuat berdengung di akhir empat tahunan terakhir ini. Hal ini mengindikasikan gerakan menuntut perubahan ke arah politik Islam (menerapkan syariat) Islam cukup membumi. Sedang pihak sekuler yang dijaga rezim begitu ketakutan jika pengaruh kekuasaannya terganggu. 

Bisa terbayangkan jika arus kembali pada penerapan Islam kian menguat. Ide dan kelompok sekuler kian ditinggalkan umat. Dan dukungan atas mereka kian berkurang.

Ketiga, membendung kebangkitan Islam.

Empat tahun terakhir sejak suksesnya gerakan 212 cukup menggetarkan posisi orang kafir. Betapa persatuan umat Islam adalah kondisi yang tidak diinginkan orang kafir terlebih oleh negara adidaya AS yang banyak mencengkeram negeri-negeri Islam. Bangkitnya umat Islam sama dengan kehancuran ideologi dan posisi mereka dari negeri-negeri Islam jajahan mereka.

Keempat, mempersatukan anak bangsa dengan sekulerisme hanya utopia.

Alasan yang sering didengungkan oleh para pembawa ide sekulerisme yaitu persatuan dalam keberagaman negeri ini hanya bisa terwujud dengan hukum konstitisi bukan yang lahir dari kitab suci. 

Pernyataan ini menandakan kedangkalan berfikir dalam mendalami fakta kerusakan yang ada. Logikanya jika sekulerisme atau menjauhkan peran agama mampu membuat negeri ini adil sejahtera, tentu tidak bermunculan segala keributan. Mulai dari kasus disintegrasi. Penangkapan para aktivis kritis serta tidak ada terbelahnya anak bangsa yang tiada usai justru makin menjadi. 

Namun, justru kenyataan selama negeri ini ada dan memberlakukan sekulerisme tak ada progres signifikan untuk masyarakat. Justru yang ada kezaliman demi kezaliman dipertontonkan. 

Jika demokrasi yang didamba-damba menghilangkan kezaliman tentu tak terjadi penembakan enam nyawa tanpa alasan Syar'i.

Kelima, Islam harapan penyatu dan penyejahtera.

Jika kita mau jujur keterpurukan bangsa karena efek penerapan ideologi kapitalisme-sekulerisme. Akar segala problem umat dan negara karena tidak diterapkan aturan Allah dalam kehidupan. Padahal dalam surat Thoha ayat 124, Allah telah mengingatkan

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ 

Artinya: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Jadi mustahil menjauhkan peran kitab suci (Al-Qur'an) bisa mewujudkan ketentaraan dan persatuan. Justru yang ada lubang kehancuran ini kian dalam. Maka tiada pilihan lain, menyelamatkan bangsa ini justru harus lebih dekat pada kitab suci. Allahu a'lam.[]

Oleh: Yuyun Rumiwati
(Muslimah Peduli Islam dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar